Tak ubahnya Indonesia dan negara-negara lain, Jepang juga sarat akan permainan tradisional. Jepang memiliki banyak mainan tradisional yang telah menghibur anak-anak dari generasi ke generasi. Dalam era yang telah sepenuhnya modern seperti ini, anehnya beberapa mainan tradisional ini masih sangat populer di kalangan generasi muda Jepang, khususnya para remaja. Kebanyakan dari mereka memainkannya pada saat perayaan tahun baru.

Wah, sesuatu yang patut diapresiasi bukan? Setidaknya dengan begitu budaya lokal tidak pernah lenyap dari Negeri Matahari Terbit tersebut, menarik minat penasaran para pelancong dunia untuk mengetahuinya. Berikut disajikan daftar 4 permainan tradisional di Jepang yang masih eksis sampai sekarang.

Hanetsuki

Alat permainan Hanetsuki yang dijual bebas di toko

Hanetsuki sebenarnya seperti permainan badminton atau bulu tangkis, namun tanpa menggunakan net (jaring pembatas) dan raket yang dipakai tidak panjang seperti biasanya, melainkan pendek seperti pemukul pada tenis meja. Permainan ini menggunakan raket yang dinamai Hagoita, terbuat dari kayu persegi panjang berhiaskan gambar bunga-bunga bersama Kok yang dicat warna-warni. Koknya sendiri dibuat dari biji buah Mukuroji (pohon dari familia Sapindaceae) yang ditusukkan dengan bulu unggas (angsa, bebek, atau burung besar lain). Sering kali dimainkan oleh anak perempuan di perayaan tahun baru, dipercaya mengusir kesialan dari anak tersebut dan membawakannya keberuntungan dari langit.

Diketahui ada dua cara untuk bermain Hanetsuki. Pertama, bersaing memukul Kok tinggi-tinggi selama mungkin tanpa jatuh ke tanah. Kedua, saling memukul Kok antar pemain satu sama lainnya dengan kecepatan sedang dan arah beraturan. Pemain yang gagal memukul akan menerima hukuman, yaitu wajahnya akan dicoret menggunakan tinta atau bedak yang dicampur air.

Ohajiki

Ohajiki yang sedang dimainkan oleh anak kecil

Ohajiki adalah permainan dengan menggunakan kelereng namun berbentuk bulat pipih (seperti biji / cakram Karambol tapi lebih kecil) yang dinamai Ohajiki dengan diameter sekitar 1-1.5 cm. Peraturan dasar pada permainan yang juga disebut B-Dama ini adalah kita harus membidik dan menembakan ohajiki-ohajiki tersebut dengan tepat mengenai Ohajiki yang ada. Ohajiki yang berhasil ditembak akan diambil oleh sang penembak dan kemudian menjadi miliknya. Permainan ini lebih sering dimainkan oleh anak-anak perempuan di Jepang ketimbang anak laki-laki.

Sekilas, Ohajiki mirip sekali dengan permainan Kelereng di Indonesia, Minna-san. Peraturan permainan pun hampir sama. Yang membedakan adalah gundu yang digunakan dan cara menembakkannya dengan jari. Kalau kita biasanya menempatkan gundu diantara dua jari-jemari tangan, lalu salah satu jari menjetiknya hingga terlempar ke target. Akan tetapi Ohajiki hanya menggunakan dua jari dari satu tangan, yaitu telunjuk dan jempol untuk melesatkan gundunya. Lebar lapangan permainannya pun tidak seperti Kelereng yang lumayan luas, lapangan permainan Ohajiki hanya sekitar 1×1 meter dengan jarak beberapa senti antara gundu satu sama lain. Ya, lazimnya saja dimainkan oleh anak-anak perempuan yang masih balita.

Daruma Otoshi

Daruma Otoshi yang terdiri dari bbrpa cakram kayu

Permainan ini menggunakan boneka Daruma sebagai kepalanya yang disusun menggunakan cakram kayu seperti Yoyo dari 5 bagian cakram atau lebih. Umumnya tiap bagian dari cakram tersebut mengikuti warna pelangi (biru, merah, kuning, dan hijau), namun kadang juga mengikuti warna lain yang disukai atau memiliki simbol sesuai kepribadian seseorang. Dimainkan dengan menggunakan palu kecil yang terbuat dari kayu juga, dipakai untuk memukul tiap bagian cakram dari yang paling bawah hingga ke atas sampai meloncat jauh dan bercerai dengan tubuh Daruma. Selama permainan Daruma Otoshi, selain bagian yang dipukul, bagian lainnya tidak boleh lengser atau jatuh, apalagi kepala boneka kayu Darumanya. Jika hal tersebut terjadi, permainan akan selesai dan si pemukul dinyatakan kalah.

Mengikut data, Daruma sendiri adalah sebuah boneka lonjong yang bagian bawahnya lebih berat dan lebih besar ketimbang bagian atas, sehingga Daruma bisa berdiri tegak dengan sendirinya saat ditekan miring. Daruma adalah gambaran dari sang Bodhidarma pendiri Zen, seorang resi yang dengan tegar nan sabar bermeditasi selama 9 tahun lamanya sembari menghadap vihara Shaolin. Dijual dengan kedua mata yang belum selesai dilukis, orang Jepang yang percaya akan membeli boneka kayu tersebut sebagai wujud pengharapan yang belum terkabulkan. Orang yang ingin harapannya terwujud biasanya melukis sebelah mata Darumanya sendiri, dan jikalau harapan tersebut benar-benar terwujudkan maka Daruma pantas mendapat satu matanya lagi.

Takeuma

Unicode

Takeuma bisa dibilang Egrangnya orang Jepang.

Cara bermain Takeuma mirip dengan bermain Egrang di Indonesia. Pemain berjalan bersama 2 buah tongkat bambu panjang yang dipasangkan bambu-bambu kecil di tiap bagian sepertiga bawah tongkat sebagai pijakan kakinya. Semakin tinggi Takeuma, maka tentu semakin tinggi bambu pijakan, dan semakin sulit pula menggunakannya. Hanya saja perbedaannya, orang-orang pada Negeri Sakura akan memakai kimono atau yukata yang merupakan pakaian tradisional mereka sebagai adat-istiadat sambil bermain Takeuma. Boleh jadi Takeuma adalah permainan dari Jepang yang diserap oleh Indonesia saat penjajahan dahulu dan diganti nama permainannya karena sulit diucapkan oleh lidah lokal.

Nah, itulah 4 permainan tradisional yang masih populer di Jepang. Dan ternyata, bukan hanya teknologi negaranya saja yang maju, tapi orang-orang Jepang juga sangat peduli terhadap kelestarian budayanya. Tandanya, permainan-permainan lama ini masih sangat sering dimainkan, meskipun sekarang gadget lebih punya kecanggihan dalam dunia gaming. Apalagi ketika tahun baru tiba, para nihon-jin (penduduk Jepang) akan beramai-ramai memainkan permainan tradisional ini bersama keluarga, saudara, atau teman-temanya. Tidak tercakup umur atau apapun, semuanya akan dengan senang hati memakai kimono atau yukata, bersenda gurau seraya memainkan permainan tersebut. Organisasi dab kelompok yang ada pun tidak mau kalah, mereka selalu menyelenggarakan lomba-lomba permainan adat ini atau event sejenisnya yang pastinya menambah kemeriahan tahun baru.

Jadi, buat Minna-san semua, atau Akiba-chan dan Akiba-kei yang hendak travelling ke Negeri Matahari Terbit, dianjurkan untuk travelling ketika tahun baru akan tiba. 🙂

SHARE
Previous articleSeason Kedua “Gakusen Toshi Asterisk” Luncurkan Trailer Bersubtitle Inggris
Next articleWow! Film Doraemon Terbaru Jadi Jawara Bertahan di Box Office
Winata SilenceAngelo merupakan seorang penulis remaja yang lahir pada 3 September 1997 di kota Karawang. Kecintaannya terhadap diksi yang melankolis serta menyentuh mengantarkannya ke dunia kepenulisan. Pada umurnya yang masih sangat muda ini, ia berhasil meraih beberapa penghargaan sastra serta menjadi kontributor dari buku-buku puisi. Menurut Winata, dalam sebuah naskah, entah itu novel, cerpen, esai, puisi, atau sekadar kata-kata, yang terpenting adalah unsur amanat. Seperti ketajaman pada ujung mata pedang, amanat merupakan apa yang menjadi tolak ukur suatu seni. Di sanalah segala dari pemikiran sang penulis bermuara, hingga kemudian menunjukan keindahannya dengan sangat artistik.