Penggemar masakan Jepang? Tahu tidak apa saja masakan Jepang selain ramen, sushi, dan tempura? Mungkin yang kita tahu dan sering makan adalah hidangan yang disebutkan di atas, hampir semua stan Jepang yang ada di Indonesia menyediakan santapan tersebut. Namun, pernah kalian mendengar soal Oyakodon? Makanan satu ini tidak kalah enaknya lho, Minna-san! Selain itu kita juga bisa membuatnya sendiri di rumah, sebab Oyakodon begitu mudah dibuat, resepnya tidak terlalu sulit dan malah sangat simpel. Tidak seperti Sushi yang mesti digulung serta dibentuk, atau sajian dari Negeri Sakura lain yang merepotkan. Oyakodon sangatlah gampang dibanding itu semua.

Mendengarnya saja kalian ingin segera berlari ke dapur dan membuatnya, panggilan ‘kruyuk’ dari perut kalian pasti amat dahsyat sekarang. 😀 Akan tetapi, sebelum Minna-san memenuhi panggilan perut, ada baiknya tahu sedikit dahulu soal Oyakodon. Sabar sedikit ya, orang sabar disayang… saya. Hehehe…

Oyakodon sebenarnya adalah sebuah makanan dalam mangkuk yang ditingkatkan melalui evolusi Donburi. Namanya dibentuk dari tiga kata, “Oya” berarti orang tua, “Ko” berarti anak, dan “Don” berarti campuran nasi. Ketiga nama Oya-Ko-Don mencerminkan nama elemen yang mengandung makna nasi yang dicampur dengan ayam dan telur. Oyakodon hampir mirip dengan Katsudon dan Gyudon.

Oyakodon ala Jepang

Donburi sendiri adalah makanan Jepang berupa nasi putih dengan berbagai macam lauk di atasnya seperti ikan, daging dan sayur-sayuran serta berkuah yang dihidangkan di dalam mangkuk besar khas yang juga bernama Donburi. Kuah untuk donburi bergantung pada jenis makanan, tapi pada umumnya berupa Dashi (kaldu dasar untuk semua hidangan Jepang, dibuat dari sari Kombu dan Katsuobushi yang dimasukkan ke dalam air mendidih lalu disaring) dicampur dengan kecap asin dan Mirin (bumbu dapur untuk masakan Jepang berupa minuman beralkohol berwarna kuning, berasa manis, mengandung gula sebanyak 40%-50% dan alkohol sekitar 14%).

Kombu atau Konbu yaitu sejenis ganggang laut (rumput laut) lazimnya dari spesies Laminaria Japonica yang dikonsumsi orang-orang di negara Asia Timur, seperti Tiongkok, Korea dan Jepang. Di dalam bahasa Korea dikenal dengan nama Dashima atau Haidai.

Katsuoboshi ialah makanan awetan berbahan baku ikan cakalang (Katsuo). Katsuobushi diserut menjadi seperti serutan kayu untuk diambil kaldunya, lalu disiram pada makanan sebagai penyedap rasa, atau dimakan begitu saja sebagai lauk nasi. Katsuobushi yang sudah diserut tipis, berwarna coklat muda hingga merah jambu sedikit bening umumnya dijual dalam kemasan plastik. Katsuobushi sebagai penyedap makanan biasanya ditaburkan di atas Hiyayako (tahu dingin), Okonomiyaki dan Takoyaki. Katsuobushi yang sudah diserut disebut kezuribushi.

Nah, sedikit-banyak kalian sudah dapat meresap tentang Oyakodon dan bahan-bahan dasarnya bukan? Tapi, kalian mesti mempertanyakan, “Bagaimana bisa kami makan makanan yang di dalamnya ada campuran alkoholnya?” Dan jawaban saya adalah “Tenang saja.” Karena resep simpel dibawah ini tidak akan membawa alkohol sebagai bahan pokoknya, melainkan bahan-bahan yang mudah sekali ditemukan di Indonesia. Bahkan pada warung setempat pinggir jalan.

Sekarang tidak usah banyak cingcong lagi, mari segera kita buat Oyakodon secara praktis dan pastinya halal. Ikku yo! 😀

Bahan-bahan masakan jepang di autumn

Bahan-bahan yang diperlukan, sebaiknya catat dan kumpulkan terlebih dahulu sebelum memulai memasak.

  1. 160 gram ayam tanpa tulang. Sudah dihilangkan tulangnya, cuma daging ayamnya saja yang tersisa.
  2. 3 butir telur.
  3. 100 gram bawang bombay, kira-kira sekitar 1-2 siung.
  4. 250 ml air.
  5. 30 ml kecap asin.
  6. 10 gram gula.
  7. Dianjurkan sedia beras untuk empat mangkuk. Tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil, ukuran standar yang biasa dipakai untuk bakso atau mie rebus. Tapi kalau mau pakai nasi yang sudah jadi pun tidak apa-apa.

Cara membuat Oyakodon.

  1. Masak beras hingga menjadi nasi terlebih dahulu, jika tidak mau repot bisa menggunakan nasi yang sudah masak saja.
  2. Selagi itu iris bawang bombay dan suwir ayam. Buat potongan memanjang menjadi potongan kecil sesuai ukuran yang dikehendaki.
  3. Sekarang kocok telur 3 butir dalam mangkuk sampai mengembang, tambahi garam dan penyedap rasa secukupnya.
  4. Campurkan bahan-bahan berikut untuk membuat sausnya. Yaitu air, gula, dan kecap asin, dalam panci kecil dan masak hingga mendidih.
  5. Taburkan irisan ayam dan bawang secara merata di atas panci tersebut. Tutup penggorengan serta masak dengan api kecil selama 4 menit. Lalu angkat tutup panci.
  6. Pastikan bahan-bahan tadi sudah mendidih sebelum Anda menuangkan telur kocok dengan gerakan menyebar. Biarkan hingga telurnya setengah matang.
  7. Matikan api lalu tutup kembali penggorengan selama 1 sampai 2 menit dan biarkan panasnya merata.
  8. Sediakan 4 buah mangkuk besar. Masukkan nasi panas tadi di setiap mangkuk dan siram campuran telur, ayam dan saus barusan di atasnya. Hidangkan di meja makan.

Dan Oyakodon pun siap untuk disantap. Membuatnya tidak sulit bukan? 🙂 Selamat mencoba…!!

Oh, iya, kalau cuma ingin membuat satu mangkuk saja, kalian bisa membagi 4 bahan-bahan di atas.

Contoh, ayam 160 gram. 160 : 4 =  40. Maka ayamnya disediakan 40 gram saja.

Pun seperti bahan-bahan yang lain, dibagi 4 semua. Karena resep Oyakodon di atas dibuat untuk 4 orang yang hendak menyantapnya.

Cmiw~

oyakodon

SHARE
Previous articleGigi Gingsul, Salah Satu Kriteria Moe Gadis Jepang
Next articleBelajar Cosplay Make-up bersama Tachibana Mindy x CANMAKE di Cosplay Make-up Workshop Vol. 1
Winata SilenceAngelo merupakan seorang penulis remaja yang lahir pada 3 September 1997 di kota Karawang. Kecintaannya terhadap diksi yang melankolis serta menyentuh mengantarkannya ke dunia kepenulisan. Pada umurnya yang masih sangat muda ini, ia berhasil meraih beberapa penghargaan sastra serta menjadi kontributor dari buku-buku puisi. Menurut Winata, dalam sebuah naskah, entah itu novel, cerpen, esai, puisi, atau sekadar kata-kata, yang terpenting adalah unsur amanat. Seperti ketajaman pada ujung mata pedang, amanat merupakan apa yang menjadi tolak ukur suatu seni. Di sanalah segala dari pemikiran sang penulis bermuara, hingga kemudian menunjukan keindahannya dengan sangat artistik.