Desember adalah waktunya untuk musim salju tiba. Saat musim tersebut datang, suhu di beberapa bagian bumi akan turun drastis. Dingin akan mengungkung wilayah hingga membuat sungai-sungai menjadi es, jalanan tertutupi salju, dan tentu, pepohonan akan mati. Namun, di Jepang yang mana intesitas salju amat tinggi, ada sebuah pemandangan yang terlihat menarik. Orang-orang akan terlihat mengerumuni pepehonan di taman, dan anehnya, pohon-pohon itu tidalah mati. Daunnya masih hijau rimbun, batangnya segar, dan masih terus berbuah.

Aneh bukan, Minna-san? Seharusnya di suhu yang sangat beku, pepohonan tidak akan mampu bertahan hidup. Sehingga akan mati, menunggu musim semi datang. Tapi di Jepang berbeda, pepohonan–entah itu di sebuah taman atau perkebunan–tidak akan mati. Orang-orang akan bisa menikmati taman yang dipenuhi tumbuh-tumbuhan seperti biasanya. Itu dikarenakan sebuah teknik yang digunakan oleh orang-orang Jepang, untuk membuat pepohonan tidak mati karena salju. Teknik apakah yang dipakai orang-orang Jepang tersebut?

Teknik Yukitsuri adalah sebuah teknik yang dipakai untuk membuat pepohonan di Jepang tidak akan mati karena salju. Demi melindungi pohon-pohon ini dari terpaan salju yang bisa merusak dahan dan ranting, gunakanlah teknik Yukitsuri. Yukitsuri merupakan struktur berbentuk kerucut yang dipasang pada pohon-pohon tinggi. Biasanya, pohon-pohon yang menggunakan teknik Yukitsuri merupakan pohon yang tumbuh di area taman dan perkebunan. Karena saat salju turun, dahan dan ranting pohon biasanya akan patah karena beratnya tumpukan salju. Cara ini dipilih agar pepohonan tidak rusak selama musim dingin dan menghalau suhu beku.

Teknik Yukitsuri
Salah satu pekerja yang sedang memakai teknik Yukitsuri pada sebuah tanaman.

Cara yang dipakai adalah dengan memasang bambu pada batang pohon hingga sampai puncak. Setelahnya, tali yang telah dipasang di ujung akan dibiarkan menggelantung ke bawah. Tali-tali ini akan dieratkan hingga tidak kendur, ditambah dengan dipasang pasak di sekitaran pohon. Tali-tali ini akan membentuk kerucut dengan ukuran raksasa. Meski terlihat sangat sederhana, teknik Yukitsuri ini memakan banyak waktu dan tenaga lho, Minna-san. Untuk melindungi satu pohon saja bisa sampai memakai 800 tali! Jumlah ini dikalikan dengan banyaknya pohon yang harus menggunakan teknik Yukitsuri. Berapa banyak tali yang dibutuhkan coba?

Unsur keindahan adalah ciri khas masyarakat Jepang. Sehingga melindungi pepohonan di area taman dengan teknik Yukitsuri ini sangat diperlukan. Karena pemandangan setempat akan menjadi lebih segar karena oksigen dari pohon dan enak dipandang mata.
Saat malam tiba, lampu-lampu lazimnya akan dipasang di sekitar badan pohon. Itu menampakkan kerlap-kerlip yang sungguh memesona. Area ini pun tak jarang menjadi tempat rekreasi baru yang diincar para turis. Taman di tengah musim salju?

Teknik Yukitsuri
Tali-tali akan menahan beban dari timbunan salju dan hawa dingin.

Duh, siapa sih yang tidak ingin ke sana? Belum lagi jika salju telah turun! Benar-benar bakal cantik deh pohon ini, membuat tumpukan salju nampak berpendar karena cahaya lampu. Warna putih sewarna susu yang sebenarnya berasal dari bola-bola es tampak memancar. Itu karena adanya pencahayaan dari lampu-lampu yang ada.

Jangan lewatkan: Tahu Nggak? Novel Pertama di Dunia Ternyata Penulisnya Orang Jepang!

Teknik Tukitsuri tidak hanya dipasang untuk area taman dan sebagai hiasan saja, teknik ini pula dimanfaatkan untuk perkebunan masyarakat Jepang. Karena selama Winter, seluruh bahan makanan seperti sayuran, buah-buahan akan menurun kuantitasnya setelah musim tersebut. Akibat dari matinya pepohonan, banyaknya dahan-dahan dan ranting yang patah, mempengaruhi kualitas pohon tersebut. Bahkan harus ada yang ditanam ulang. Sehingga Yukitsuri adalah solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan satu ini. Meski sekarang ada yang lebih canggih yang dinamakan Hot House.

Teknik Yukitsuri
Keindahan dari pepohonan yang dipakaikan teknik Yukitsuri.

Sayang, tak ada catatan yang jelas sejak kapan teknik Yukitsuri dipakai untuk melindungi pohon. Konon, teknik ini telah dipakai sejak zaman Edo. Kala itu para petani berusaha melindungi pohon apel mereka dari serangan salju. Dengan demikian, apel-apel mereka masih tetap bisa dipanen setelah musim salju lewat.

Hebat bukan, Minna-san? 🙂 Kegeniusan satu ini pantas diapresiasi dengan menekan tombol share pada artikel ini. Hehe… 😀

SHARE
Previous articleHimawari, Musim Panas di Jepang yang Sangat Indah
Next articleYuk Simak Trailer Keren Game Touhou Gensou
Winata SilenceAngelo merupakan seorang penulis remaja yang lahir pada 3 September 1997 di kota Karawang. Kecintaannya terhadap diksi yang melankolis serta menyentuh mengantarkannya ke dunia kepenulisan. Pada umurnya yang masih sangat muda ini, ia berhasil meraih beberapa penghargaan sastra serta menjadi kontributor dari buku-buku puisi. Menurut Winata, dalam sebuah naskah, entah itu novel, cerpen, esai, puisi, atau sekadar kata-kata, yang terpenting adalah unsur amanat. Seperti ketajaman pada ujung mata pedang, amanat merupakan apa yang menjadi tolak ukur suatu seni. Di sanalah segala dari pemikiran sang penulis bermuara, hingga kemudian menunjukan keindahannya dengan sangat artistik.