Banyak yang jadi kesusahan dalam wabah virus corona ini. Akan tetapi bahkan dalam masa seperti itu, tindak kejahatan bisa saja muncul dengan berusaha memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, dan itu juga bisa terjadi bahkan di negara aman seperti Jepang. Seperti dalam kabar ini, dimana ada seorang pria Hyogo yang berpura-pura menawarkan cek COVID19 tapi sebenarnya itu metode penculikkan anak-anak.

Baru-baru ini diberitakan kalau Kepolisian Pefektur Hyogo melakukan penangkapan akan seorang pria bekerja sambilan bernama Tani Masahiro. Dikatakan kalau alasan penangkapan pria berumur 23 tahun yang berasal dari Kota Awaji tersebut adalah karena berusaha melakukan penculikkan akan 5 anak kecil di Kota Kobe.

Kejadian yang dilakukannya dikatakan terjadi pada tanggal 24 Maret jam 6 sore, dengan Tani mendekati gerombolan 5 anak lelaki dan perempuan diantara umur 6-10 tahunan pada sebuah jalanan di distrik kota Tarumi di Kobe.

Saat Tani mendekati anak-anak tersebut, ia mengatakan kalau ia akan menyentuh mereka untuk memberikan pemeriksaan virus corona. Ia juga mengatakan mengenai pemeriksaannya kalau ia tidak akan memberikan suntikan. Akan tetapi tindakannya itu gagal dilakukan dan ia jadi kabur berlari dari situ, saat dua dari lima anak tersebut lari meninggalkan lokasi untuk mengadu pada penjaga mereka.

Akan tetapi meskipun Tani berhasil kabur dari situ, untungnya kini ia dikabarkan telah berhasil ditangkap oleh polisi, setelah identitasnya sebagai pelaku dari kasus tersebut diketahui dengan wajahnya tertangkap pada video kamera security.

Tapi tindakannya ini lebih terasa merinding lagi, dimana setelah ia ditangkap atas usaha penculikkan anak kecil, ia mengakui perbuatannya dan juga mengatakan alasannya pada pihak polisi Tarumi. Dengan Tani mengatakan kalau tujuannya melakukan hal itu adalah untuk melakukan penganiayaan.

Sesuatu yang memang dapat lumayan terlihat dari kata-katanya saat melakukan tindakan tersebut, dengan Tani mengatakan kalau ia mau menyentuh anak-anak itu. Jika saja ia berhasil menculik anak-anak tersebut, bisa saja setelah itu mereka jadi korban pelecehan seksual atau lain-lain lagi.