Minna-san, kali ini kita akan membahas tentang Omiki, sebuah ritual keagamaaan atau peribadatan kuno yang dilakukan umat Shinto di Jepang dengan mempersembahkan Sake kepada para Dewa. Sedikit mengenal lebih jauh soal Sake. Sake merupakan minuman beralkohol yang khas sekali dari Jepang dan dikenal oleh seantero dunia (tidak terkecuali Indonesia), sebenarnya mempunyai asal muasal pembuatan diawali oleh negara Tiongkok. Namun Negeri Bunga Sakuralah yang sukses memperkenalkannya, sehingga nama Sake dekat sekali hubungannya dengan nama Jepang.

Penuangan Sake
Salah satu jenis Sake di masyarakat Jepang.

Negeri Matahari Terbit adalah Negeri Penghasil Sake! Seperti pencipta lagu dan penyanyinya, maka yang lebih dikenal adalah penyanyinya, meski pencipta sudah susah payah menciptakan lagu tersebut. Hehehe… Begitulah juga yang terjadi antara Tiongkok dan Jepang menimang persoalan Sake. Menurut Wikipedia, Sake (酒; diucapkan “sɑ.kɛ” “SA-KE”) adalah sebuah minuman beralkohol dari Jepang yang berasal dari hasil fermentasi beras. Sering juga disebut dengan istilah anggur beras.

Penjabaran tertulis tentang proses pembuatan sake tercantum dalam buku pertama sekitar tahun 700 setelah Masehi. Di Jepang, kata “sake” berarti “minuman beralkohol”. Di beberapa wilayah regional dapat memiliki arti yang lain. Di Kyushu Selatan, sake berarti minuman yang disuling. Di Okinawa, sake merujuk ke shōchu yang terbuat dari tebu. Sake memiliki aroma yang mirip dengan tape beras.
Sejak zaman dahulu, orang-orang telah membuat alkohol dan menikmatinya sebagai bagian dari budaya mereka. Dalam banyak bagian di dunia, alkohol mendapatkan tempat sebagai sesuatu yang dihargai dan telah diromantisasi menjadi sesuatu yang ideal. Tidak terkecuali orang-orang Jepang. Berabad-abad yang lalu, mereka mulai mencampurkan makanan utama mereka, beras, dengan air murni dan mikroorganisme koji untuk membuat Nihon-shu (Sake jepang). Sangat mahir memanfaatkan kondisi alam dan lingkungan setempat untuk menciptakan sebuah minuman yang unik.

Pembuatan Sake
Tahapan produksi Sake di Jepang, mengaduk-aduk adonan.

Lautan memisahkan kepulauan Jepang dari benua Asia, dan dalam hal ini terbukti menguntungkan untuk pembuatan sake karena orang-orang di Negeri Matahari Terbit, yang terletak di sebelah timur dari sebagian besar benua Asia Timur, mengembangkan minuman spesial mereka sendiri. Pemisahannya secara geografis dilengkapi juga dengan pengasingan politik, ekonomi dan budaya selama berabad-abad, sampai modernisasi dimulai sekitar pertengahan tahun 1800-an. Sake adalah minuman beralkohol yang didesain untuk selera orang Jepang oleh para ahli yang bebas dari pengaruhnya budaya lainnya.

Nah, jadi kalau seandainya Minna-san liburan di Jepang atau justru sedang menetap di sana, pasti sepanjang jalan yang terjajar kedai-kedai tradisional nyaris seluruhnya menjual Sake. Rasanya tidak terlalu berlebihan jika menyebut Jepang sebagai Negara Sake. Karena kemanapun kaki melangkah, botol-botol Sake tersaji di mana-mana, termasuk stan makan terbaik dan berbintang lima sekali pun. Tetapi uniknya, tidak pada tempat makan / minum saja Minna-san dapat menjumpai Sake, juga pada kuil-kuil pemujaan umat Shinto. Tentu hal ini menjadi pertanyaan yang pelik dan menarik rasa penasaran para wisatawan asing yang berkunjung, apalagi wisatawan dari Indonesia. Ada urusan apa antara tempat suci dengan minuman beralkohol yang memabukkan? Bukankah justru itu adalah dua hal yang saling menolak? Maka berikut adalah jawabannya.

Diambil dari situs lokal jalan-jalan ke Jepang dan luar, Akiba-kei dan Akiba-chan akan tahu jawaban dari pertanyaan pelik tadi. Jangan buru-buru berburuk sangka ya! Ternyata Sake dan kuil peribadatan umat Shinto di Jepang mempunyai sejarah yang cukup panjang lho. Mari disimak.
Dalam kepercayaan orang-orang Jepang, beras merupakan salah satu ciptaan Dewa dari langit yang dipersembahkan khusus untuk manusia di bumi. Konon karena kebaikannya itulah masyarakat zaman dahulu di sana mengolah beras dengan difermentasikan, diuleni, digabungkan dengan bahan baku alam lain, hingga setelah beberapa tahap menjadi Sake seutuhnya. Tentu semua tahapan-tahapan itu dilakukan secara tradisional, karena mesin produksi belum ditemukan. Kemudian sesudah benar-benar berbentuk dalam wujud minuman Sake yang terbilang nikmat bagi mereka, maka disajikanlah beberapa bagian pada kuil-kuil peribadatan untuk Dewa. Hal tersebut sebagai hubungan timbal balik antar manusia dengan Yang Mereka Percayai. Sebagai balas budi atas kemurah-hatiannya.

Shinto kuil
Kuil peribadatan bagi umat Shinto, tempat dimana ritual Omiki dilangsungkan.

Ritual ini disebut dengan nama Omiki (お神酒). Bagi orang Jepang yang memiliki tempat pembuatan Sake, biasanya akan turut mendonasikan beberapa botol Sake ke kuil. Tak hanya pembuat Sake, para konglomerat, pejabat kepemerintahan, dan orang-orang menengah ke atas pun turut mendonasikan beberapa botol Sake ke kuil mereka. Nantinya, botol-botol Sake ini akan diletakkan di dalam kuil dan menjadi sesaji untuk para Dewa. Diyakini, sake-sake ini mampu mensucikan kuil dari roh-roh jahat, malapetaka dan pengaruh buruk dari orang-orang yang masih hidup atau sudah mati.

Satu lagi, ritual Omiki yang patut dilirik adalah pasca ritual Omiki di area persawahan. Sebelum para petani menanami area persawahan dengan padi, mereka akan melakukan ritual Omiki. Sake akan dituangkan di sekitar sawah hingga akhirnya botol sake pun ditanam. Botol sake ini akan ditanam di tengah sawah dan menjadi pertanda berakhirnya ritual. Padi-padi inilah yang menjadi cikal-bakal pembuatan sake. Besar harapan, bahwa mereka akan kembali mendapatkan panen melimpah setelah menggelar ritual Omiki. Ini hampir sama dengan Pesta Laut di Indonesia. Masyarakat melarung sesaji pada laut, membuat pesta kecil-kecilan dengan banyak buah serta makanan tradisional, kemudian memohon berkah hasil laut yang melimpah dari Tuhan.

Gentong Sake
Gentong-gentong berisi Sake yg sering dipersembahkan pada kuil Shinto ketika ritual Omiki berlangsung.

Itulah ritual Omiki, sebuah ritus persembahan sake pada dewa. Selain mengetahui tentang ritual kebudayaan Jepang yang unik, dengan membaca tulisan ini sampai habis pun membuat Akiba-chan dan Akiba-kei semua lumayan banyak mengenal tentang Sake dan sejarah pembuatannya. Hal tersebut tentu memiliki nilai tambah pengetahuan bagi Minna-san yang membaca, terutama yang mempunyai minat segala hal tentang Jepang. Apalagi bagi yang sedang berencana trip ke Jepang. Tidak ada salahnya membaca artikel satu ini. Daripada bengong pas lihat ada banyak orang di sana berbondong-bondong menuju ke pesawahan, lalu menyajikan minuman beralkohol di kuil-kuil peribadatan. Mau tanya-tanya ke siapa coba? Yang ada penasaran terus selama di Jepang! 😀

SHARE
Previous articleSimak 3 Trailer Game Gebrakan XSEED Di Event E3
Next articleAnime NANBAKA!! Petualangan 4 Penjahat Ganteng Berotak Sengklek
Winata SilenceAngelo merupakan seorang penulis remaja yang lahir pada 3 September 1997 di kota Karawang. Kecintaannya terhadap diksi yang melankolis serta menyentuh mengantarkannya ke dunia kepenulisan. Pada umurnya yang masih sangat muda ini, ia berhasil meraih beberapa penghargaan sastra serta menjadi kontributor dari buku-buku puisi. Menurut Winata, dalam sebuah naskah, entah itu novel, cerpen, esai, puisi, atau sekadar kata-kata, yang terpenting adalah unsur amanat. Seperti ketajaman pada ujung mata pedang, amanat merupakan apa yang menjadi tolak ukur suatu seni. Di sanalah segala dari pemikiran sang penulis bermuara, hingga kemudian menunjukan keindahannya dengan sangat artistik.