Ah, sepertinya tidak usah dijelaskan lagi apa itu Final Fantasy. Karena selain sudah diterangkan secara gamblang di artikel sebelumnya, Final Fantasy terlalu terkenal, sampai-sampai orang yang belum main game berseri ini pun tahu apa itu Final Fantasy. Terutama scene Final Fantasy yang selalu dapat membuat mabuk dan kecanduan para penggemarnya. Tidak membosankan untuk dibahas lagi dan lagi.

Maka dari itu, tanpa ba-bi-bu lagi, Akiba Nation akan sajikan daftar scene Final Fantasy yang merupakan pelengkap artikel sebelumnya. Biar genap! Akiba-chan dan Akiba-kei sekalian di rumah harap sediakan kopi atau teh dan beberapa cemilan untuk teman-membaca artikel ini. Karena, scene Final Fantasy berikut akan membuat kalian serasa membaca cerita genre fantasi. 🙂

5 – Sabin yang Kecil ‘Smackdown’ Kereta Monster

5

Apa yang ada dalam pikiran kalian jika melihat seseorang dikejar kereta? Apalagi, kereta tersebut merupakan kereta monster yang mempunyai banyak senjata api modern dan berpenampilan sangat menyeramkan? Secara logika, pasti kalian akan berpikir bahwa orang tersebut akan mati terhujam timah panas atau gepeng karena terlindas. Tetapi, Square Enix memang terlalu aneh untuk menyajikan plot cerita yang normal.

Di dalam scene Final Fantasy VI, diceritakan bahwa salah satu karakter bernama Sabin memutuskan untuk tidak lari dan bersembunyi, melainkan melawan kereta monster ini. Lucunya, ukuran tubuh Sabin terbilang mungil ketimbang raksasa besi dengan banyak senjata api itu. Namun, Minna-san pasti akan terperangah serta terbahak kemudian setelahnya. Karena Sabin ternyata dapat memberi perlawanan yang spektakuler pada kereta monster. Dia menggunakan kekuatannya untuk melakukan ‘suplex’ terhadap sang kereta.

Hanya ada di Final Fantasy, seorang pria kecil membanting sebuah kereta. Mantab djiwa! Sangat patut diapresiasi, teman-teman.

6 – Laguna Si Bodoh Jadi Presiden Esthar

6

Jika ada acara voting siapa karakter protagonis paling ‘bahlul’ yang ada di Final Fantasy, maka penulis yakin Laguna yang bakal keluar sebagai pemenang di urutan nomor satu. Pasalnya, Laguna tidak mempunyai sifat kepahlawanan yang seharusnya ada pada setiap karakter protagonis. Dia tidak begitu pintar, naif, dan cenderung ceroboh. Laguna bahkan sering lupa membawa peta, sering terbata-bata alias kurang bisa bicara dengan lancar.

Namun, tunggu dulu, seperti yang penulis katakan bahwa Square Enix terlalu aneh untuk menyajikan cerita yang biasa-biasa saja, para pemain franchise Final Fantasy akhirnya dikejutkan dengan munculnya salah satu seri yang mengikutsertakan karakter Laguna di dalamnya. Karena pada kenyataannya, Laguna ternyata seorang presiden Esthar. Plot tersebut merupakan bagian scene Final Fantasy VIII, dikatakan bahwa orang yang naif itu merupakan penguasa sebuah kota besar dengan teknologi paling mutakhir.

Tidak ada yang pernah menduga bahwa Laguna Si Ceroboh akan dijadikan pemimpin sebuah kota oleh Square Enix. Side-story yang menarik.

7 – Para Eidolon Dapat Bagian Scene Epic

scene final fantasy

Ini adalah scene Final Fantasy yang terunik dari keseluruhan seri. Karena di seri Final Fantasy VI, VII, ataupun VIII, Square Enix seolah-olah menahan diri untuk tidak memperlihatkan adegan cerita hebat yang mana merupakan bagian bagi para summon-monster atau eidolon. Tapi ternyata hal ini ada alasannya. Square Enix sengaja menghemat amunisi ide mereka untuk ditembakkan satu persatu pada tiap seri Final Fantasy. Pada Final Fantasy IX tepatnya, yang merupakan seri lanjutan dari ketiga seri di atas, para penggemar franchise satu ini akan dibuat lebih terkejut lagi ketimbang Laguna yang jadi presiden. Square Enix memang developer yang tidak baik bagi kesehatan jantung, ya.

Di Final Fantasy IX, para eidolon ini mendapat scene epik mereka masing-masing. Porsi adegan cerita bagian mereka sungguh luar biasa keren. Pasalnya, Odin yang merupakan summon-monster terbaik bagi para pemain, jadi aktor penting di simi. Odin akan datang dari langit dan menerobos awan, sebuah permunculan yang super dahsyat. Atomos tak segan menelan apa saja yang ada di depannya. Sedangkan Alexander bakal menampakkan diri dari kastil yang hidup bernama Alexandria dan melawan Bahamut yang menyeramkan.

Tidak ada yang menyangka bahwa akan ada summon-monster yang melibatkan sebuah kastil raksasa di seri kesembilan ini.

8 – Dewa Penyelamat Bagi Penduduk Spira Ternyata Musuh Dalam Selimut

8

Sin adalah sebuah monster raksasa yang tak punya tujuan lain selain menghancurkan kota Spira dan membinasakan semua warganya. Dia merupakan karakter antagonis yang membumihanguskan apa saja di hadapan. Yuna merupakan tokoh antagonis yang diceritakan kelak menumpas Sin. Dia berhasil, dan memberikan kedamaian bagi penduduk Spira. Tetapi itu hanya berlaku dalam tenggang waktu 10 tahun. Sebelum Sin kembali bangkit dan menciptakan kehancuran serta penderitaan untuk kesekian kalinya.

Namun, jika Akiba-chan dan Akiba-kei sekalian menilik lebih lanjut setiap scene Final Fantasy, pasti akan menemukan fakta bahwa di dalam tubuh Sin terdapat entitas tubuh ayah Tidus, Jecht. Lucunya masalah ini, Jecht merupakan seorang yang dianggap dewa penyelamat dan dipuja-puji oleh penduduk Spira. Bahkan Jecht sendiri dikatakan yang akan mengalahkan Sin. Padahal mereka sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ironi di atas makaroni, bukan?

9 – Ending Kehancuran Dunia

9

Ah, kalau kata Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya yang berjudul Bumi Manusia, sih, begini: “Cerita tentang kesenangan selalu tidak menarik. Itu bukan cerita tentang manusia dan kehidupannya, tapi tentang surga, dan jelas tidak terjadi di atas bumi kita ini”. Dan mungkin, quotes dari penulis lawas terkenal tersebut bisa dibilang gambaran dari keseluruhan sending Final Fantasy VI. Pasalnya, ending cerita dari seri tersebut dijadikan tidak berakhir indah oleh Square Enix.

Dalam scene Final Fantasy VI akhir, tidak ada yang namanya ‘pahlawan munculnya belakangan’. Karena nyatanya tokoh antagonis Kefka yang hanya punya satu tujuan, yakni menghancurkan dunia, berhasil menyelesaikan tujuannya tersebut. Dunia kembali ke kondisi pada awal-mula penciptaannya. Penuh kekosongan dan diselimuti kegelapan. Sisa-sisa kehancuran tersebut menyemai penderitaan pada diri umat manusia seiring tawa jahat Kefka yang menggema.

Sebuah ending cerita yang bikin kita sakit hati.

10 – Vanille dan Fang Memutuskan Mengorbankan Diri

10

Ini adalah scene dari Final Fantasy XIII yang paling menyakitkan bagi siapa pun, terutama fans bagi tokoh Vanille dan Fang. Apalagi untuk fans yang sudah tingkatannya mencapai semacam ‘fanatik’, mungkin akan ditemukan tergantung di palang pintu kamar karena saking sedihnya. Lagi-lagi, Square Enix berhasil merobek luka lebih dalam kepada para pemain Final Fantasy.

Permainan seri yang melegenda tersebut, dengan genre RPG yang menyajikan perjalanan panjang melawan monster-monster jahat serta tokoh antagonis yang ingin menghancurkan dunia, ternyata berakhir nahas. Demi tujuan mulia seperti menyelamatkan dunia dari kehancuran dan kedamaian bagi seluruh umat manusia, kematian Vanille dan Fang tidak bisa dihindari. Penderitaan mereka menjadi penutup jalan cerita seri Final Fantasy XIII. Padahal, pada awalnya pemain lebih menduga bahwa Lightning-lah yang akan mengorbankan dirinya. Ternyata tidak.

Bagaimana pun kita harus tuntut Square Enix, kawan-kawan, karena kita sudah jadi korban baper Final Fantasy. 😀

Nah, itulah pelengkap artikel kemarin. Jumlah daftarnya sekarang telah genap jadi sepuluh. Dan harap jadikan Akiba Nation sebagai bookmark utama dalam jajaran situs berita anime dan segala hal terkait Jepang di browser kalian, ya! Akiba Nation akan selalu sajikan artikel-artikel menarik untuk peneman waktu senggang kalian!

SHARE
Previous articleMinami Hamabe “Menma” Kembali Tampil dalam SAKI Live Action
Next article3 Tempat Wisata di Jepang Ini Dijuluki Surga Bagi Para Otaku
Winata SilenceAngelo merupakan seorang penulis remaja yang lahir pada 3 September 1997 di kota Karawang. Kecintaannya terhadap diksi yang melankolis serta menyentuh mengantarkannya ke dunia kepenulisan. Pada umurnya yang masih sangat muda ini, ia berhasil meraih beberapa penghargaan sastra serta menjadi kontributor dari buku-buku puisi. Menurut Winata, dalam sebuah naskah, entah itu novel, cerpen, esai, puisi, atau sekadar kata-kata, yang terpenting adalah unsur amanat. Seperti ketajaman pada ujung mata pedang, amanat merupakan apa yang menjadi tolak ukur suatu seni. Di sanalah segala dari pemikiran sang penulis bermuara, hingga kemudian menunjukan keindahannya dengan sangat artistik.