Untuk sebagian orang, ular adalah sesosok reptil yang menyeramkan. Tubuhnya yang licin dan bersisik, serta ukuran tubuh besar yang dimiliki beberapa jenis tertentu memang membuat ular terlihat menyeramkan. Apa Akiba – chan dan Akiba – kei juga ada yang takut ular? Nah, di Jepang ada youkai yang bersosok ular besar. Ia disebut Uwabami.

蟒蛇 (Uwabami) memiliki arti Ular Raksasa. Ia juga sering dikenal sebgai Orochi dan Daija. Memang, jika dilihat sekilas, uwabami hanya seperti ular biasa dengan ukuran yang luar biasa besar. Dia membuat sarang di tengah hutan, yang jauh dari jangkauan manusia.

Karena tubuhnya yang besar, porsi makan sosok ini juga terbilang besar. Dia bisa memakan sesuatu yang lebih besar darinya. Siluman satu ini sangat senang dengan alkohol. Ia bisa minum sake dalam jumlah yang sangat banyak.

Manusia juga termasuk dalam daftar makanannya. Ketika ingin memakan manusia, uwabami biasanya akan menunggu di dalam hutan yang ada di dalam gunung. Ketika ada manusia yang akan melewati gunung dan bertemu dengan youkai itu, maka sang ular raksasa akan langsung menelannya. Hidup – hidup. Secara utuh.

Salah satu cerita tentang Uwabami yang paling melegenda datang dari Danau Ōnuma, Perfektur Nagano.

Cerita ini bermula dari sosok Uwabami yang tinggal di Danau Ōnuma. Setiap tahun, ia akan berubah sosok menjadi pemuda tampan untuk melihat bunga sakura di timur. Tetapi tahun itu berbeda. Ia merubah sosoknya menjadi pria tampan untuk memata – matai seorang putri cantik, yaitu Putri Kuro.

Putri Kuro adalah putri dari seseorang yang berkuasa di Provinsi Shinano, Takanashi Masamori. Sang putri yang merasa diperhatikan pun akhirnya sadar akan kehadiran pemuda tampan tersebut. Mereka berdua pun akhirnya berkenalan dan bibit – bibit cinta tumbuh.

Merasa bahwa mereka mungkin memang jodoh satu sama lain, Sang Daija akhirnya memberanikan diri untuk datang ke kastil Takanashi Masamori.

“Saya ingin melamar putri anda.” Begitu maksudnya.

Pemuda itu memperkenalkan dirinya sebagai ular raksasa yang tinggal di Danau Ōnuma sebagai penjaga Daratan Shiga.

Takanashi Masamori tidak setuju. Ia tidak akan pernah mengizinkan putrinya menikah dengan sosok yang bukan manusia. Tetapi pemuda itu tidak menyerah. Ia terus datang dan datang keesokan harinya. Lelah akan perlakuan pemuda keras kepala ini, Takanashi Masamori akhirnya membuat suatu syarat.

Ia akan mengizinkan sang putri menikah dengan si ular jika ular tersebut mampu mengimbangi berkuda dengan sang penguasa dalam tujuh putaran. Pemuda itu menerima syarat dengan wajah bahagia dan bergegas pulang untuk menyiapkan segala keperluan untuk balapan. Sayangnya, dari awal juga Takanashi tidak setuju putrinya menikah dengan dia, jadi dia juga tidak berniat untuk kalah.

Baca Juga: Futakuchi – Onna : Si Wanita Bermulut Dua

Takanashi Masamori lalu memerintahkan orang – orangnya untuk menyebarkan bilah pedang di sekitaran area lomba nanti. Ia tidak takut akan terkena senjata makan tuan karena sudah yakin dengan kemampuan berkudanya.

Hari yang sudah ditunggu – tunggu pun tiba. Takanashi Masamori benar – benar hebat dalam berkuda sampai – sampai pemuda itu tidak dapat mengikutinya. Akhirnya, dengan terpaksa ia berubah kembali menjadi ular untuk dapat mengimbangi kecepatan si penguasa tanah.

Tubuhnya tergores oleh bilah pedang yang disebar secara sengaja. Tetapi ia tidak menyerah. Ia terus memacu kecepatannya walaupun tubuhnya sudah penuh darah dan luka. Saat tujuh putaran sudah terpenuhi, sang daija akhirnya tumbang. Takanashi Masamori pun bersorak bahagia. Rencananya untuk membunuh sang ular berhasil.

Ternyata, pemuda itu tidak tewas. Beberapa waktu kemudian, ia terbangun dan melihat sekelilingnya. Melihat tidak ada satu orang pun di sana membuat ia akhirnya menyadari bahwa Takanashi telah berbohong. Dengan penuh kemarahan, ia kembali ke Daratan Shiga.

Di sana, ia mengumpulkan semua teman dan kerabat sampai ke pengawalnya. Bersama – sama, mereka semua memanggil badai besar yang ditujukan kepada Danau Ōnuma. Hujan yang lebat serta badai tanpa henti membawa bencana. Danau Ōnuma akhirnya meluap dan membuat banjir yang besar. Seluruh desa yang ada di sekitar Danau Ōnuma habis tersapu bersih oleh banjir. Tidak ada satu pun manusia atau hewan yang selamat.

Tetapi, gunung – gunung yang berdiri di sekitar Kastil tempat Takanashi tinggal berfungsi layaknya pelindung. Kastil itu tetap berdiri kokoh walaupun sekitaran Danau Ōnuma sudah menjadi bagian dari danau itu sendiri.

Sang Putri hanya bisa menatap nanar ke arah kerusakan di bawahnya dari kastil. Ia melihat banjir yang semakin meluap. Dia merasa sangat hancur akan kerusakan yang ia rasa adalah salahnya tersebut.

Sadar bahwa hanya Sang Putri yang bisa menghentikan semua kekacauan ini, ia diam – diam turun ke Danau Ōnuma seorang diri. Di sana, ia akhirnya melemparkan dirinya sendiri ke tengah banjir, dan tidak pernah terlihat lagi.

Sang Daija yang mengetahui hal itu pun akhirnya menghentikan cuaca ekstrem tersebut. Danau Ōnuma kembali ke ukuran asalnya.

Sampai saat ini, ular raksasa itu masih diingat oleh masyarakat sana sebagai penjagan Daratan Shiga. Daija Jinja atau Kuil Daija pun didirikan di dekat Danau Ōnuma untuk menghormatinya. Setiap bulan Agustus, para penduduk desan di sana merayakan Daija Matsuri untuk mengigat cerita Sang Putri Kuro.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here