Halo akiba-chan dan akiba-kei! Kali ini aku ingin berbagi sekaligus merekomendasikan bahan bacaan untuk waktu senggangmu, nih! Ya, mumpung sebentar lagi juga udah mau weekend jadi anggap kita akan mempersiapkan ‘liburan akhir pekan’ kita dengan cara yang mengasyikkan pula ehehe! Nah, ada satu buku yang direkomendasikan untuk kalian baca, dimana buku ini bukan sebuah novel atau bahan bacaan yang biasa. Buku yang akan aku review kali ini adalah salah satu buku kumpulan cerpen dari sang penulis legendaris Jepang bernama Ryunosuke Akutagawa yang berjudul ‘Lukisan Neraka’. Kumpulan cerpen klasik ini mengandung banyak unsur fantasi dan drama membuat suasana membaca menjadi cukup berbeda dan menarik.

Terdapat enam cerpen terpilih yang dipublikasikan, yaitu Lukisan Neraka, Roda Bergerigi, Kehidupan Seorang Bebal, Dewa Agni, Gerobak Dorong dan Jeruk. Keenam cerpen ini sama-sama mengandung drama klasik yang seolah mengantarkan kita ke era 20-an. Namun yang menurutku paling menarik adalah cerpen yang berjudul Lukisan Neraka dan Jeruk, dimana menurutku kedua cerpen ini paling menyentuh. Bahkan cerpen-cerpen ini sudah diangkat menjadi sebuah film yang juga nggak kalah menarik saat ditonton.

Lukisan Neraka atau dalam judul aslinya Jigokuhen (地獄変) mengisahkan tentang seorang pelukis bernama Yoshihide yang angkuh karena keahliannya melukis hal-hal yang diluar akal manusia dan nasib anak perempuannya yang mati terbakar di tangan sang pangeran karena ulahnya sendiri. Yoshihide bisa dibilang seorang pelukis berdarah dingin yang mampu menggambarkan situasi ‘neraka’ yang kejam, mencekam, panas menyiksa, kesakitan yang tiada akhir, semua ada.

Portrait_of_Hell2

Kisahnya berujung tragis tatkala sang Pangeran menyuruh Yoshihide menggambarkan sebuah lukisan yang menggambarkan siksaan diantara kobaran api yang menyala-nyala. Yoshihide menyanggupinya, tetapi ia mengeluh bahwa ada satu objek yang sangat sulit dilukis—sebuah kereta dengan penutup daun jambe yang terbakar bersama seorang bangsawan di dalamnya. Ia meminta agar sang Pangeran membakar sebuah kereta dengan penutup daun jambe dan seorang bangsawan di dalam kereta tersebut agar Yoshihide dapat melukis dengan objek yang nyata. Tanpa berpikir panjang, sang Pangeran mengabulkan permintaannya dan langsung mengadakan pembakaran kereta pada malam harinya. Tak disangka, seorang ‘bangsawan’ yang dibakar oleh sang Pangeran ternyata adalah anak perempuan Yoshihide, bersama kera kesayangannya. Belum diketahui pasti alasannya, entah karena sang Pangeran memiliki dendam terhadap si gadis karena cintanya yang tidak terbalas atau ada alasan lain.

Di ujung hidupnya, Yoshihide bunuh diri dengan menggantungkan lehernya dengan sehelai tali yang dikaitkan di palang kayu di atap kamarnya setelah lukisan tersebut selesai dikerjakan. Ia merasa hidupnya tidak tenang setelah peristiwa tersebut.

Baca juga : 8 Tayangan TV Jepang Ini Bikin Kamu Bernostalgia

Cerpen Jeruk juga tidak kalah ‘kasihan’ dengan Lukisan Neraka tadi, hanya bedanya isi dari ceritanya terbilang singkat—hanya empat lembar. Mengisahkan tentang seorang tokoh ‘aku’ yang akan pergi ke Tokyo dari Yokosuka menggunakan kereta api. Kemudian ia bertemu dengan seorang gadis remaja yang lusuh dan wajahnya yang babak belur. Sang gadis kemudian duduk di hadapannya. Tokoh ‘aku’ terus menyebut sang gadis dengan sebutan tidak mengenakkan dari dalam hatinya, melihat dan memperhatikan gerak-gerik sang gadis yang aneh. Hingga akhirnya ketika kereta melewati perkampungan kumuh, sang gadis berusaha membuka kaca jendela dan terlihat ada tiga anak kampung di luar kereta sedang melambai-lambai ke arahnya. Kemudian, sang gadis dengan cepat melemparkan buah jeruk kepada anak-anak tersebut dari balik jendela. Sungguh sebuah pemandangan yang mencengangkan—ada sebuah perasaan bahagia dibalik suasana yang tidak jelas wujudnya.

IMG_20160526_142016
Inilah tampak depan dari buku kumpulan cerpen ‘Lukisan Neraka’ dan lukisan tokoh Ryunosuke Akutagawa.

Review keseluruhan dari cerpen-cerpen karya Ryunosuke Akutagawa menurut aku adalah, beliau sangat berhasil menceritakan peristiwa demi peristiwa secara gamblang dan penuh emosional. Bahasa yang digunakan juga tidak terlalu berat, tidak memakai kata-kata dengan istilah tingkat tinggi. Meskipun terkadang di beberapa bagian ceritanya agak berbelit-belit karena cukup banyak bermain plot twist di dalamnya sehingga pembaca dibuat ‘tidak bisa menebak akhir cerita’. Ini bagus, karena alur cerita yang semakin membuat penasaran siapapun yang membacanya.

Buku sastra klasik ini diterjemahkan oleh Jonjon Johana dan dicetak pertama kali dalam Bahasa Indonesia pada bulan Mei 2013. Terbitnya buku ini sebagai salah satu karya yang secara istimewa terpilih untuk proyek Japanese Literature Publishing Project (JLPP) oleh Kansha Publishing sebagai penerbit buku ini.

Biografi singkat

Ryunosuke Akutagawa lahir di Tokyo pada tanggal 1 Maret 1892 dan wafat di usia 35 tahun. Ia merupakan seorang sastrawan legendaris asal Jepang yang terkenal dengan karya-karyanya yang hebat. Banyak sekali cerita pendek yang telah ia buat selain yang ada di buku kumpulan cerpen ‘Lukisan Neraka’ ini, seperti Kumo no Ito (Jaring Laba-Laba), Rashomon dan sebagainya. Namun karena kesehatannya yang mulai menurun, produktivitas beliau pun juga ikut menurun drastis. Beliau tidak pernah membuat novel panjang, sekalipun ia membuatnya tidak akan selesai.

Dan kini, cerpen-cerpen karya beliau dicantumkan di dalam buku teks sebagai bahan bacaan untuk murid sekolah tingkat menengah.