Dalam sebuah manga atau anime memang sering diperlihatkan tentang karakter Hikikomori. Biasanya sih kalau dalam anime, pelaku hikikomori lebih sering tampil sebagai sosok anak SMA useless yang hidup dalam tumpukan sampah dan game. Lalu tiba-tiba wooos jadilah ia hero isekai yang memulai hidup barunya di dunia lain.

Tapi kalau di kehidupan nyata nggak gitu sih. Pelaku hikikomori di jepang tidak dengan mudah bisa “berjuang” untuk dirinya sendiri. Tahun 2014 lalu misalnya, sebuah program TV berjudul Asaichi NHK menggelar diskusi tentang populasi pelaku hikikomori yang ternyata kebanyakan adalah orang-orang paruh baya. Bukan anak muda yang dengan gampangnya meninggalkan dunia sosial dan hidup mandiri sendiri.

pelaku hikikomori
Hikikomori tidak seindah dalam anime

Bahkan hasil mengejutkan muncul dari hasil survey terbaru KHJ National Hikikomori Association of Families Federation (KHJ全国 ひきこもり 家族会 連合会/KHJ Zenkoku Hikikomori Kazoku Kai Rengokai). Hasil survey tersebut menunjukkan bahwa pelaku hikikomori banyak yang berumur 34 tahun keatas. Hal ini berarti membuktikan umur pelaku yang sekarang lebih tua bila dibanding dengan sepuluh tahun lalu.

Dan info selanjutnya yang terungkap adalah ada 80 keluarga yang sudah masuk asosiasi KHJ. Salah satunya adalah seorang ibu dengan anak lelakinya yang sudah hidup menyendiri selama bertahun tahun. Ibu tersebut memutuskan masuk asosiasi karena khawatir bagaimana nasib anaknya kelak bila ia mati.

kamar hikikomori

Nah, semakin tinggi usia hikikomori juga berarti bertambahnya umur anggota keluarga mereka yang berubah menjadi pengasuh. Pada bulan Maret, KHJ merilis sebuah pernyataan yang menjelaskan “8050 masalah”. Dimana orang tua di usia 80-an malah bertanggung jawab untuk merawat anak-anak mereka yang berusia 50 tahun yang menganggur dengan menggunakan dana pensiun mereka sendiri. KHJ berharap untuk meringankan beberapa tanggung jawab itu.

Mantan pelaku hikikomori yang diwawancara bernama A-San juga turut buka suara melalui Mainichi Shinbun. Ia mengaku mulai menjadi hikikomori pada pertengahan usia 30 an. Ia lulus SMA namun DO dari sekolah keperawatan karena mengalami phobia sosial. Ia tidak pergi kuliah karena menghindari bully dan hanya diam dirumah.

A-San mulai “berjuang” melawan hikikomorinya setelah sang ibu menemukan cara yang tepat dan meminta saran lebih rinci kepada asosiasi. Ibu tersebut mulai mensupport anaknya dengan cara mengajak berjalan jalan di luar rumah secara rutin. Sampai akhirnya A-San terbiasa berinteraksi dengan orang lain.

Ketua KHJ, Isao Sakamoto juga berkata bahwa hikikomori bukanlah masalah pribadi. Ini adalah masalah kompleks yang harus dipecahkan bersama. Terutama keluarga. Oleh dari itu ia memohon agar keluarga yang memiliki anggota seorang hikikomori tidak putus asa dan terus mendukung yang bersangkutan untuk pulih.

Saat ini ada lebih dari setengah juta orang jepang antara umur 15 – 40 tahun yang masih berjuang dengan hikikomori. Pemerintah berharap dengan adanya asosiasi dan terapi dapat membantu memulihkan kondisi mereka sehingga jumlahnya berkurang tahun depan.

Comments

Loading...