Saat duduk di bangku sekolah dasar kita semua pasti pernah mendengar soal legenda dari Jepang ini. Melakukan origami atau melipat kertas menjadi seribu buah berbentuk burung bangau dapat mengabulkan satu permintaan. Dan di antara kita pun setelah mendengar cerita tersebut langsung berniat membuat Senbazuru, namun terkadang hanya mandek di tengah-tengah atau malah cuma di niatnya saja. Tapi, pernahkah kalian terpikirkan kalau sebenarnya membuat seribu bangau kertas itu untuk apa? Apakah benar dibuat demi sebuah angan-angan hati kita agar terkabul?

Nyatanya, Minna-san, Senbazuru di Jepang dibuat demi satu permohonan yang selalu sama pada setiap pembuatnya. Yaitu “Perdamaian Dunia”. Sebelum berlanjut, lebih baik jika kita tahu dahulu seluk-beluk soal Senbazuru.

Di Negeri Matahari Terbit, Senbazuru (千羽鶴) berarti kumpulan origami berbentuk burung bangau, Tsuru (鶴), yang biasanya dirangkai dan digantungkan dengan benang pada langit-langit kamar atau ruangan rumah.

Ragam Senbazuru di kota Hiroshima

Masyarakat titisan ras Tiong Hoa itu percaya, bahwa andai Tsuru dibuat sebanyak seribu buah, sebuah permohonan si pembuat dapat terkabul oleh Tuhan. Karena burung bangau dikatakan adalah salah satu dari binatang-binatang yang dianggap suci, mereka sama dengan naga dan kura-kura, dapat hidup ratusan tahun lamanya.

Legenda ini bermula dari cerita kuno tentang Sadako Sasaki, seorang gadis Jepang yang terkena penyakit leukimia sebab terkena radiasi bom nuklir saat perang dunia ke-II memanas di kota Hiroshima. Pada saat itu hidup Sasaki-san begitu sulit karena peperangan, ledakan terjadi di mana-mana, pertumpahan darah berceceran sangat dahsyat, mayat bergelimpangan pada sepanjang trotoar jalan dan gedung. Sehingga Sasaki ingin sekali menghentikan peperangan yang ada, lalu membuat dunia yang baru. Tanpa ada yang saling melukai dan membunuh satu sama lain.

Namun, apa daya. Sadako hanyalah seorang gadis kecil. Bisa bernafas saja rasanya beruntung sekali. Akan tetapi, keinginan dalam hati Sadako untuk menghentikan perang begitu besar. Lantas pada akhirnya ia mencoba membuat seribu Tsuru, kumpulan burung-burung bangau dari kertas, sebagai wujud impiannya pada Tuhan demi menyudahi perang yang ada serta memunculkan perdamaian dunia.

Dengan segenap tenaga yang ada dan penyakit yang kian mendera tubuhnya, hanya sebanyak 644 burung bangau kertas yang terbuat sebelum ia meninggal. Hingga kemudian tindakan Sadako-san ini dilanjutkan oleh teman-temannya.

Setelah benar-benar berjumlah seribu bangau, Tsuru itu lalu dikuburkan bersama Sadako-san yang hanya berupa jenazah yang kaku.

Origami bangau yang disusun secara vertikal

Kisah legenda ini dimuat dalam sebuah buku berjudul Sadako and the Thousand Paper Cranes. Akan tetapi, cerita ini menurut satu versi saja. Ada beberapa versi lain. Salah satunya adalah mengikut penuturan Museum Memorial Perdamaian Hiroshima, katanya Sadako Sasaki berhasil membuat Senbazuru atau seribu bangau kertas sebelum ajal menjemputnya.

Diketahui pada beberapa kuil Jepang, termasuk di kota megalopolis Tokyo dan Hiroshima sendiri, memiliki api keabadian untuk mewujudkan doa perdamaian dunia seperti yang diharapkan Sadako Sasaki. Di kuil tersebut, rombongan sekolah dari pelosok Negeri Sakura maupun perorangan menaruh seribu bangau kertas dan berdoa demi terciptanya perdamaian dunia. Bangau kertas tersebut dipajang di ruang terbuka, perlahan-lahan usang dan koyak oleh zaman seiring permohonan yang mulai terkabulkan. Legenda ini lumayan mirip dengan bendera doa di India dan Tibet sana.

Namun, itu hanya sebuah legenda ya, Minna-san. 🙂 Masih dipertanyakan keabsahannya. Artikel ini dibuat semata-mata bukan untuk kalian percaya, namun sekadar mengenal budaya yang ada di Jepang dan diambil amanat yang baiknya saja sebagai contoh. Tak ubahnya kita yang mendongengkan dongeng Jaka Tarub pada adik atau bahkan anak kita di malam hari, bukan menyuruh untuk meyakini bahwa bidadari turun dari syurga lewat pelangi dan mandi-mandi di sungai bumi atau yang lainnya, akan tetapi sebagai pengetahuan dan contoh bahwa mencuri benda milik orang tidak baik.

SHARE
Previous articleKisah Rumah Ibadah di Jepang Yang Tidak Hancur Saat Perang Dunia II
Next articleSeason Kedua “Gakusen Toshi Asterisk” Luncurkan Trailer Bersubtitle Inggris
Winata SilenceAngelo merupakan seorang penulis remaja yang lahir pada 3 September 1997 di kota Karawang. Kecintaannya terhadap diksi yang melankolis serta menyentuh mengantarkannya ke dunia kepenulisan. Pada umurnya yang masih sangat muda ini, ia berhasil meraih beberapa penghargaan sastra serta menjadi kontributor dari buku-buku puisi. Menurut Winata, dalam sebuah naskah, entah itu novel, cerpen, esai, puisi, atau sekadar kata-kata, yang terpenting adalah unsur amanat. Seperti ketajaman pada ujung mata pedang, amanat merupakan apa yang menjadi tolak ukur suatu seni. Di sanalah segala dari pemikiran sang penulis bermuara, hingga kemudian menunjukan keindahannya dengan sangat artistik.