Setelah mendapat informasi dari beberapa situs yang mengulas game Jepang, minat saya lebih tertarik pada game Street Fighter yang diberitakan sudah menghiasi layar kaca Playstation 4 dan PC pada 19 Februari 2016 kemarin. Seolah menjadi magnet, walau belum pernah memainkan permainannya, video trailer dari channel resmi di situs youtube bernama Street Fighter semakin saya ingin memburu game tersebut.

Sepekan lalu game fenomenal tersebut memang sudah diluncurkan untuk platform Playstation 4 dan aplikasi PC sesuai janji produsernya, perusahaan raksasa yang telah banyak mencipta game action 3D keren, Capcom, namun sayangnya sedikit mengalami difungsional dan kurang memuaskan. Seperti dilansir situs teknologi techinasia tepat pada tanggal 27 Februari 2016, penulis Ayyub Mustofa memaparkan di sana bahwa hal ini terjadi pada versi PC.

 

“Saya pun akhirnya tergoda dan membeli Street Fighter V untuk PC di toko terdekat. Betapa terkejutnya saya ketika mengetahui bahwa Street Fighter V ternyata sangat miskin konten. Tidak ada mode Arcade, tidak ada mode Versus CPU, pada dasarnya kalau bermain sendirian saya hanya main Survival atau Training saja. Bermain online melawan pemain lain cukup menyenangkan, tapi server Street Fighter V sering mengalami masalah.” Begitulah sedikit review seorang penggemar game arcade dari nusantara kita.

 

Tapi, di akhir tulisan, Ayyub mengatakan bahwa Capcom sangat tanggap terhadap masukan-masukan dari para konsumen. Itulah yang menjadi perusahaan software game besar yang sebelumnya telah merilis Street Fighter IV tersebut, memiliki nilai tambah di mata masyarakat luas. Capcom sendiri mengatakan akan terus memperbaiki kualitasnya untuk kepuasan seluruh penikmat game di dunia. Termasuk saya, Ayyub, dan mungkin Minna-san di rumah. Nah, Para Pembaca Akiba Nation sekalian. Boleh jadi hanya game yang dapat meningkatkan mood kita secara penuh, baik itu dalam menjalani aktifitas kerja di kantor ataupun sekadar belajar di sekolah. Tapi… ada tapinya nih, jangan pernah berlebihan ya, Bro. Seperti 24 nonstop menghadap layar kaca yang cahaya terangnya bisa merusak mata, mengajak stick controller tidur bareng, atau bahkan monitornya diajak nikah. Hahaha… peace. 😀

Namun, jika gamer dijadikan passion. Itu akan lebih mengangkat derajat kalian. Percayalah. 🙂 Pelajari lebih lanjut soal coding, seluk-beluk game, maka itu kelak mengantarkan kalian menjadi seorang pembuat game, dinikmati karyanya oleh seluruh gamer di alam semesta yang indah ini. Para pendiri perusahaan game seperti Capcom juga dahulunya begitu kok, sangat freak terhadap game. Kalian juga, kalau usaha dan yakin, pasti bisa. 🙂

SHARE
Previous articleRintisan Baru, Shokugeki No Souma: Ni No Sara
Next articleSepatu Ala Conan Ini Bisa Membuatmu Tampil Sekeren Detektif
Winata SilenceAngelo merupakan seorang penulis remaja yang lahir pada 3 September 1997 di kota Karawang. Kecintaannya terhadap diksi yang melankolis serta menyentuh mengantarkannya ke dunia kepenulisan. Pada umurnya yang masih sangat muda ini, ia berhasil meraih beberapa penghargaan sastra serta menjadi kontributor dari buku-buku puisi. Menurut Winata, dalam sebuah naskah, entah itu novel, cerpen, esai, puisi, atau sekadar kata-kata, yang terpenting adalah unsur amanat. Seperti ketajaman pada ujung mata pedang, amanat merupakan apa yang menjadi tolak ukur suatu seni. Di sanalah segala dari pemikiran sang penulis bermuara, hingga kemudian menunjukan keindahannya dengan sangat artistik.