Banyak animo masyarakat di Indonesia yang berpikiran bahwa Jepang adalah negara dimana internet merupakan hal yang selalu gratis, apalagi menimang perkara besarnya kecepatan lalu lintas gprs internet di Jepang yang digadang-gadang luar biasa cepat di sana.

Banyak pula dari orang-orang di Indonesia (terutama para remajanya) yang menjadikan ihwal tersebut sebagai suatu alasan untuk berlibur ke Jepang. Mereka menghitung keuntungan tersebut sebagai suatu pengalaman yang berbeda, mengingat kecepatan internet (wifi) di Indonesia standarnya hanya 100 MB/s.

Tidak lebih, tidak kurang, hanya segitu saja. Itu juga tidak sinkron dengan praktik lapangan (uji coba langsung) yang sebenarnya kecepatan internet (wifi) di Indonesia tidak benar-benar 100 MB/s. Melainkan sepersepuluh kecepatan tersebut bahkan tidak lebih dari 1 MB/s.

Jauh sekali jika dibandingkan dengan kecepatan internet di Jepang yang lebih dari 100 MB/s, bahkan sampai ada yang mencapai 1 GB/s. Tetapi benarkah soal pendapat yang beredar, bahwa di Jepang kita bisa dengan mudah internetan gratis dengan wifi yang tersedia di sana, kapan dan di mana saja? Berikut ulasannya.

Di ambil dari beberapa situs yang menyediakan tips dan informasi seputar Jepang, bahwa apapun yang ada di Jepang nyaris sepenuhnya bisa diakses lewat internet. Dari mulai tiket pesawat, tempat penginapan (hotel, dsb), sampai dengan biaya transportasi kereta.

Maka bagi para turis asing yang ingin lebih mudah mengakses sarana yang ada di Jepang, sebaiknya mengetahui lebih detail soal internet. Karena dikatakan, bahwa prosedur pemesanan di sana sedikit lebih ribet (jika secara langsung) bagi para wisatawan mancanegara yang terkendala oleh bahasa.

Ilustrasi smartphone Jepang dalam dunia Anime dan Manga.

Tidak semua orang-orang Jepang mengerti bahasa universal. Lantas, bagaimana solusinya? Mudah. Situs-situs internet di Jepang lumrahnya sudah disediakan dengan dua bahasa, Jepang dan Inggris, sehingga amatlah memudahkan bagi para wisatawan asing, terutama untuk mereka yang belum bisa bahasa Jepang.

Tetapi, ada permasalahan yang lain lagi. Apa jadinya jika kita tidak punya akses internet di Jepang? Ya, menjadi fakta yang mengerikan bahwa free wifi atau jaringan wifi yang gratis di Jepang tidak ada pada semua titik-titik sudut wilayah di sana. Kota-kota besar seperti Tokyo, Osaka, dan Nagasaki mungkin bisa dibilang cukup menyediakan fasilitas free wifi.

Baca Juga: Ritual Omiki – Sebuah Ritual Kuno Pemujaan Dew di Jepang

Karena biasanya sarana gratis internet di Jepang seperti hotspot free wifi diadakan pada bangunan umum seperti rumah sakit, bandara, gerbong kereta cepat (Shinkansen) dan lainnya. Dan kota-kota megapolitan seperti yang tercantum di atas terbilang lumayan bertebaran bangunan umumnya, sehingga peranti gratis internet di Jepang semacam hotspot free wifi itu bisa lebih mudah diakses.

Namun alangkah menyedihkan jika kita sedang berada di pelosok-pelosok wilayah tertentu, tidak ada satu pun instrumen gratis internet di Jepang yang dapat kita akses. Paling ada beberapa milik masyarakat setempat dan itu pasti terkunci oleh sandi.

Mencoba menggunakan kuota simcard Indonesia yang terbawa oleh smartphone pun, apakah bisa? Mengingatkan lalu lintas roaming yang dikenakan antar negara begitu mahal. Ada pula simcard lokal yang bahkan tidak bisa dipakai sama sekali di sana. Tidak ada sinyal. Hanya ada tiga cara yang bisa Akiba-chan dan Akiba-kei lakukan. Yakni sebagai berikut!

1. Membeli Simcard Lokal Jepang

Docomo Adalah salah satu Simcard lokal Jepang

Belilah satu simcard lokal Jepang yang disediakan di sana. Minna-san bisa mencari referensi dahulu sebelum berangkat. Simcard lokal Jepang mana yang pas dan sesuai dengan kebutuhan selama di sana. Pilih yang murah dengan batas kuota melebihi pemakaian satu minggu, jika seandainya Minna-san menetap selama setu minggu.

Kalau satu bulan, ya tentu pikirkanlah mana yang pas untuk satu bulan ke depan. Kuatnya jaringan, harga simcard, dan harga paket yang ditawarkan pun perlu dipertimbangkan. Minna-san juga bebas memilih ingin beli di sana ketika sudah sampai di Jepang, atau lewat online shop yang telah marak di internet sebelum berangkat.

Ketahui pula cara pemakaiannya dengan tope smartphone yang Minna-san pakai. Jangan sampai setelah beli malah tidak bisa dipakai. Selain searching di internet, Minna-san bisa tanya-tanya ke kenalan Minna-san yang sudah pernah ke sana. Anjuran dari orang yang sudah pernah ke Jepang lebih bisa dijadikan patokan, ketimbang artikel-artikel di internet.

2. Sewa Penginapan Dengan Fasilitas Free Wifi

Penginapan kecil di Jepang yang menyediakan Wifi.

Ini yang lebih mudah dari solusi pertama bagi yang sedikit-sedikit bisa berbahasa Jepang. Semua kebutuhan seperti tiket transportasi dan sebagainya bisa dipesan dahulu ketika berada di penginapan tersebut.

Gunakan internet dan pesanlah sebelum berangkat menjelajah. Kalau lupa pun bisa pesan secara langsung nanti, karena solusi ini diperuntukkan bagi para traveller yang sudah punya pengalaman di Jepang, mereka yang berwisatanya bersama tour guide atau bersama orang yang sudah punya pengalaman menjelajah Negeri Bunga Sakura. Tidak bisa berbahasa Jepang dan ingin sendirian memakai solusi ini berlibur di Jepang?

Jangan pernah lakukan! Karena riskan untuk tersesat, apalagi cakupan internet Minna-san hanya sebatas di penginapan saja. Tidak bisa akses google maps atau sebagainya ketika di luar. Mau tanya-tanya ke penduduk lokal. Mending kalau bisa bahasa inggris, kalau tidak bisa? Ya nasib deh. Berdoa terus supaya ada orang Indonesia di sana dan bisa diantar balik ke penginapan. Tehehe… 😀

3. Sewa Wifi Router

Penampakan PuPuRu Wi-Fi Router dan tempatnya.

Ini adalah solusi terakhir yang paling terbaik di antara kedua solusi di atas. Banyak sekali jasa penyewaan wifi router untuk para wisatawan asing di Jepang, dan itu sering kali membuat para wisatawan semua bingung memilih yang mana.

Tapi jangan khawatir. Ada anjuran dari saya setelah menelaah lebih lanjut soal kelebihan dan kekurangan wifi router Jepang di salah satu situs jalan-jalan.

Salah satu yang pantas disewa adalah Pocket Wi-Fi PuPuRu. Kecepatan yang ditawarkan yakni sekitar 25 MB/s. Jelas sekali lebih cepat ketimbang wifi yang Indonesia sediakan, yang mana sangat tidak sesuai dengan kecepatan yang ditampilkan. Ukuran Pocket Wi-Fi PuPuRu hanya segenggaman tangan Akiba-chan dan Akiba-kei sekalian, sangat mudah dibawa-bawa. Baterai tahan sampai 12 jam nonstop, disediakan beserta chargernya. Tersedia dua pilihan yang ditawarkan jika ingin menyewa Pocket Wi-Fi PuPuRu.

Pertama, paket Y! Mobile dengan tarif sewa 400 Yen (sekitar 50 ribu) perharinya ini cocok bagi traveller yang hanya membutuhkan paket data standar.

Kedua, AU 4G LTE! Mobile wireless router dengan no data limit 4G LTE ini akan membantu minna gila-gilaan mengakses internet tanpa berkurang kecepatannya. Cukup sisihkan 800 Yen (sekitar 90 ribu) perharinya.

Oh iya, untuk menyewa cukup dengan mengisi form online, scan paspor dan bayar melalu kartu kredit. Minna-san juga harus menentukan di mana ingin mengambil wi-fi routernya, maka wi-fi akan sampai pada alamat yang dituju. Nantinya, Minna-san akan mendapatkan sebuah ‘Prepaid Envelope’ yang digunakan untuk mengembalikan wi-fi router.

Caranya, masukan wi-fi router dalam kondisi off ke dalam ‘Prepaid Envelope’, lalu masukkan amplop tersebut ke kotak pos yang Minna-san temui. Silahkan tanya-tanya atau searching lebih lanjut untuk mengetahui cara menyewa Pocket Wi-Fi PuPuRu.

Selesai sudah artikel kali ini. Semoga membantu perjalanan Minna-san yang hendak liburan ke Jepang. Jangan lupakan soal akses internet di sana ya. Karena akan sangat mempermudah Minna-san menjelajah tempat-tempat di Negeri Bunga Sakura. 😀 Happy touring!

SHARE
Previous article5 Pasangan Anime Paling Setia yang Perlu Kamu Ketahui
Next articleGara-gara Ganti Editor, Tarik Ulur Nisekoi Masih Akan Berlanjut?
Winata SilenceAngelo merupakan seorang penulis remaja yang lahir pada 3 September 1997 di kota Karawang. Kecintaannya terhadap diksi yang melankolis serta menyentuh mengantarkannya ke dunia kepenulisan. Pada umurnya yang masih sangat muda ini, ia berhasil meraih beberapa penghargaan sastra serta menjadi kontributor dari buku-buku puisi. Menurut Winata, dalam sebuah naskah, entah itu novel, cerpen, esai, puisi, atau sekadar kata-kata, yang terpenting adalah unsur amanat. Seperti ketajaman pada ujung mata pedang, amanat merupakan apa yang menjadi tolak ukur suatu seni. Di sanalah segala dari pemikiran sang penulis bermuara, hingga kemudian menunjukan keindahannya dengan sangat artistik.