Tokyo Ghoul. Siapa sih yang belum pernah menonton anime satu ini? Hampir semua orang, terutama kalangan anak remaja pernah menontonnya, atau paling tidak mengetahui dan mendengar tentang Tokyo Ghoul.

Ya, Tokyo Ghoul adalah seri anime yang sangat populer di Jepang, bahkan dunia, termasuk Nusantara kita ini. Bahkan dalam halaman media sosial, banyak bertebaran fanspage unofficial dari Tokyo Ghoul. Juga fanart, Tokyo Ghoul memiliki ratusan koleksi gambar di internet. Entah dalam bentuk doujinshi, coretan ilustrasi biasa, atau justru komik strip. Entah pula dibuat oleh artistnya yang sudah master atau artist biasa, pokoknya Tokyo Ghoul sudah sangat masyhur.

Tidak sedikit yang mengenal Tokyo Ghoul, obyek yang berawal dari seri manga karya penulis kawakan bernama Sui Ishida dan diterbitkan melalui tangan kanan majalah manga Seinen Shueisha Weekly Young Jump ini, mendapat apresiasi yang sangat besar dari para penonton ketika direalisasikan dalam bentuk anime. Ditonton oleh tiriliunan penonton serta lautan manusia, Tokyo Ghoul menjadi asupan mata para otaku sehari-hari, wibu, atau cuma penggemar kartun jepang biasa.

Capt. Kaneki Ken dan Rize

Dengan alur cerita yang menguras emosi dan ketegangan, Kaneki Ken sang tokoh utama mendapat sorotan publik yang paling banyak.

Berprolog di kota megalopolis Tokyo, Kaneki tidak menyadari hidupnya akan berubah sebegitu drastis setelah kejadian yang tak terduga bersama Rize Kamishiro, seorang wanita cantik dengan tergerai ungu kemerahan.

Bermula dari hobi mereka yang sama, membaca buku novel dari penulis yang serupa pula, Kaneki tertarik pada Rize. Namun Kaneki-kun tidak pernah tahu dan menyangka, bahwa Rize-san menyimpan rahasia yang sangat besar.

Setelah kencannya di Anteiku, sebuah kedai kopi pinggir jalan, Kaneki berakhir dengan amat naas. Ketika kota Tokyo sedang mendapat teror besar oleh para Ghoul, sejenis makhluk berwujud manusia yang memakan manusia, Kaneki menerima permintaan Rize untuk mengantarnya pulang di malam hari.

Mereka mengobrol di sepanjang jalan, sampai ketika Rize-san menunjuk sebuah gang sepi yang ‘katanya’ adalah jalan menuju rumahnya.

Lalu, tatkala Rize bilang bahwa ia sangat mencintai Kaneki dan memeluknya, mendadak Rize menggigit bahu laki-laki tersebut hingga berlumuran darah.

Kaneki berlari menjauhi Rize, namun terlambat untuknya menyadari bahwa Rize-san bukanlah manusia. Mudah sekali untuk seorang Ghoul memburu sang mangsa, dengan senjata alami yang dimiliki karnivora tersebut, tubuh Kaneki berhasil ditusuk dan koyak.

Akan tetapi rupanya takdir berkehendak lain, beberapa palang besi raksasa dari proyek besar yang belum selesai dibangun, tiba-tiba saja jatuh menghantam Rize. Beberapa sentimeter jaraknya dari badan Kaneki-kun, sehingga laki-laki itu tidak apa-apa.

Kendati serangan Rize membuat organ tubuhnya tak berfungsi lagi, membuat ia harus dioperasi oleh dokter khusus serta menggunakan organ tubuh Ghoul wanita itu sebagai organ dalamnya.

Kini Kaneki Ken hidup dalam kelaparan dan rasa berdosa. Ia hanya dapat memakan manusia, bukan makanan manusia. Tentu saja itu bertolak belakang dengan apa yang dalam pikiran Kaneki, ideologi, pandangannya. Kaneki-Kun menjalani kehidupan sebagai “Manusia Setengah Ghoul”.

Ilustrasi Zombie yang hampir sama dg Ghoul
Ilustrasi Zombie yang hampir sama dg Ghoul

Seru bukan membaca prolog ceritanya saja? Apalagi menonton filmnya! Akan tetapi, dari semua hal tersebut, pernahkah Minna-san tahu “Ghoul” itu sebenarnya apa?

Ghoul konon adalah makhluk legenda dari bangsa Arab kuno bernama Ghul yang dapat diartikan secara harfiah “Setan”, atau Ghala “Merebut”. Mereka golongan kanibal dan memangsa manusia, mencuri anak-anak kecil untuk dimakan hidup-hidup, serta menyerang siapa saja yang tengah lengah. Bertempat di makam atau kuburan, Ghoul juga sering disamakan dengan Mayat Hidup atau Zombie. Dikatakan pula bahwa Ghoul menghuni padang pasir yang luas, menyamar sebagai binatang atau yang lain, mencuri koin, merusak persediaan makanan, membunuh unta, dan sering kali menerjang para musafir yang lewat pada gurun tersebut.

Salah satu buku gothic novel lampau pada abad ke-17 (novel yang bergenre horror, thriller, pembunuhan, sekte pemujaan setan, aliran sesat atau hal-hal yang gelap lain) terkenal berjudul “Vathek” karya penulis ternama William Beckford, juga pernah menceritakan tentang Ghul, seekor jenis makhluk mengerikan dari legenda bangsa Arab kuno ini.

Dalam artian literasi, Ghoul acap kali digunakan sebagai ungkapan orang-orang yang menyeramkan, seperti pembunuh berantai, atau yang mempunyai pekerjaan dengan hal yang menakutkan, seperti tukang kubur atau perias mayat.

Namun Marc Cramer dan orang-orang yang satu kepercayaan dengannya, percaya bahwa istilah Ghoul secara etimologis (asal mula kata) berkaitan dengan Gallu, iblis jahat Mesopotamia.

Hiiih, betapa membuat bulu kuduk merinding ya, Minna-san? Eh, ngomong-ngomong, kok kayak judul lagu ya?? *plak* *ditabok pakai panci* *gaje*

Capt. Ilustrasi Ghoul atau Ghoul

Tak disangka, ternyata Tokyo Ghoul mempunyai asal mula cerita yang panjang.

Entah terinspirasi dari cerita yang mana, tapi hal yang perlu diketahui bahwa kadang ide pokok alur cerita anime diambil dari legenda atau sejarah peradaban kuno.

Mungkin sebagai ungkapan bahwa kita selaku generasi modern tidak seharusnya melupakan budaya lama. Seperti cerita rakyat, legenda-legenda, mitos, asal muasal suatu kota, sejarah, kejadian apa yang pernah terjadi di masa lampau, petuah orang tua lama, dan hal kolot lainnya, untuk pengetahuan kita semata.

Ingat, Bung Karno atau Soekarno Hatta, presiden pertama kita selalu bilang, “Jas merah! Jangan suka melupakan sejarah!”

Mungkin slogan beliau perlu kita terapkan mulai dari sekarang, bahwa tanpa budaya dan sejarah, maka suatu bangsa telah kehilangan identitasnya.

Jangan buat Indonesia sampai mengalaminya hal tersebut ya, Minna-san. 🙂 Kehilangan identitas dan menjadi sesuatu yang lain bukanlah hal baik dalam kehidupan ini.

SHARE
Previous articleIngin Pergi Ke Kebun Strawberry di Jepang? Kunjungi Micro Pertanian Ichigo Juku Tokyo!
Next articleTeaser Baru Untuk “Get iT Out Project: SiM vs Crossfaith vs Red Bull Air Race” Diluncurkan!
Winata SilenceAngelo merupakan seorang penulis remaja yang lahir pada 3 September 1997 di kota Karawang. Kecintaannya terhadap diksi yang melankolis serta menyentuh mengantarkannya ke dunia kepenulisan. Pada umurnya yang masih sangat muda ini, ia berhasil meraih beberapa penghargaan sastra serta menjadi kontributor dari buku-buku puisi. Menurut Winata, dalam sebuah naskah, entah itu novel, cerpen, esai, puisi, atau sekadar kata-kata, yang terpenting adalah unsur amanat. Seperti ketajaman pada ujung mata pedang, amanat merupakan apa yang menjadi tolak ukur suatu seni. Di sanalah segala dari pemikiran sang penulis bermuara, hingga kemudian menunjukan keindahannya dengan sangat artistik.