Dunia animanga dan game Jepang memang sudah terkenal memiliki banyak elemen fanservice yang kearah ecchi, dan itu membuat beberapa judul juga jadi sulit untuk dibawa keluar, seperti contohnya untuk game-game Sony Playstation. Mengikuti perkembangan akan hal tersebut, sepertinya membuat pemakaian fanservice ecchi jadi berubah, seperti yang dibicarakan oleh Kishida Mel seorang ilustrator dan desainer baru-baru.

Kishida Mel adalah ilustrator yang terkenal sebagai desainer karakter dalam anime Hanasaku Iroha dan Red Data Girl, dan juga dalam beberapa game dari seri Atelier dan game Blue Reflection yang dikembangkan oleh Gust.

Perkataannya mengenai fanservice tersebut dibicarakannya melalui wawancara yang dilakukan untuk menyambut perilisan game Blue Reflection yang baru, Second Light, yang dijadwalkan untuk dirilis diawal November nanti. Disitu Kishida mengatakan kalau dalam keterlibatannya dengan game Blue Reflection, game tersebut tidak berusaha membuat tampilan sexy blak-blakan.

Tapi lebih kearah dimana team developer game itu ingin menunjukkan karakternya sedikit lagi. Berusaha membuat hati player jadi senang dan tergerak saat melihat para karakter itu. Sesuatu yang terlihat dengan elemen fanservice seragam sekolah yang tidak seluruhnya ecchi tapi lebih untuk memberi rasa nostalgia pada masa-masa sekolah.

Kishida juga mengatakan kalau saat ini, aspek untuk membuat anime dan game yang fokus utamanya untuk fanservice mulai berubah. Dirinya dan team developer mulai mencari cara untuk membuat karakternya menarik tanpa mengandalkan fanservice, dan ia juga melihat perubahan sikap akan hal itu pada projek lain yang dikerjakannya.

Kishida sendiri mengatakan kalau ia sendiri tidak ada fetish untuk fanservice seragam sekolah, dan ia juga tidak membenci ataupun ada rasa suka untuk fanservice ecchi, ia hanya ingin membuat sesuatu yang memberi rasa senang untuk dilihat oleh fans dan konsumer.

Hal itu memang terlihat pada game Blue Reflection Second Light dimana dikatakan tidak ada adegan-adegan mandi seperti pada game pertamanya, dengan game itu tetap terlihat indah tapi juga dibuat agar lebih sulit untuk diberi kritik macam itu dari media barat.