Jepang merupakan area yang padat penduduknya kurang-lebih sama dengan Negeri Tirai Bambu, China. Dikatakan, Jepang juga negara dengan masyarakat yang amat disiplin, mereka sangat menghargai waktu, seolah perputaran jarum jam seperti mata samurai yang kapan saja bisa memenggal kepala mereka satu persatu. Jadi, bukanlah suatu hal yang mengherankan, Negeri Matahari Terbit itu tergolong salah satu negara yang maju di dunia. Dan untuk alat transportasi rakyatnya, pemerintah Jepang mempunyai canangan yang cukup hebat dan jenius. Mereka menggunakan kereta api sebagai alat transportasi umum yang paling primer digunakan. Bahkan, jarang sekali yang memiliki mobil atau motor (kendaraan pribadi) di sana, mereka menggunakan kedua alat transportasi individual tersebut jika ingin mengangkut sesuatu, memindahkan perabotan rumah, mengantar barang, dan keluar kota atau menuju pedesaaan. Itu dilakukan semata-mata demi efisiensi karena meski jalur kereta mencakup seluruh pelosok kota, kereta dianggap kurang efisien untuk semacam perjalanan individu yang jauh.

Karenanya, Shinkansen atau kereta peluru tercepat di Jepang, menawarkan perjalanan publik yang terjangkau. Nyaris seluruh lapisan masyarakat perkotaan jepang ini menggunakan Shinkansen sebagai akomodasi yang paling sempurna, untuk keperluan menuju kantor bagi para pekerja kantoran, berbelanja di mall, menuju swalayan, mengunjungi sebuah tempat, rekreasi di hari libur musim panas, atau sekadar bersekolah. Oleh sebab itu, Shinkansen jarang sekali ‘tidak tepat waktu’ atau orang Indonesia lebih suka menyebutnya ‘ngaret’. Shinkansen selalu tepat waktu, bahkan untuk beberapa menit, Shinkansen tidak melewatkannya. Inilah yang membuat kereta berbentuk seperti rudal berukuran besar itu paling banyak diminati penumpang, terutama para pebisnis yang sering dikerja waktu. Selain itu, Shinkansen terlalu cepat untuk seukuran kereta pada umumnya, mecepatan tertingginya saja bisa mencapai 300 km/jam. Wow, kurang-lebih setara dengan kapal jet tempur milik Indonesia.

Nah, pertanyaannya adalah: “Bagaimana bila kereta Shinkansen terlambat? Apa yang akan terjadi?”

Dikutip dari banyak sumber, perusahaan Shinkansen dan kereta biasa lain di Jepang, mempunyai aturan yang cukup unik dalam melaksanakan pelayanannya. Meski sangat jarang terlambat, namun sekalinya terlambat 1-5 menit para staf kereta akan berjalan sepanjang lorong kereta, mereka meminta maaf pada satu persatu penumpang secara personal, mereka pula tidak segan akan membungkuk demi penghormatan dan rasa bersalah kepada para penumpang yang ada. Itu dilakukan para staf sebab mereka sangat menghargai waktu para penumpangnya, bisa saja ada beberapa di antara mereka yang benar-benar dikejar waktu, seperti pekerja kantoran yang mana dapat dipecat pimpinannya cuma gara-gara telat datang ke kantor.

Setelah waktu lebih dari lima menit dan kereta tidak datang juga atau mogok karena mesinnya bermasalah, para staf akan membagikan selembaran surat yang memberitahukan bahwa kereta yang sedang ditumpangi terlambat kepada seluruh penumpang. Cetak hitam di atas putih itu bisa digunakan sebagai barang bukti pada pimpinan, guru, atau dosen, tanda keterang yang menyatakan keterlambatan terjadi karena kereta, bukan karena kesalahan personalnya. Wih, keren kali ya kalau Indonesia punya beberapa Shinkansen dengan pelayanan yang sama kualitasnya di Jepang. Maka tidak ada lagi permasalahan menunggu sampai lumutan di kursi tunggu stasiun, bahkan soal salah siapa saat terlambat datang ke sekolah, alat transportasinya atau justru orangnya. 😀

Kecelakaan yg Pernah Terjadi Lampau
Kecelakaan yg Pernah Terjadi Lampau

Baiklah, sekarang kita membahas Shinkansen atau kereta api jepang lebih lanjut. Selain fakta bahwa kereta peluru itu jarang sekali terlambat serta sangat cepat, kereta Shinkansen juga anti gempa. Tercatat di Wikipedia, untuk menghadapi gempa bumi kereta ini dilengkapi dengan sistem pendeteksian yang akan memberhentikan kereta bila gempa bumi terdeteksi. Pada gempa bumi Chuetsu di Oktober 2004 sebuah Shinkansen yang dekat dengan pusat gempa lepas dari relnya, namun tidak ada penumpang yang terluka. Kereta generasi berikutnya, FASTECH 360 memiliki sayap rem penahan angin (yang mirip dengan kegunaan telinga) untuk membantu proses pemberhentian bila gempa bumi terdeteksi. Wah, betapa hebatnya ya, Minna-san? Selain kita tidak akan mendapat hukuman dari guru sekolah karena telat datang, kita juga terjamin keamanannya.

Mengenal sedikit sejarahnya, kereta Shinkansen dibuka pada 1 Oktober 1964 untuk menyambut Olimpiade Tokyo. Jalur ini langsung sukses, melayani 100 juta penumpang kurang dari 3 tahun sejak dibuka pada tanggal 13 Juli 1967, dan melayani satu miliar penumpang pada 1976. Pada mulanya, Shinkanshen sendiri jika dihitung menempuh jarak dari ibukota Tokyo ke

Shin-Osaka (515,4 km) memakan waktu kira-kira 4 jam. Pada 1992, Shinkanshen model baru bernama “Nozomi” yang dapat menghasilkan kecepatan 270 km/j telah menghasilkan perjalanan yang singkat. Rancangan penggunaan landasan kereta api linear motor car pada abad ke-21 yang akan datang ini diharapkan akan menambah kecepatan Shinkanshen.

kereta api

Oh, iya, Shinkansen dengan huruf kanji “新幹線” adalah jalur kereta api cepat Jepang yang dioperasikan oleh empat perusahaan dalam grup bernama “Japan Railways“. Ketepatan waktu Shinkansen sendiri yang pernah dicatat JR Central pada tahun 2003 silam, dilaporkan rata-rata hanya telat 0,1 menit atau sekitar 6 detik dari waktu yang telah dijadwalkan. Ini sebenarnya termasuk kesalahan alami mesin dan manusia, karena kalau dihitung dari seluruh 160.000 perjalanan yang dijalani oleh Shinkansen. Rekor sebelumnya dari 1997, tercatat 0,3 menit atau 18 detik, lebih 12 detik dari rentang waktu tahun 2013. Ya, menurut Indonesia sih itu cukup ajaib. Karena melihat keterlambatan yang ada pada alat transportasi lokal nusantara kita, jauh sekali jika dibandingkan dengan Shinkansen. Kita harus belajar lebih giat lagi agar ada Shinkansen buatan anak negeri di Indonesia! Kasihan pada para penumpang yang terlambat dan menunggu kereta lokal yang ngaret betul perangainya.

Soal riwayat keamanan Kereta api jepang yang satu ini, tidak ada daftar kecelakaan yang berakibat begitu fatal dalam pengoperasian Shinkansen sejak sekitar 40 tahun yang lalu. Namun, ada beberapa orang terluka dan satu kefatalan dikarenakan pintu yang menjepit penumpang atau barang mereka. Selain itu, ada beberapa percobaan bunuh diri oleh penumpang yang sengaja meloncat dari peron stasiun ketika kereta datang. Banyak stasiun kereta di Jepang kini telah memasang pagar pembatas. Meskipun begitu, tetap saja ada percobaan bunuh diri oleh penumpang yang memanjat pagar pengaman tersebut. Menurut informasi, perusahaan kereta akan menuntut beberapa ratus ribu yen atau setara puluhan juta rupiah pada keluarga si korban bunuh diri tersebut, itu karena menyebabkan kereta berkendala panjang akibat mayat yang terjepit dan telat lumayan lama, berbuah kerugian besar pada perusahan yang mana berprinsip waktu adalah uang.

Nah, itulah ulasan mengenai Shinkansen dan apa yang terjadi bilamana terlambat. 🙂 Apa pendapat Minna-san untuk perihal ini?

SHARE
Previous articleJangan Sampai Kelewatan, Ada Yang Baru Nih Dari CYaRon
Next articleSimak Yuk Video Perjuangan Dalam Pembuatan “GET iT OUT Project”!
Winata SilenceAngelo merupakan seorang penulis remaja yang lahir pada 3 September 1997 di kota Karawang. Kecintaannya terhadap diksi yang melankolis serta menyentuh mengantarkannya ke dunia kepenulisan. Pada umurnya yang masih sangat muda ini, ia berhasil meraih beberapa penghargaan sastra serta menjadi kontributor dari buku-buku puisi. Menurut Winata, dalam sebuah naskah, entah itu novel, cerpen, esai, puisi, atau sekadar kata-kata, yang terpenting adalah unsur amanat. Seperti ketajaman pada ujung mata pedang, amanat merupakan apa yang menjadi tolak ukur suatu seni. Di sanalah segala dari pemikiran sang penulis bermuara, hingga kemudian menunjukan keindahannya dengan sangat artistik.