Telah Minna-san ketahui, Jepang merupakan negara yang di dalamnya terdapat orang-orang yang menghargai etika dan kesopanan-santunan dalam berbudaya. Di Jepang terdapat kebiasaan-kebiasaan yang sering diperbincangkan oleh dunia, khususnya di Indonesia. Ini disebabkan karena Jepang adalah negara maju dengan tata cara dan sumber daya manusianya yang bermental juara sehingga menimbulkan keinginan banyak dari negara luar Jepang yang hendak mencontoh dan meniru apa saja sekiranya yang baik serta bermanfaat, tentu saja sampai tangga sukses diraih dalam berbagai bidang kehidupan. Entah itu ruang lingkup IT, para medis kedokteran, sains, ekonomi, produksi, seni, atau keahlian serta pengetahuan umum lain.

Dalam kemajuan budaya dan teknologi serta inovasi yang pesat pula, di Jepang terdapat kebiasaan – kebiasaan baik dan tentu menjadi contoh banyak tokoh hebat di Dunia. Sebagai contoh, rata-rata di Jepang bekerja 2450 jam pertahun, sangat tinggi dibandingkan Jerman yang hanya 1870 jam pertahun. Keberhasilan Jepang dalam membangun puing-puing sisa perang dunia ke-2 yang sangat mematikan karena bom atom dijatuhkan pun, tidak memadamkan semangat bergelora Jepang dalam membangun negerinya sendiri. Setelah peristiwa yang memakan banyak korban tersebut, pemerintah seusai reformasi besar-besaran harus mengeluarkan banyak aset kekayaannya. Apalagi menghitung penjajahan yang sudah dilakukannya beratus tahun pada asia, membuat namanya sedikit cacat dan kehilangan kepercayaan bangsa-bangsa. Dan perlu diketahui mengembalikan kehormatan nama baik bukanlah perkara yang mudah, butuh banyak perjuangan.

Namun, Jepang berhasil melakukannya. Nyatanya saja kini Negeri Matahari Terbit itu memperoleh kepercayaan yang besar dengan meluasnya perusahaan-perusahaan yang Jepang punya. Selain itu masih ada banyak lagi hal-hal baik yang bisa kita contoh dari Jepang, berikut adalah daftarnya.

Capt. Jepang sgt suka membaca buku

Budaya Membaca

Tak heran bila Jepang merupakan bangsa yang cerdik dan pintar, pasalnya saat anda memasuki kereta api atau tempat duduk bus terdapat anak-anak sedang membaca komik, orang tua membaca koran, ibu-ibu membaca tabloid, hampir semua membaca. Di budaya Jepang sendiri membaca merupakan alat yang tepat untuk meningkatkan kualitas hidup di Jepang. Sehingga mereka tampak rajin untuk membaca. Baca Juga Manfaat Membaca Untuk Masa Depan Kita.

Sejarah mencatat bahwa di Jepang sudah terdapat buku-buku asing pada tahun 1684 dan dibangunnya institute penerjemahan dan terus berkembang sepanjang jaman.

Inovasi dan Perancangan Baru

Di Jepang memang merupakan tempat yang cocok untuk menginovasi seluruh barang yang diproduksi. Ini dikarenakan mereka lebih sering menginovasi produk daripada menciptakan produk yang baru. Memang Jepang bukan bangsa penemu, namun untuk meracik atau merakit dan memberikan perancangan baru sangat pintar dan diminati banyak orang. Baca Juga Cara Menentukan Ide Baru Dengan Cemerlang.

Akio Morita merupakan pengembang Sony Walkman yang merupakan contoh bangsa Jepang yang berhasil menciptakan inovasi pada produk radio kecil. Memang paten dari Sony sendiri adalah milik perusahaan Phillip Elektronics, namun keberhasilan mengembangkan dan membuilding kembali model portabel sebagai produk yang booming Akio Morita tercatat sebagai inovator yang melegenda.

Menerapkan Hidup Hemat

Di Jepang terdapat budaya yang dinamakan anti konsumsi, yang dilakukan bersama-sama oleh masyarakat Jepang. Ini terbukti bahwa di Jepang toko akan memotong harga hingga 50% dari harga asli 30 menit sebelum menutup toko. Tak heran kenapa banyak orang yang berbondong-bondong masuk ke supermarket atau toko yang memberikan diskon sebanyak itu pada pukul 19:30. Rata-rata di Jepang supermartket dan toko tutup hingga pukul 20:00. Baca Juga Agar Tetap Berhemat Dalam Segala Situasi .

Setia Terhadap Pekerjaan

Di Jepang seseorang yang bekerja terhadap perusahaan akan memberikan loyalitasnya atau kesetiaannya terhadap perusahaan yang digelutinya. Sangat jarang orang Jepang untuk berpindah pekerjaan. Mereka biasanya bertahan hanya 1 atau 2 perusahaan hingga pensiun. Kesetiaan dalam pekerjaan ini sudah menjamur di Jepang, ini disebabkan karena masyarakat Jepang tidak suka terhadap perubahan pekerjaan, namun bila memberikan warna pada pekerjaannya saat ini seperti inovasi, cara bekerja dan sebagainya itu wajar.

Budaya Malu Terhadap Apa Yang Dilakukan

Di Jepang sendiri memiliki leluhur dimana Masyarakat akan bunuh diri bila melakukan kesalahan seperti korupsi dan sebagainya. Masyarakat memiliki budaya menusukan pisau keperutnya hingga mati bila terbukti salah dalam melakukan tindakan pada pekerjaan yang dilakukannya. Malu merupakan budaya yang paling ditakuti di Jepang. Sebab salah sedikit saja maka akan bunuh diri.

Capt.Jepang serius dlm meningkatkan jenjang karir

Pantang Menyerah dan Tak Kenal Lelah

Sejarah Jepang membutkikan bahwa masyarakat merupakan bangsa yang tahan banting, pantang menyerah serta tidak ingin negaranya menjadi kosong hanya karena ingin pergi ke luar negeri. Sehingga bangsa Jepang termasuk bangsa yang cepat beradaptasi dengan lingkungan, sehingga mereka mudah sekali untuk mengembangkan pekerjaan yang dilakukan.

Bangsa Jepang juga tak mengenal lelah, ini disebabkan karena di Jepang sendiri tidak memiliki kekayaan seperti yang dimiliki negara lain, seperti minyak bumi, bijih besi, kayu, batubara, dan di Jepang hampir 85% energi berasal dari negara lain termasuk di Indonesia

Jika Indonesia tidak memasok minyak bumi, 30% wilayah Jepang akan mengalami krisis minyak. Untungnya Matsushita Konosuke yang berhasil membuat peralatan elektronik pada tahun 1945 yang mampu mengangkat Jepang mulai dari Nol kembali, dan membuat Jepang memiliki kerajaan bisnis yang menakjubkan di Era Kemiskinan.

Akio Morita juga menjadi pelopor perubahan Jepang dengan Caset Tape nya yang kecil dan ditertawakan oleh banyak orang yang akhirnya berhasil dan melegenda dengan Sony Walkman. Jepang mengalami keberhasilan setelah sang Inovator dan Petinggi Jepang pantang menyerah dengan keadaannya saat itu.

Kerja Keras Sangat Diutamakan

Budaya kerja keras sendiri dilakukan dijepang. Rata-rata hampir 2450 jam per tahun sangat tinggi dibandingkan di Amerika hanya 1957 jam per tahun, Inggris 1911 jam per tahun, jerman 1870 jam per tahun dan di Perancis hanya 1680 jam per tahun.

Kebiasaan

Nah, itulah beberapa hal baik yang bisa kita contoh dari Jepang. Walau bagaimana pun Negeri Bunga Sakura itu layak untuk dijadikan patokan dan tolak ukur kita dalam bidang kemajuan duniawi, mengingat bangsa mereka berkontribusi besar dalam Nusantara kita juga. 🙂

Sebenarnya masih ada beberapa lagi yang ingin Penulis cantumkan, akan tetapi sepertinya di lain waktu adalah saat yang tepat. Stay Akiba Nation terus makannya! 😀

SHARE
Previous articleSiapkan Dompet Untuk Nendo Captain dan Figma Nico
Next articleTouhou: Hifuu Club Menggaet Banyak Seiyuu Terkenal
Winata SilenceAngelo merupakan seorang penulis remaja yang lahir pada 3 September 1997 di kota Karawang. Kecintaannya terhadap diksi yang melankolis serta menyentuh mengantarkannya ke dunia kepenulisan. Pada umurnya yang masih sangat muda ini, ia berhasil meraih beberapa penghargaan sastra serta menjadi kontributor dari buku-buku puisi. Menurut Winata, dalam sebuah naskah, entah itu novel, cerpen, esai, puisi, atau sekadar kata-kata, yang terpenting adalah unsur amanat. Seperti ketajaman pada ujung mata pedang, amanat merupakan apa yang menjadi tolak ukur suatu seni. Di sanalah segala dari pemikiran sang penulis bermuara, hingga kemudian menunjukan keindahannya dengan sangat artistik.