Sejarah Final Fantasy sangatlah panjang. Jika dipaparkan secara mendetail, maka boleh jadi memakan ruang sebanyak 10 lembar kertas. Itu setara dengan satu makalah untuk tugas sekolah.

Terlepas dari seri yang mendulang popularitas satu ini. Kalau ditilik lebih jauh, tentu tersimpan sejarah yang bisa dibilang agak kelam. Karena saat developer merancang Final Fantasy, perasaan putus asa-lah yang menjadi objek pendorong utama dalam pembuatannya.

Final Fantasy atau yang dalam huruf katakana bertuliskan Fainaru Fantajī (フ ァ イ ナ ル フ ァ ン タ ジ) merupakan sebuah seri video game yang diciptakan oleh Hironobu Sakaguchi dan dikembangkan oleh Square (nama developer sebelum berubah menjadi Square Enix). Diterbitkan pertama kali pada tahun 1987, yang mana direncanakan akan menjadi proyek game terakhir mereka. Tepatnya untuk si kreator sendiri, Sakaguchi, yang akan mengakhiri karirnya dari industri game setelah merilis seri game terakhirnya itu. Sebuah proyek penutup.

Tapi siapa sangka, di balik sejarah Final Fantasy yang cukup gelap itu, ia justru meraih kesuksesan dan melahirkan sekuel teranyarnya hingga sekarang. Bahkan sempat bergeser ke genre lain seperti massively multiplayer online role-playing, third-person shooter, role-playing action, racing, juga diangkat dalam bentuk anime dan dibuatkan konser musiknya.

hironobu-sakaguchi
Hironobu Sakaguchi adalah pengembang di balik kesuksesan seri Final Fantasy.

Seri ini telah sukses secara komersial, membuatnya menjadi game tersukses yang diproduksi Square. Lebih dari 110 juta unit yang terjual, merupakan waralaba video game Final Fantasy yang cukup mencengangkan. Serial ini terkenal karena inovasi, tampilan visual, dan perihal musik. Salah satunya yakni penggunaan FMV atau full motion video yang dipopulerkan pada Final Fantasy VII. Model karakter semi-realistis dan musik hebat yang diatur oleh Nobuo Uematsu pun digadang-gadang paling banyak menarik perhatian publik.

Telah tercatat sejarah Final Fantasy, bahwa Sakaguchi dan Square adalah nama yang menjadi pendorong terbesar dalam dunia industri video game di Jepang. Seri ini telah mempengaruhi praktik bisnis Square dan developer lainnya yang bermain pada ranah yang sama. Final Fantasy juga memperkenalkan banyak fitur yang sekarang sangat umum dalam video game RPG serta mendapat titel sebagai game yang mempopulerkan RPG berbasis konsol di pasar luar Negeri Bunga Sakura.

Suka misteri dan horor? Jangan lupa baca: Mitos Angka di Jepang, Jangan Dipakai Atau Kalian Akan Mati!

Awal dimulainya sejarah Final Fantasy yaitu pada pertengahan tahun 1980-an, saat Square baru memasuki industri video game Jepang dengan membuat game RPG sederhana, game balap, dan menjadi game platformers untuk Famicom Disk System Nintendo. Kemudian pada tahun 1987, desainer Lapangan Hironobu Sakaguchi memilih untuk membuat fantasi role-playing game terbaru berbasis cartridge, yang mana terinspirasi dari game fantasi populer Dragon Quest dan The Legend of Zelda.

final-fantasy-logos
Logo Final Fantasy dari seri awal sampai akhir.

Square sendiri saat itu sedang menghadapi kebangkrutan, Sakaguchi menjadi tokoh penting dalam kebangkitan Square di dunia developing video game. Ia menyelamatkan Square dengan proyek yang bisa dibilang untuk terakhirnya itu. Final Fantasy yang jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sendiri berarti ‘Khayalan Terakhir’, merupakan khayalan terakhir dari perjalanan Hironobu Sakaguchi di dunia developing game. Jika proyek Final Fantasy gagal, maka dapat dipastikan Square akan bangkrut dan ia harus terusir dari pekerjaannya.

Seri perdana perilisan Final Fantasy di Jepang adalah tanggal 18 Desember 1987 dan langsung sukses besar, menjadi penghasil waralaba utama perusahaan Square. Judul selanjutnya diberi nomor, lantas diberi sebuah cerita yang tidak terkait dengan game sebelumnya. Sepanjang sejarah Final Fantasy, Sony PlayStation bukanlah satu-satunya sistem yang menampung seri game satu ini. Melainkan Nintendo, yang merupakan konsol pertama tempat bernaungnya.

cartridge
Media kartrid atau cartridge yang merupakan konsol pertama tempat bernaungnya seri game Final Fantasy.

Terbilang ada tiga Final Fantasy yang dirilis di Nintendo Entertainment System (NES). Yang pertama “Final Fantasy” dirilis pada tahun 1987. Kemudian “Final Fantasy II”, dirilis pada tahun 1988. Lantas yang terakhir dari NES yaitu “Final Fantasy III” pada tahun 1990. Super Nintendo Entertainment System (SNES) yang berteknologi 18 bit menampilkan tiga seri utama, yang semuanya telah dirilis ulang pada beberapa platform.

Lalu jika diurutkan, seri “Final Fantasy IV” dirilis pada tahun 1991. Seri ini memperkenalkan apa yang disebut Active Time Battle sistem untuk pertama kalinya. “Final Fantasy V” dirilis pada tahun 1992. Dan kemudian disusul “Fantasy VI” pada tahun 1994. Seri ini adalah seri terakhir pada platform Nintendo. Bisa dibilang seri terakhir dengan grafis 2D.

Kemudian pada tahun 1997 (tahun lahirnya penulis nih), “Final Fantasy VII” yang menjadi penerus generasi sebelumnya dirilis untuk platform Sony PlayStation. Hal Ini diawali oleh perselisihan dengan Nintendo yang bersikeras untuk menggunakan kartrid, yang menurut mereka saat itu mampu loading lebih cepat dari CD. Namun menurut Square, Final Fantasy VII merupakan evolusi terbesar dari seri Final Fantasy yang memiliki jumlah data sangat besar untuk ukuran game zaman itu. Hanya dapat ditampung oleh media CD. Atas dasar inilah Square memutus hubungan kerja mereka dengan Nintendo dan beralih ke Sony PlayStation. Insting Square tidak salah karena media katrid kemudian ditinggalkan bahkan oleh Nintendo sendiri.

Perilisan Final Fantasy dengan platform Sony PlayStation merupakan masa keemasan dalam sejarah Final Fantasy hingga sekarang. Square mendapat banyak penghargaan atas kerja kerasnya ini.

final-fantasy-on-playstation
Sampul CD PlayStation untuk seri Final Fantasy VI.

Nah, Minna-san, kalau mengulik orang-orang penting dalam sejarah Final Fantasy selain Hironobu Sakaguchi, maka ada beberapa orang yang sangat andil lainnya dalam seri game termashyur ini. Yaitu Kenji Terada yang menjadi penulis skenario untuk tiga seri pertama. Lalu Yoshinori Kitase sebagai penulis skenario untuk Final Fantasy V sampai Final Fantasy VII. Diambil alih Kazushige Nojima untuk Final Fantasy VII sampai pengunduran dirinya pada bulan Oktober 2003. Nojima adalah penulis cerita untuk Final Fantasy VII, Final Fantasy VIII, Final Fantasy X, dan Final Fantasy X-2. Dia juga bekerja sebagai penulis skenario untuk seri Spin-off, Kingdom Hearts.

Desain artistik, termasuk karakter, monster, dan judul ditangani oleh artis Jepang Yoshitaka Amano dari Final Fantasy sampai Final Fantasy VI. Memasuki Final Fantasy VII yang bergrafis 3D, Tetsuya Nomura dipilih untuk menggantikan Amano karena desain Nomura lebih mudah beradaptasi dengan grafis 3D. Selain itu Momura adalah orang penting di balik suksesnya Final Fantasy VII Advent Children. Dia bekerja dengan seri dari Final Fantasy VII sampai Final Fantasy X. Tapi untuk Final Fantasy IX, desain karakter ditangani oleh Shuko Murase, Toshiyuki Itahana, dan Shin Nagasawa.

final-fantasy-creators
Sebagian orang penting dalam perjalanan panjang Final Fantasy.

Itulah ringkasan dari perjalanan panjang sejarah Final Fantasy, game yang sekarang begitu melesat jauh meski berawal dari keputusasaan developer. Semoga kita bisa belajar banyak dari semangat pantang menyerah mereka semua! 😀

SHARE
Previous articleAKIBA’S TRIP Festa akan Memanaskan Jari Para Gamer
Next articleFilm Psikopat Shun Oguri + Lagu One Ok Rock = Siap Siap Merinding!
Winata SilenceAngelo merupakan seorang penulis remaja yang lahir pada 3 September 1997 di kota Karawang. Kecintaannya terhadap diksi yang melankolis serta menyentuh mengantarkannya ke dunia kepenulisan. Pada umurnya yang masih sangat muda ini, ia berhasil meraih beberapa penghargaan sastra serta menjadi kontributor dari buku-buku puisi. Menurut Winata, dalam sebuah naskah, entah itu novel, cerpen, esai, puisi, atau sekadar kata-kata, yang terpenting adalah unsur amanat. Seperti ketajaman pada ujung mata pedang, amanat merupakan apa yang menjadi tolak ukur suatu seni. Di sanalah segala dari pemikiran sang penulis bermuara, hingga kemudian menunjukan keindahannya dengan sangat artistik.