Disini pasti banyak yang fans animanga dan mungkin ada yang bermimpi untuk bekerja dalam industri tersebut di Jepang. Memang animanga adalah sumber entertainment yang keren bisa memberi inspirasi dan semangat, akan tetapi balik layar, industri tersebut tak begitu cemerlang, apalagi karena budaya kerja negara Jepang itu sendiri. Contohnya baru-baru ini, seorang staff Madhouse dikabarkan kerja 300 jam sebulan dan lembur tak dibayar.

Agak sedih mendengar kabar seperti itu dari studio anime yang telah memproduksi berbagai anime keren, macam Death Note, No Game No Life, Mahouka Koukou no Rettousei, dan banyak lagi, tapi itulah yang dikabarkan, yang dimulai sejak awal April ini.

Kejadian ini bermula saat seorang asisten produser studio tersebut bergabung dengan organisasi serikat pekerja, dengan tujuan untuk menerima kompensasi atas kerja lembur yang tak dibayar kepadanya dan permintaan maaf atas power harassment yang diterima oleh staff tersebut.

Dikatakan kalau sang asisten bisa disuruh bekerja seharian, bahkan sampai akhir minggu dan hari libur. Ia juga mengatakan waktu kerjanya yang paling banyak bisa mencapai 393 jam sebulan. Lebih tinggi dari yang disarankan Pemerinta Jepang yang selama 100 jam sebulan, tapi dikatakan lumayan normal sebagai anime production assistant, yang biasanya mencapai 200 jam sebulan.

Dikatakan penyebab banyaknya kerja tersebut karena bagian storyboard salah satu episode sebuah seri anime baru selesai sebulan sebelum penayangan, membuat jadwal produksi 3 bulan perlu ditekan jadi 1. Sang asisten itu sampai tidur di studio, dan hanya pulang untuk mandi. Sampai suatu hari ia jatuh di apartemen, dan polisi yang kebetulan menemukannya memanggil ambulan.

Menurut aktivis pekerja muda Sasakura Shohei, studio Madhouse memiliki flat rate lembur diatas 50 jam, ini membuat mereka yang bekerja lembur diatas 50 jam tak mendapatkan uang tambahan, tapi hal ini tak dijelaskan kepada mereka yang mau masuk kerja ke studio tersebut. Dan setelah dihitung, Sasakura memperkirakan kalau asisten produser tersebut dihutangi upah lembur sampai 3 juta Yen.

Kisah yang menyedihkan memang, dan ini kasus yang dibicarakan oleh orang-orang industri animanga dan fans. Salah satunya adalah anime character designer Nishii Terumi, yang membuatnya menyarankan untuk tidak bekerja dalam industri anime Jepang karena umumnya overwork.

Belum lagi banyaknya anime belakangan ini membuat beberapa orang rusak secara mental dan fisik. Nishii juga menjelaskan lagi masalah upah yang dialami animator pemula, dimana mereka perlu bantuan orang tua untuk hidup sehari-hari bahkan setelah bekerja.