Visual Kei: Masih akan berkembang kah?

Halo para pecinta musik Jepang, Kalian pasti sudah tidak asing dengan term Visual Kei kan? Setiap Googling pasti udah muncul berbagai penjelasan mengenai Visual Kei. Wiki juga sudah membuat artikel berbahasa Indonesia mengenai Visual Kei. Jadi kalian yang Music addict pasti wawasannya sudah sangat matang tentang Visual Kei. Tapi bagaimana perkembangan visual kei saat ini, inilah yang akan kita bahas disini.

Visual Kei yang sudah berkembang sejak tahun 80an merupakan pergerakan yang dilakukan oleh musisi Jepang yang mengusung penampilan dengan ciri khas Make-Up plus Gaya Rambut yang khas, dan seringnya dengan Kostum yang flamboyan. Ada juga beberapa sumber yang menyebut Visual Kei sebagagai Genre musik, dan mengaitkan nya dengan sound-sound seperti Glam Rock, Punk Rock maupun Heavy Metal. Tapi Kalian juga pasti tahu bahwa pengusung Visual Kei tidak hanya menyajikan genre-genre itu saja,  sebagai contoh yang populer, the GazettE juga memasukkan unsur-unsur yang jauh lebih luas, mulai dari alternative rock, Nu-Metal, hingga memasukan unsur electronic music. Jadi banyak yang beranggapan, termasuk band yang mengusung nya, Visual Kei bukanlah genre musik, dan lebih merupakan Subculture yang dihasilkan dari fashion itu sendiri.

di Mapofmetal.com, pulau V-Kei berbentuk sperti ini :D
di Mapofmetal.com, pulau V-Kei berbentuk sperti ini ūüėÄ

Walaupun termasuk sebuah pergerakan, tetaplah yang paling disoroti dari Visual Kei merupakan musiknya dan band-band yang mengusung scene ini. Lalu bagaimanakah kabar Visual Kei saat ini? Dengan berkembangnya musik Jepang di beberapa tahun terakhir (khususnya sejak memasuki tahun 2000an), band-band Visual Kei juga ikut berkembang, mulai bermunculan Label-label  maupun management yang menaungi artis-artis Visual Kei. Tidak seperti dulu di tahun 80an, saat itu hanya tercatat dua Label yang membantu Visual Kei untuk menyebarkan Virus nya, yakni Extasy Records di Tokyo dan Free-Will di Osaka. Berkat dua Label ini pada tahun 80an V-Kei begitu berkembang, dan memunculkan nama-nama seperti X-Japan, Tokyo Yankees, Luna Sea, Glay, By-Sexual dsb. Namun di tahun 90an scene satu ini sempat mengalami kemerosotan, yang juga berujung pada disband nya beberapa nama besar.

Sekarang untuk mengikuti Visual Kei mungkin tak semudah dulu, banyak nya band yang bermunculan sejak popularitas V-Kei kembali menanjak di tahun 2000an. Diawali oleh nama-nama yang saat ini sudah mendapatkan kesuksesan mainstream, seperti Dir En Grey, The GazettE, Alice Nine, dan D’espairsRay. Visual Kei seperti meledak dan menyebar ke penjuru Dunia, bahkan band-band yang terbentuk setelah 2004 dideskripsikan sebagai “Neo-Visual Kei”.

Popularitas ini sepertinya menjadi dua mata pisau bagi pelaku maupun penikmat visual kei. Mungkin sama halnya seperti pergerakan-pergerakan lain, yang menyematkan suatu ciri khas maupun pemikiran idealis tertentu, saat menjadi populer terjadi kemungkinan nilai-nilai itu akan berkurang, karena tidak tersampaikan dengan baik. Sebagai contoh mungkin pergerakan Grunge, yang sempat meledak hebat di tahun 90an, namun ternyata tak sampai melewati era 90an popularitasnya sudah terkikis, dan tergantikan. Begitu pula yang terlihat pada Visual Kei di awal 2000an masih ada yang mengusung Visual Kei sebagaimana layaknya ¬†awal kemunculannya. Namun ada juga yang mengatakan bahwa pada saat itu sebenarnya Visual Kei sudah bertransformasi, seperti yang ditulis oleh Neil Strauss di .¬†“The Pop Life: End of a Life, End of an Era”¬†pada tahun 1998 ¬†bahwa band-band “setelah X” lebih mengutamakan dandanan dan penampilan dibanding musik itu sendiri.

Dan banyak quote dari para tetua Visual Kei yang sudah tidak berpenampilan V-kei lagi seperti Sugizo (Luna Sea) yang mengkritik “Mereka tidak bisa menghasilkan sound yang bagus, dan musik seperti hobi bagi mereka, aku tidak bisa merasakan jiwa mereka di musiknya” (Source). Lalu Bassist Dir En Grey yang mengatakan “Jika orang-orang mengira kita Visual Kei, That’s Fine,lalu menambahakan, “Orang-orang bisa berpikir semau mereka, sejujurnya, saat kita memulai band ini dan memakai make up tebal dan hal semacamnya, sudah banyak band yang melakukannya, dan orang-orang berpikir itu keren, But not anymore,¬†haha” dari segi musik ia juga berkomentar ” Dulu Musiknya juga sangat unik, sebut saja X-Japan. Pada waktu itu tak ada dua band yang terdengar mirip; saat ini, semua malah terdengar sama.” (Source).

Sugizo (1993)
Sugizo (1993)
Sugizo
Sugizo
He was Toshiya
He was Toshiya
He is Toshiya
He is Toshiya

Mungkin ketenaran Visual Kei mebuat banyak pihak yang ingin memanfaatkannya. Banyak band yang muncul dengan dandanan yang mirip dengan band lain yang sudah terkenal, atau mengusung musik yang mirip dengan band tersebut. Band-band seperti itu sudah banyak bermunculan, dan tidak hanya di Jepang, namun juga di berbagai negara yang sudah terkena efek dari perkembangan V-Kei. Padahal bagi pelaku Visual Kei mereka berdandan agar terlihat berbeda, seperti yang dikatakan oleh Kirito Vokalis dari Pierrot and Angelo pada 2008, “Sekarang orang-orang seperti berdandan dan berpenampilan karena mereka ingin menjadi visual kei atau terlihat seperti visual kei. Mereka melakukan nya agar terlihat seperti yang lain bukan agar terlihat berebeda. Ini jelas-jelas berbeda dari apa yang kita lakukan saat memulainya lebih dari sepuluh tahun yang lalu”

Saat ini tahun 2014, merupakan sepuluh tahun dari patokan yang digunakan untuk menandai munculnya generasi “Neo-Visual Kei”, begitu banyak band yang bermunculan. Namun belum ada yang mencapai kesuksesan ataupun membuat suatu gebrakan seperti halnya pendahulunya. Bahkan banyak band-band yang hanya berumur pendek, dan memutuskan untuk disband, beberapa bulan terakhir saja nama-nama seperti SUICIDE ALI, The Sherry, PIECE, Jackman, 2nd Dyz, AWOI, CarazyShampoo, dsb mengumumkan pembubaran band mereka.

Hal-hal diatas mungkin jadi pertanda bahwa apa yang seharusnya disebut Visual Kei mungkin sudah mengalami pergeseran. Jika dilihat dari fenomenanya, dimana Sosok-sosok yang dulu pernah mengangkat dan mengusung pergerakan ini telah mendapatkan pencapaian yang signifikan dan melepas attribut nya. ¬†Lalu muncul bibit baru namun tak seperti apa yang mereka harapkan. Mungkin Visual Kei memang sudah terhenti, dan apa yang kita lihat sekarang memang bukan Visual Kei yang dulu. Jadi tidaklah salah jika ada istilah yang disebut “Neo-Visual Kei”. Sampai saat ini Neo-Visual Kei ini masih berkembang, dan jika mereka ingin meneruskan semangat pergerakan Visual Kei mungkin alangkah baiknya jika semangat untuk berbeda dan menyajikan musik yang terbaik tetap disematkan. Tidak semua band-band baru mendapatkan predikat jelek tentunya, namun dengan persaingan industri musik yang ketat, maka penampil terbaik lah yang akan mendapat tempat di hati dan telinga pecinta musik.

 

Source: NYtimes, JapanTimes