Jika Oda Nobunaga sangat dikenal di daratan Jepang, maka Tokugawa Ieyasu pun tidak kalah terkenalnya. Mungkin beberapa dan Akiba – chan dan Akiba – kei sudah tidak asing lagi dengan namanya. Mengingat Tokugawa Ieyasu sudah sering “mampir” ke literatur modern.

Tokugawa Ieyasu lahir dengan nama Matsudaira Takechiyo di Kastil Okazaki, Mikawa. Beliau adalah anak dari Matsudaira Hirotada, seorang tuan tanah daerah Mikawa dari Klan Matsudaira, dan Lady Odai putri dari Mizuno Tadamasa. Jika ditelusuri, ayah dan ibu Takechiyo sebenarnya adalah saudara tiri. Saat Takechiyo lahir, ayahnya baru berusia 17 tahun dan ibunya hanya berusia 15 tahun.

Dua tahun setelah kelahiran Takechiyo, Lady Odai dikirim kembali ke keluarganya dan tidak bertemu Hirotada lagi. Beberapa tahun kemudian, Lady Odai dan Hirotada menikah kembali dan memiliki 11 anak.

Pada tahun 1550 keluarga tersebut berpisah menjadi dua sisi. Salah satu sisi memihak Klan Imagawa sementara sisi lainnya memihak Klan Oda. Ayah Takechiyo, Hirotada, memihak kepada Klan Imagawa. Perpisahan tersebut membuat masa kecil Takechiyo penuh dengan bahaya. Bahkan, Mitsudaira Kiyoyashu, kakek dari keluarga tersebut wafat karena pertempuran antara Klan Oda dengan Klan Imagawa tersebut.

Tokugawa Ieyasu Tosho-gu Shrine Nikko, Japan

Klan Oda berhasil menginvansi Mikawa pada tahun 1548. Saat itu, Klan Oda masih dipimpin oleh Oda Nobuhide, ayah dari Oda Nobunaga. Panik akan invansi yang menyerang, Hirotada meminta pertolongan dari kepala Klan Imagawa, Imagawa Yashimoto. Yashimoto setuju untuk membantu Hirotada dengan syarat Takechiyo (yang saat itu baru berusia lima tahun) di kirim ke Sunpu sebagai sandera. Hirotada setuju. Nobuhide yang kebetulan mengetahui ini, tidak setuju.

Menyusun rencana, Nobuhide berhasil menculik Takechiyo dari rombongannya saat akan berangkat ke Sunpu. Nobuhide kemudian mengancam Hirotada akan membunuh putranya jika Hirotada tidak memutuskan semua hubungan dengan Klan Imagawa. Akan tetapi, Hirotada membalas bahwa jika ia mengorbankan putranya sendiri, maka itu akan menjadi bukti kesetiaan beliau terhadap Klan Imagawa.

Walau mendapat penolakan yang jelas, Nobuhide pada akhirnya tidak membunuh Takechiyo. Malahan, beliau menjaganya selama tiga tahun di Kuil Mansho, Nagoya. Satu tahun kemudian, Nobuhide wafat karena serangan penyakit mewabah. Saat itu Takechiyo baru berusia enam tahun saat ia mendengar kabar bahwa ayahnya tewas dibunuh oleh pengikutnya sendiri yang telah disuap oleh Klan Oda. Wafatnya Oda Nobuhide menjadi pukulan yang hebat bagi Klan Oda. Imagawa Sesshai melakukan pengepungan. Sesshai menawarkan kepada Nobunaga bahwa ia akan menghentikan pengepungan jika Ieyasu diserahkan kepada Klan Imagawa.

Nobunaga setuju. Takechiyo pada akhirnya di bawa ke Sunpu.

KEMBALI KE ODA

Saat ia berusia 13 tahun, ia menikah untuk pertama kalinya dan mengganti nama menjadi Matsudaira Kurandonosuke Motoyasu. Motoyashu diizinkan kembali ke Mikawa dengan catatan akan melawan Klan Oda di pertempuran – pertempuran mendatang.

Motoyashu “turun lapangan” pertama kali dalam Pengepungan Terabe. Kemudian kembali mendapatkan sukses di tahun 1559 dalam Pengepungan Odaka. Satu tahun kemudian, Klan Oda kembali mendapatkan pemimpin yang cemerlang. Oda Nobunaga. Pasukan Nobunaga berhasil membunuh Imagawa Yoshimoto dalam Pertempuran Okehazama.

Baca Juga: Oda Nobunaga : “Penulis” Sejarah dari Owari

Setelah kematian Yoshimoto, Motoyoshi memutuskan untuk kembali menjalin hubungan kerja sama dengan Nobunaga secara rahasia. Hal ini dikarenakan istri dan anak Motoyoshi ditahan di Sunpu sebagai jaminan akan dirinya. Pada tahun 1561, Motoyoshi berhasil merebut Benteng Kaminojo. Ia berhasil mendapatkan anak – istrinya dan memutuskan semua hubungan kerja sama dengan Klan Imagawa. Dua tahun kemudian, Nobuyashu, putra dari Motoyoshi menikahi salah satu putri Nobunaga yang bernama Tokuhime.

TOKUGAWA IEYASU

edo-period-1

Matsudaira Kurandonosuke Motoyasu mengubah namanya menjadi Tokugawa Ieyasu pada tahun 1567. Saat itu, ia mengaku sebagai keturunan dari Kaisar Seiwa. Belum ada bukti yang menguatkan hal tersebut. Akan tetapi, pergantian nama dan marga Ieyasu telah secara sah oleh Pengadilan Imperial.

Tahun 1568, Ieyasu mulai memperluas sayap kekuasaannya. Dia bekerja sama dengan Klan Takeda dari Provinsi Kai untuk mendapatkan semua daerah teritorial Klan Imagawa. Dua tahun setelahnya, pasukan Ieyasu berhasil merebut provinsi Totomi dan pasuka Takeda Shingen mendapatkan Provinsi Suruga. Masih di tahun yang sama, Ieyasu memimpin 5000 orang pasukannya untuk membantu Klan Oda melawan Klan Azai dan Klan Asakura dala Pertempuran Anegawa.

Tahun 1571, Klan Takeda ubah haluan memihak Klan Houjo. Pasukan Takeda ingin merebut Totomi dari kekuasaan Tokugawa. Ieyasu meminta pertolongan kepada Klan Oda dan Nobunaga mengirimkan 3000 orang pasukannya. Sayangnya, pasukan Takeda lebih kuat. Ieyasu hanya mampu mempertahankan lima orang prajuritnya sampai akhir. Tetapi Takeda tidak bisa mengecap manis kemenangan karena Ieyasu berhasil mengumpulkan pasukannya lagi dengan cepat dan menolak melanjutkan pertempuran. Satu tahun setelahnya, Takeda Shingen wafat.

Pada tahun 1579, Tokugawa Ieyasu dituduh bekerja sama dengan Takeda Katsuyori atas usaha pembunuhan Nobunaga. Hal ini menyebabkan istri Ieyasu dieksekusi dan putra sulungnya, Matsudaira Nobuyasu dipaksa melakukan seppuku. Akhirnya peperangan dengan Klan Takeda selesai pada tahun 1582 di Pertempuran Temmokuzan. Takeda Katsuyori dan Takeda Nobukatsu dipaksa untuk melakukan seppuku atas kekalahan mereka.

Akhir tahun 1582, Nobunaga wafat atas penyerangan Akechi Mitsuhide. Setelah mengetahui hal itu, Ieyasu sesegera mungkin kembali ke Mikawa dengan menghindari pasukan Mitsuhide. Beberapa saat kemudia, Ieyasu meminpin pasukannya untuk membalas dendam atas kematian Nobunaga pada Mitsuhide. Akan tetapi ia terlambat, Akechi Mitsuhide sudah kalah dan dibunuh oleh Hideyoshi.

TUTUP USIA

 

Tokugawa Ieyasu wafat di tahun 1616. Saat itu ia berusia 73 tahun. Ieyasu meninggal karena terkena kanker.

Saat masih hidup, ia berpesan bahwa setelah kematiannya nanti ia ingin “didewakan” atau dipuja. Hal ini dimaksudkan untuk melindungi semua keturunannya dari hal – hal jahat. Jenazahnya dimakamkan kembali di Kuil Nikkou satu tahun sepeninggalannya. Banyak yang mengatakan bahwa jenazahnya masih ada di sana.

KESHOGUNAN TOKUGAWA

Terlahir sebagai Matsudaira, wafat sebagai Tokugawa. Ieyasu dikenal sebagai pendiri keshogunan Tokugawa di Jepang. Keshogunan ini telah berhasil memimpin Jepang dengan baik dan efektif semenjak Pertempuran Sekigahara di tahun 1600 sampa dengan Restorasi Meiji tahun 1868.