Siapa sih orangnya yang tidak ingin apa yang selama ini diimpi-impikan dapat terkabul? Jika berdo’a dan berusaha sudah dilakukan, apakah ada cara lain agar harapan kita dapat dikabulkan? Pernahkah kalian mencoba menuliskan harapan kalian dalam selembar kertas lalu menggantungkannya di pohon? Seperti salah satu tradisi di Jepang yang sudah melegenda ini.

tanabata-1Festival Tanabata (Festival bintang) merupakan salah satu tradisi kebudayaan jepang yang diselenggarakan setiap tangga 7 Juli. Pada perayaan Tanabata, orang jepang memiliki tradisi untuk menuliskan harapan-harapan pada secarik kertas kecil berwarna-warni, kemudian menggantungkannya di batang pohon bambu yang diberi nama “Sasa“.  Tradisi menggantungkan kertas harapan di pohon bambu ‘Sasa‘ ini, berakhir ketika ‘Obon Matsuri‘ (Festival Arwah) diselenggarakan yaitu sekita tgl 13-15 Agustus.

Pohon bambu yang sudah digantungi banyak kertas harapan, akan dialirkan ke sungai sebagai pertanda agar kemalangan atau nasib buruk ikut hanyut terbawa oleh air dan doa segera terkabul. Penggantungan hiasan berupa secarik kertas di batang pohon bambu saat Tanabata diibaratkan oleh jepang sebagai ‘Pohon Natal Di Musim Panas (Summer Christmas Tree). Perayaan terbesar setiap tahun dilaksanakan di daerah Sendai.

tanabata2Pada hari dimana Festival Tanabata berlangsung, dipercaya bahwa bila kalian menulis keinginan di kertas kecil bernama “tanzaku” dan menggantungnya di daun bambu, maka keinginan Anda akan terkabulkan. Tradisi ini berawal dari keinginan agar bisa menulis lebih baik dan keinginan tersebut ditulis pada tanzaku. Seiring dengan zaman, tradisi ini berubah menjadi menulis keinginan sendiri.

Selain tanzaku, terdapat juga beberapa hiasan lainnya dan tiap hiasan memiliki makna. Misalnya, “fukinagashi”, yaitu kain yang dipotong tipis. Pada legenda, disebutkan bahwa Orihime sangat ahli dalam menenun kain. Maka dari itu, fukinagashi ini memiliki makna agar bisa menenun kain dengan lebih baik. Terdapat banyak hiasan lainnya selain fukinagashi. Bila kalian tertarik, cobalah cari tahu hiasan lainnya beserta makna yang terkandung di dalamnya.

Dahulu orang yang tinggal dekat laut menghanyutkan pohon tanabata ini, namun sekarang sudah tidak lagi. Dan beberapa hiasan atau aksesoris pada tanabata adalah :

Tanabata

  1. Tanzaku, kertas permohonan warna warni yang ujung atasnya ada tali kecil untuk mengikat di daun bambu.
  2. Kinchaku.
  3. Kamigoromo.
  4. Toami , hiasan dari kertas dengan cara menggunting bagian-bagian tertentu sehingga terbentuk kertas dengan lubang jajar genjang yang kecil.
  5. Orizuru, burung bangau dari kertas lipat.
  6. Kuzukago, serupa tapi tak sama dengan Toami.
  7. Fukinagashi, semacam rumbai-rumbai.

Terdapat berbagai macam legenda yang berkaitan mengenai hari Tanabata di dunia. Diambil dari salah satu cerita legenda tua china. Diceritakan, pada suatu masa hidup seorang Dewa Bintang dengan seorang putri cantik yang bernama ‘Orihime’  (Putri Rajut) yang dikenal sebagai bintang Vega.

tanabata8

Setiap hari ‘Orihime’ (Putri Rajut) berkerja merajut pakaian yang disebut ‘Tanahata’ untuk dipakai kepada sang Dewa. Hal ini membuat sang Dewa bintang  merasa cemas karena melihat putrinya yang selalu bekerja keras merajut pakaian tiada henti. Untuk menghibur hati sang putri ‘Orihime’, dewa memutuskan untuk mencarikannya teman. Akhirnya dewa memperkenalkan Orihime dengan seorang pemuda bernama Kengyuu (Penggembala Sapi) yang dikenal sebagai bintang Altair.Kengyu adalah seorang pemuda yang setiap hari bekerja sebagai penggembala sapi. Ia terkenal rajin dan ulet.

295878

Setelah Orihime berkenalan dengan Kengyuu, keduanya merasa jatuh hati. Setiap hari mereka berusaha bertemu sehingga melupakan masing-masing pekerjaannya. Orihime melupakan pekerjaannya merajut baju, sehingga sang dewa tidak memiliki baju ‘Tanahata’ untuk dipakainya. Sedangkan Kengyuu melupakan sapi-sapinya sehingga sapi-sapi tersebut banyak yang sakit.

Melihat hal ini dewa bintang sangat marah. Akhirnya dewa memutuskan untuk menjauhkan Orihime dari Kengyuu. Sang Dewa membawa Orihime (Putri Rajut) ke sebuah tempat yang dihalangi oleh sungai besar bernama Ama no Kawa (Sungai Surga – The Milky Way) agar tidak bisa bertemu dengan Kengyuu. Dipisahkan dari sang kekasih membuat Orihime bersedih dan menangis setiap hari.

tanabata-1 (1)

Sang Dewa yang merasa kasihan melihat Orihime, akhirnya mengiziknkan Orihime untuk bertemu dengan Kengyuu satu tahun sekali pada tanggal 7 Juli yang dipercaya sebagai tanggal keberuntungan. Tetapi jika hujan turun pada tanggal tersebut air sungai Ama No Kawa akan meluap, sehingga sepasang kekasih tersebut tidak bisa bertemu. Agar hujan tidak turun pada tanggal yang telah dijanjikan, tanggal 6 Juli mereka berdoa kepada dewa bintang dengan menuliskan sajak berupa harapan diatas secarik kertas warna warni yang disebut ‘Tanzaku’ kemudian menggantungkannya di batang pohon bambu.

Berdasarkan cerita ini, membuat orang jepang selalu merayakan tradisi Tanabata (Festival bintang) setiap tgl 7 Juli. Perayaan ini mulai dikenal di Jepang sejak zaman Edo (1603-1867). Pada mulanya mereka hanya ikut mendoakan agar pada hari itu cuaca cerah sehingga Orihime dan Kengyuu bisa bertemu.

0707_2

Tetapi seiring berjalannya waktu, selain mendoakan agar Orihime dan Kengyuu dapat bertemu, saat ini orang jepang terbiasa mengikuti kebiasaan sepasang kekasih tersebut, menuliskan harapan-harapan mereka di atas secarik kertas berwarna warni dan menggantungkannya di batang pohon bambu yang disebut “sasa”, agar doa mereka terkabul. Harapan-harapan itu dituliskan dalam secarik kertas berwarna warni untuk mengibaratkan bintang yang berwarna warni yaitu Vega dan Altair yang berada di galaksi bima sakti.

Tanabata dirayakan secara besar-besaran di berbagai kota, seperti: Sendai, Hiratsuka, Anjo, dan Sagamihara. Perayaan dimulai setelah Perang Dunia II dengan maksud untuk menggairahkan ekonomi, terutama di wilayah Jepang bagian utara.

Di zaman dulu, Sendai sering berkali-kali dilanda kekurangan pangan akibat kekeringan dan musim dingin yang terlalu dingin. Di kalangan penduduk lahir tradisi menulis permohonan di atas secarik kertas tanzaku untuk meminta dijauhkan dari bencana alam. Date Masamune menggunakan perayaan Tanabata untuk memajukan pendidikan bagi kaum wanita, dan hiasan daun bambu mulai terlihat di rumah tinggal kalangan samurai dan penduduk kota. Di zaman Meiji dan zaman Taisho, perayaan dilangsungkan secara kecil-kecilan hingga penyelenggaraan diambil alih pusat perbelanjaan pada tahun 1927. Pusat perbelanjaan memasang hiasan Tanabata secara besar-besaran, dan tradisi ini berlanjut hingga sekarang sebagai Sendai Tanabata.

Bagaimana? Kalian tertarik untuk mengikutinya? Kira-kira harapan apa yang akan kalian tulis?