Kucing adalah hewan peliharaan yang begitu menarik bagi manusia. Bulunya yang lebat dan lembut selalu menjadi magnet bagi setiap orang untuk segera memeluk binatang lucu tersebut, apalagi tingkah pemalasnya jika sedang tidur di atas kasur atau sofa terdekat.

Selain itu, kucing juga hewan yang bersahabat dengan manusia. Tak ubahnya anjing, kucing juga bisa dijadikan teman yang setia. Ia akan menetap lama di rumah majikannya jika dirawat dengan baik serta penuh kasih sayang. Tak jarang, khalayak ramai memelihara kucing sebagai kawan sejati. Menjadikan mereka peneman sekaligus pengobat rasa galau dengan sifat manis mereka. Berkat hal tersebut, tersebar salon di kota-kota besar bahkan pelosok Indonesia yang menawarkan perawatan bagi binatang mungil satu itu.

Begitu pula dengan Jepang, negara yang selalu dikaitkan dengan hal unik dan aneh itu juga tak mau kalah, mereka menyediakan sebuah tempat khusus bagi para pecinta kucing, namanya “Cafe Kucing” atau “Neko Cafe”.

1

Mungkin, di Indonesia ini, Neko Cafe terasa sangat kurang familier. Namun, di Jepang sendiri dan masyarakat ras tionghoa lain, hal ini sudah lama ada dan sekarang telah lumrah. Eits, tapi jangan berpikiran kalau Neko Kafe adalah tempat ngopi dan ngemil di mana para waiter atau waitress-nya berwujud kucing sungguhan. Tidak, mana mungkin bisa hewan menggemaskan seperti mereka membawa nampan lantas menyajikan makanan pada meja kita. Melainkan, Neko Cafe merupakan sebuah tempat yang ditata sedemikian rupa untuk para pecinta kucing ngopi dan ngemil sembari bersenda gurau dengan kucing yang ada.

Ya, para pelanggan yang masuk ke Neko Cafe akan langsung disambut oleh banyak kucing yang lucu-lucu. Para kucing tersebut memang dilatih owner untuk manja pada tamu dan senantiasa ramah, sehingga siapapun yang datang pasti akan sangat senang dengan bercengkerama bersama mereka. Pasti akan menyenangkan ya? Andai Indonesia juga punya banyak Neko Cafe seperti itu. Kalau kita lagi bosan dan tidak ada teman yang menemani, kita sesekali bisa berkunjung ke kafe tersebut. Mengopi atau justru minum teh, mengemil keripik renyah atau makanan ringan apapun, sambil ditemani kucing-kucing cantik nan komikal. Membuat otak ini fresh sejenak dari bayang-bayang pekerjaan yang menumpuk, atau tugas sekolah yang kini menghantui.

Neko Cafe

Oh, iya. Biasanya, Neko Cafe memberlakukan aturan jam kerja yang lumayan menguras tenaga para kucing, terutama psikologis mereka. Yaitu dari semenjak kafe buka (umumnya jam 10 pagi, akan tetapi tiap kafe punya jam buka mereka sendiri dan berbeda) sampai dengan jam 10 malam hingga lebih. Oleh karenanya, dilansir dari dari situs rocketnews24 via newsonjapan pada tanggal 3 Maret 2016 kemarin, setelah Divisi Kesejahteraan Hewan dari Kementerian Lingkungan Jepang meneliti lebih dari 300 Neko Kafe yang tersebar di pelosok negeri, ditemukan hal yang mengejutkan. Bahwa hormon tingkat stres kerap muncul pada hewan di Neko Kafe yang tetap buka hingga pukul 10 malam atau lebih, dibanding dengan kafe yang memberlakukan aturan main jam 8 malam saja sudah tutup. Kasihan juga ya kalau dipikir-pikir. Kerja terus tanpa istirahat.

Untuk itu, demi menjaga kasih sayang manusia terhadap para kucing, Divisi Kesejahteraan Hewan dari Kementerian Lingkungan Jepang akan membuat peraturan baru pada awal-awal bulan Maret 2016. Owner Neko Cafe harus mempunyai izin resmi dari lembaga tersebut agar memiliki norma permanen terkait jam operasional kafe. Tentunya ihwal itu tidak mudah, mengingat ada banyak prasyarat yang mesti dipenuhi oleh Owner Neko Cafe. Dan peraturan ini katanya akan terus berkembang seiring dengan gagasan yang terbaik bagi para kucing yang ada. Weh, ternyata Kementerian Negeri Matahari Terbit itu perhatian juga atas masalah ini. Mereka melakukan tugas yang diemban dengan sangat baik dan sempurna, tak heran jika negaranya tercatat oleh dunia sebagai salah satu negara yang maju.

3

Sedikit informasi, Sejarah Neko Cafe pertama di dunia dibuka di negara Taiwan pada tahun 1998 lampau dengan nama Mao huayuan (貓花園). Mao huayuan terletak di kota Taipei, dan kafe unik ini akhirnya menjadi terkenal oleh wisatawan asing dari Jepang. Di Jepang sendiri, Neko Kafe pertama bernama Neko no Jikan (猫の時間), yang dibuka di prefektur Osaka pada tahun 2004 lalu. Bukan hanya menjadi dalang akulturasi budaya di Indonesia, bangsa tionghoa juga ternyata membawa sesuatu yang unik dengan memanfaatkan kelimpahan hayati yang ada. Kita sepatutnya mencontoh hal yang baik dari mereka, meresapnya, mempelajari, kemudian mewujudkan dalam bentuk tindakan nyata. Agar tidak hanya ras china saja yang harum namanya, namun kita juga, ras batak, sunda, jawa, bugis, atau ratusan ras lain yang nusantara punya, dapat menjunjung lebih tinggi lagi nama Indonesia di mata dunia.

Nah, bagaimana pendapat Minna-san tentang ini? 😀 Baik atau justru sebaliknya? Itu sih terserah Minna-san. Yang terpenting Minna-sana dapat mengambil hikmah dari artikel ini ya, bahwa yang terpenting adalah kasih sayang bukan soal uang. Tak peduli apakah kita akan kaya dengan begitu atau malah merugi, setidaknya kita mendapat kebahagiaan dengan menyayangi sesama makhluk ciptaan Tuhan. 🙂

SHARE
Previous articleWaifuMaster Eps. 3: Makoto Kikuchi (The Idolm@ster)
Next articleSingle Terbaru The GazettE – UNDYING Segera Rilis
Winata SilenceAngelo merupakan seorang penulis remaja yang lahir pada 3 September 1997 di kota Karawang. Kecintaannya terhadap diksi yang melankolis serta menyentuh mengantarkannya ke dunia kepenulisan. Pada umurnya yang masih sangat muda ini, ia berhasil meraih beberapa penghargaan sastra serta menjadi kontributor dari buku-buku puisi. Menurut Winata, dalam sebuah naskah, entah itu novel, cerpen, esai, puisi, atau sekadar kata-kata, yang terpenting adalah unsur amanat. Seperti ketajaman pada ujung mata pedang, amanat merupakan apa yang menjadi tolak ukur suatu seni. Di sanalah segala dari pemikiran sang penulis bermuara, hingga kemudian menunjukan keindahannya dengan sangat artistik.