Yang namanya hidup tak selalu terang benderang, ada juga sisi tersembunyi yang tak selalu enak diketahui. Dibalik suksesnya industri anime, ada juga animator yang kesusahan uang. Dibalik kerennya kerja jadi seiyuu, semakin sulit memasukinya. Industri manga juga kadang ada sisi yang tak enak didengar. Dan tetanggaan dengan anime dan manga adalah Light Novel, dan ada juga sisi gelap industri LN Jepang.

Light Novel memang telah berkembang menjadi bagian yang sangat besar dalam dunia anime. Semakin banyak adaptasi anime dari light novel, dan industri light novel itu sendiri juga semakin bertambah besar seperti panjang judul light novel itu sendiri.

Jadi semakin banyak yang menulis LN, yang biasanya diawali dalam bentuk webnovel, yang ditulis dalam website untuk menulis novel untuk dibagikan kepada websurfer lain. Tapi selain pembaca biasa, penerbit juga memakai kesempatan untuk mencari benih-benih baru seperti ini. Mencari cerita yang populer dan berpotensi dan kemudian memberikan tawaran untuk diterbitkan dalam bentuk buku atau ebook dan dijual.

Cara seperti ini mungkin terasa tak begitu beresiko. Karena cerita tersebut sudah lumayan populer dan memiliki fans bahkan sebelum diterbitkan, itu berarti fans bisa mendukung sang author cerita tersebut dengan membelinya. Tapi seorang editor novel, yang memilih untuk tak ditunjukkan namanya, berbicara dengan website Nikkan Cyzo, menjelaskan masalah-masalah yang timbul melalui sistem tersebut.

Editor anonymous tersebut mengatakan kalau novel yang mendapatkan tawaran untuk diterbitkan, banyak yang kualitasnya masih sangat kasar. Jadi sebelum diterbitkan, editor akan meminta revisi dari author. Tapi, semakin banyak author yang walau sudah berkali-kali revisi tetap saja karyanya tidak mencapai level yang mencukupi untuk bisa diterbitkan.

Editor itu jadi jenuh karena ia sudah mengirim balik naskah novelnya dengan revisi yang diminta, dan setelah ditunggu sampai sebulanan, hanya sedikit perbaikan yang masuk pada tulisan yang baru. Versi webnovel yang mereka tulis diawal adalah hasil yang mereka buat dengan segala kemampuan yang mereka punya, dan tak mungkin mereka bisa membuatnya lebih baik lagi.

Industri LN

Selain itu, di industri LN, penerbit juga tak mau menunggu lama, dan editor tak bisa memakai alasan kalau si author tak bisa menulis. Jadi pada akhirnya, editor itu sendiri yang menulis ulang ceritanya. Editor anonymous itu juga mengatakan kalau saat ini semakin banyak light novel yang hampir seluruhnya ditulis oleh editor daripada oleh sang penulis yang tertera pada cover bukunya.

Ini sampai bisa dibilang kalau seorang editor menjadi tak hanya editor tapi bisa mencapai setidaknya level co-author. Editor tersebut juga mengingat satu pengalamannya dulu, dimana sang author menyerah begitu saja dalam menulis cerita, jadi sang editor perlu menulis sampai 200 halaman novelnya. Ia juga mengatakan hal menyedihkan lain, kalau ada light novel yang ditulis oleh editor, tapi pada akhirnya pembayaran royaltinya masuk ke kantong sang author.

Rasanya menjadi editor di dunia industri LN seperti melakukan jasa Ghostwriting atau penulis bayangan. Tapi setidaknya dalam situasi ghostwriting sang penulis bayangan dibayar, walau namanya tak dikreditasi. Dengan semakin banyaknya jumlah LN di Jepang, entah apakah akan bertambah juga jumlah editor LN yang nasibnya seperti itu kedepannya.

Comments

Loading...