Dari judulnya saja pasti membuat penasaran bukan, Minna-san? “Oshiya, Pekerja Paruh Waktu Yang Bertugas Mendorong Orang Masuk Ke Kereta,” Pekerjaan mendorong orang masuk ke kereta? Pekerjaan macam apa itu? Kurang-lebih seperti itulah hal yang boleh jadi ada di pikiran Minna-san. Bertanya-tanya, memangnya ada ya, sebuah instansi transportasi publik seperti kereta ini membutuhkan pekerja yang tugasnya mendorong orang-orang masuk ke kereta? Memangnya mereka tidak bisa masuk sendiri? Kenapa harus didorong-dorong segala coba? Nah, rentetan pertanyaan Minna-san akan segera terjawab, berikut adalah ulasan tentang Oshiya yang Penulis tulis khusus untuk Minna-san, sebuah pekerjaan paruh waktu di Jepang yang bertugas mendorong para penumpang masuk ke ke kereta. Check it out! πŸ™‚
Cap.Shinkansen Adl Kereta Paling Banyak Diminati

 

Jepang adalah negara maju yang sangat terkenal dengan kepadatan penduduknya. Bahkan, China sendiri yang adalah negara peraih peringkat pertama terpadat di dunia, mengakui bahwa Negeri Matahari Terbit merupakan pesaing terbaik dalam daftar jumlah penduduk tersebut. Selain itu, Jepang juga merupakan negara yang paling sibuk. Orang-orang di Jepang sangat tinggi tingkat kesetiaannya pada pekerjaan serta karir. Bagi mereka, hidup untuk bekerja, dan bekerja untuk hidup. Oleh karenanya, tak heran jika di sana, pada saat pagi hari di mana jam paling relatif untuk pergi ke kantor, yakni sekitar pukul 06.00 sampai 08.00, maka dapat dipastikan padatlah sebuah stasiun kereta di sana. Begitu juga sebaliknya, pukul 03.00 sampai 05.00 yang merupakan membludaknya arus pulang para pekerja. Apalagi, di Tokyo, hampir seluruh warga bepergian dengan menggunakan kereta api melebihi moda transportasi lain seperti sepeda, bus dan kendaraan pribadi.

Dari 48 persen orang yang menggunakan jaringan rel publik, 22 persen diketahui menggunakan jaringan kereta bawah tanah yang tersedia di berbagai kota. Kondisi ini membuat stasiun kereta di Jepang menjadi sangat padat dan penumpang menjejali setiap kereta yang melintas. Jika Minna-san adalah salah satu pengunjung atau wisatawan yang sedang berada di stasiun JR Kyoto, hendak pergi ke Arashiyama, maka Minna-san bisa melihat kejadian langka seperti ini. Para penumpang yang berebut masuk satu sama lain sehingga menimbulkan keributan sejenak yang amat lucu.

Capt. Keramaian Penumpang Kereta Di Stasiun Jepang

Tapi, jangan sangka sosok manajer yang mengatur ruang lingkup instansi stasiun kereta di sana hanya diam saja dan berpangku tangan, salah jika Minna-san berpikiran seperti itu, karena Jepang bukanlah negeri yang lebih mementingkan keuntungan ketimbang kualitas dari suatu pelayanan. Mereka lebih senang mempertahankan mutu suatu objek sehingga itulah yang nantinya membuat usaha mereka berkembang sangat pesat, tidak pelak jika perusahaan orang Jepang mempunyai produk yang ‘bandel’ dan sangat mengagumkan. Begitu pula dengan ranah akomodasi transportasi, Negeri Bunga Sakura menanggapi akan permasalahan ini. Selain meningkatkan kuantitas atau jumlah dari alat transportasi kereta, mereka juga merekrut jasa dari ‘Pendorong Penumpang’ yang disebut Oshiya.

Capt.Oshiya Harus Memastikan Pintu Kereta Tertutup

Oshiya berasal dari bahasa Jepang β€˜osuβ€™γ€€ζŠΌγ™ atau mendorong dan β€˜ya’ 屋 atau suffik yang menunjukkan pekerjaan seseorang. Oshiya adalah petugas stasiun yang bertugas mendorong penumpang untuk dapat masuk dalam kereta yang penuh. Setiap kali rush hour, Oshiya siap membantu penumpang yang sulit untuk masuk ke dalam kereta. Oshiya akan terus mendorong penumpang hingga pintu kereta tertutup dengan baik. Mereka berkewajiban memastikan banyak orang yang ‘keukeuh’ ingin masuk ke dalam kereta benar-benar masuk.

Layaknya pegawai stasiun lain, Minna-san, Oshiya juga diberikan seragam khusus dan tampil sangat rapi. Mereka berpakaian putih bersih serta bersarung tangan, tak ubah dengan resepsionis hotel. Mereka pula hanya duduk diam, mengamati keadaan sekitar jika stasiun tidak sedang begitu ramai penumpang, sedikit membantu membawakan bawaan para penumpang yang sulit dimasukkan ke kereta, dan sebagainya.

Oshiya bukanlah pekerja tetap, mereka hanyalah pekerja part time atau paruh waktu. Diambil dari masyarakat yang dipercaya oleh instansi untuk menjalankan pekerjaan ini. Di dalam kereta, setiap orang akan mencoba menyelipkan tubuhnya sebisa mungkin agar bisa menempati celah kecil di antara penumpang. Bahkan, Minna-san dapat melihat kaki seseorang melayang saking padatnya kereta. Dianjurkan untuk Minna-san, saat naik tolong berhati-hati agar salah pilih posisi, Minna-san sebagai penumpang bisa melewati stasiun yang ditujunya. Jika sudah begitu, penumpang tersebut harus kembali menggunakan kereta ke arah sebelumnya dan berdesak-desakkan dengan penumpang lain. Tak heran, jika jasa oshiya sangat dibutuhkan.

Oshiya juga pernah ada di New York, meski bukan sebagai profesi resmi, seperti halnya Oshiya. Pada 1918, para petugas keamanan dikerahkan untuk mendorong para penumpang masuk ke kereta. Dua tahun kemudian, profesi sebagai pendorong penumpang menjadi terkenal di seluruh dunia.

Namun, mengikut ulasan CNN News, The Richest, gizmodo.com, dan sejumlah sumber lain, Oshiya di Jepang kini sudah sangat jarang ditemukan. Hal tersebut dikarenakan alat transportasi kereta sudah mulai marak dan banyak jumlahnya, pemerintah Jepang sangat giat dalam mengatasi masalah kemacetan lalu lintas publik. Sehingga melewati tahun 1940-an, Oshiya tinggal kenangan. Sudah tidak sering dilihat kehadirannya dalam ranah alat transportasi kereta cepat di Negeri Matahari Terbit. Namun, terkadang, masih ada beberapa Oshiya yang terlihat ada di stasiun kereta Jepang, beberapa stasiun memang sengaja tetap mengadakan staf Oshiya. Meski alat transportasi kereta di sana sudah berjibun, tidak mustahil bahwa kemacetan dalam masuk ke kereta bisa terjadi kapan saja.

Cover (1)

Wah, hebat bukan, Minna-san? Hal tersebut terjadi dikarenakan di Jepang orang-orangnya sangat menghargai waktu. Mereka tidak mau menyia-nyiakan waktu mereka, bahkan teruntuk menunggu kereta selanjutnya datang. Kita sebagai para generasi penerus bangsa mesti mecontoh semangat yang berapi-api dari penduduk Jepang tersebut, sehingga kesuksesan kita dapat raih dengan mudah. Sawah tanpa ditanam dan dibajak dengan baik tidak akan pernah tumbuh dan menghasilkan padi terbaik. πŸ™‚ Tapi, bagaimana tanggapan Minna-san? Perlukah Indonesia juga merekrut Oshiya agar lalu lintas tidak macet? Ya, meski dapat dikatakan bahwa kemacetan di Indonesia terjadi bukan pada saat masuk ke dalam kereta, melainkan di jalan yang sesungguhnya karena penuh dengan kendaraan pribadi.

SHARE
Previous articleMitologi 9 Dewa Perang Jepang Dalam Naruto Part #3
Next articleWaifuMaster Eps. 6: Umi Sonoda (Love Live!)
Winata SilenceAngelo merupakan seorang penulis remaja yang lahir pada 3 September 1997 di kota Karawang. Kecintaannya terhadap diksi yang melankolis serta menyentuh mengantarkannya ke dunia kepenulisan. Pada umurnya yang masih sangat muda ini, ia berhasil meraih beberapa penghargaan sastra serta menjadi kontributor dari buku-buku puisi. Menurut Winata, dalam sebuah naskah, entah itu novel, cerpen, esai, puisi, atau sekadar kata-kata, yang terpenting adalah unsur amanat. Seperti ketajaman pada ujung mata pedang, amanat merupakan apa yang menjadi tolak ukur suatu seni. Di sanalah segala dari pemikiran sang penulis bermuara, hingga kemudian menunjukan keindahannya dengan sangat artistik.