Halo Akiba – chan dan Akiba – kei~ Ini adalah kelanjutan dari tiga youkai terburuk sepanjang sejarah Jepang. Setelah membahas Shuten Douji atau Si Pemabuk, kali ini author akan membahas tentang Sutoku Tenno, atau lebih dikenal dengan nama Emperor Sutoku.

Seperti Shuten Douji, diceritakan bahwa pada awalnya Emperor Sutoku bukan lah sesosok setan, roh, apalagi siluman. Tetapi ada kejadian yang membuat beliau berubah menjadi salah satu dari mereka dan menghantui Jepang.

Kisah ini bermula saat kelahiran Pangeran Akihito, putra pertama dari Kaisar Toba, pada tahun 1119. Tetapi, sudah menjadi rahasia umum bahwa Pangeran Akihito sebenarnya adalah anak dari pensiunan Kaisar Shirakawa. Saat Akihito berusia lima tahun dan Kaisar Toba berusia 21 tahun, ayah Akhito yang sebenarnya menggunakan kekuasaan yang ia miliki untuk memaksa Kaisar Toba turun dari jabatan. Di usia lima tahu, Pangeran Akihito menjadi Kaisar Sutoku.

Semua akan menjadi lebih mudah kalau saja Toba tidak menyimpan dendam dan merencanakan pembalasan. Tetapi tidak. Pada tahun 1129, Shirakawa wafat dam Toba pun mulai menjalankan rencana. Dia memaksa menyarankan Sutoku untuk pensiun saja dari kedudukannya sebagai Kaisar dan mengadopsi putra Toba, Pangeran Narihito, untuk dijadikan Kaisar yang berikutnya.

Perjalanannya memang agak panjang, tetapi pada tahun 1142 Sang Kaisar mundur dari jabatan dan Pangeran Narihito naik menjadi Kaisar. Toba, yang tidak ingin nasib naasnya terulang kembali memutuskan untuk menghapus semua kekuasaan yang pernah Sutoku miliki. Ia mengirim seluruh pasukan dan pendukungnya ke luar kota yang jauh dan mengisi kerajaan dengan pendukungnya sendiri. Sayangnya, Konoe tidak mempunyai anak dan meninggal tanpa penerus di usia 17 tahun.

Sutoku yang melihat kesempatan ini akhirnya mencalonkan puteranya sendiri sebagai Kaisar. Sayangnya, pengadilan memutuskan bahwa Kaisar selanjutnya adalah putra ke-empat Toba, yang kemudian menjadi Kaisar Go – Shirakawa. Satu tahun kemudian Toba wafat, dan Hougen Rebellion pun pecah. Pasukan Go – Shirakawa menang, sang mantan Kaisar dibuang dari Kyoto dan diasingkan di daerah Sanuki.

Setelah pemberontakan terjadi, Kaisar Go – Shirakawa dikenal tidak memiliki ampun. Siapa saja yang menentangnya akan dieksekusi satu keluarga. Nasib Sutoku sendiri setelah diasingkan adalah menjadi seorang pendeta Buddha. Ia menulis sebuah naskah yang akan dikirimkan ke Kyoto. Pengadilan menjadi ramai. Mereka takut bahwa naskah yang ia kirimkan akan berisi kutukan sebagai bentuk balas dendamnya kepada pengadilan. Bahkan ada rumor yang beredar bahwa Sutoku menggigit lidahnya sendiri untuk kemudian menggunakan darahnya sebagai tinta dalam penulisan naskah. Hal itulah yang membuat pengadilan menolak segala jenis naskah yang ia kirimkan. Pada tahun 1164 Sutoku akhirnya wafat dengan dipenuhi perasaan terbuang dan dipermalukan. Kaisar Go – Shirakawa tidak memikirkan soal wafatnya Sutoku. Ia malah menitahkan agar tidak seorang pun yang menyesali kepergiannya atau pun menggelar upacara pemakaman untuknya.

Dari sini lah legenda itu mulai.

sutoku-tennou-watermark

Entah memang kebetulan atau tidak, banyak hal yang aneh setelah wafatnya Sutoku. Setelah 20 hari, jasad si mantan Kaisar masih dalam keadaan seperti hari di mana ia pergi. Tidak membusuk atau pun berubah bentuk sama sekali. Saat peti matinya akan dibakar dalam proses kremasi, mendadak terjadi badai besar. Para pengurus akhirnya meletakkan peti itu di tanah dan berlari mencari tempat berlindung. Setelah badai reda, batu – batu yang ada di sekitar peti itu penuh dengan darah. Setelah jasadnya di kremasi, abu turun ke Kyoto sebagai awan hitam.

 

Setelah kejadian itu, selama bertahun – tahun Kekaisaran Go – Shirakawa mengalami kemalangan. Penerus Go – Shirakawa, Kaisar Nijo, meninggal mendadak pada usia 23 tahun. Berbagai bencana alam menyerang daerah kekuasaan. Kekuasaan imperial melemah, dan Perang Genpei terjadi. Dalam lima tahun, kekuasaan dalam Pengadilan Imperial dihapuskan. Pada masa itu, semua orang percaya ini adalah bentuk pembalasan dendam dari Sutoku Tenno yang telah berubah menjadi tengu setelah kematiannya.

Akhirnya, Sutoku dikembalikan ke kampung halamannya pada Zaman Meiji dan dibuatkan kuil khusus. Kuil Takaya di Kagawa pun didirikan untuk mengabadikan salah satu batu yang terkena darah dekat peti mati Sutoku kala itu. Saat ini, rumor mengatakan bahwa pembalasan Sutoku Tenno masih ada sampai sekarang.

Youkai yang ketiga adalah Tamamo no Mae yang sudah pernah dibahas sebelumnya di Akiba Nations.