Setelah Greenland, Papua adalah pulau terbesar kedua di dunia sekaligus terbesar pertama di Indonesia. Pulau dengan luas mencapai 808.105 kilometer persegi ini merupakan pulau yang paling beraneka ragam. Setidaknya diketahui ada lebih dari puluhan hingga ratusan suku pedalaman yang menghuni Pulau Papua. Kehidupan suku-suku ini kebanyakan masih belum modern dan belum terjamah dunia luar sehingga masih sangat tradisional. Oleh karenanya, ada sebuah suku di Papua yang penasaran dengan payudara wanita Jepang bahkan sampai meremasnya.

Kejadian ini bermula ketika seorang reporter perempuan NTV asal Jepang meliput suku pedalaman di desa Korowai, Papua, yang mana berbatasan dengan negara Papua Nugini. Ada sekitar lima orang wanita suku pedalaman dengan pakaian seadanya (terbuat dari bahan alam yang belum diolah menjadi kain alias masih berupa daun tanaman) berkumpul bersama reporter wanita itu. Salah satu di antaranya lalu mengintip isi dada si reporter. Kemudian, karena penasaran, beberapa wanita lain mencoba meremasnya.

payudara wanita jepang

Menanggapi hal tersebut, reporter wanita itu tertawa. Apalagi setelah mendengar celoteh sekumpulan ibu-ibu suku Korowai tentang payudara wanita Jepang. Kelakuan mereka yang berkeingintahuan tinggi mengenai seperti apa bentuk dan tekstur buah dadanya membuat ia merasa malu sekaligus lucu. Bagaimana tidak merasa malu dan lucu? Jika ada kerumunan suku pedalaman yang sangat penasaran dengan buah dada kita? Peristiwa tersebut lalu diabadikan dan disiarkan oleh pihak NTV pada 2 Mei 2017 malam hari waktu setempat.

“Wah bagus, cantik, lembut, dan putih! Aduuuhh, bagus sekali buah dadanya,” ujar salah seorang wanita suku Korowai ketika mengintip dan meremas payudara reporter.

Dalam liputan, diketahui bahwa sebagian dari masyarakat suku Korowai telah memilih keluar dari pedalaman hutan untuk mendapatkan fasilitas kota Papua yang lebih baik. Seperti halnya bersekolah, bekerja, dan sebagainya. Namun ketika diwawancara, anak-anak suku Korowai berkata bahwa mereka lebih nyaman tinggal di tempat tinggalnya sekarang dan tidak mau keluar dari pedalaman hutan.

Baca juga: Maskot Aneh dan Menyeramkan di Jepang Yg Bisa Bikin Nightmare

“Enak di sini saja. Bebas, nyaman, makanan semua ada. Tak berkekurangan. Tak mau keluar (dari pedalaman),” papar mereka.

Meski begitu, di pedalaman ada ancaman besar berupa penyakit malaria. Nyamuk Anopheles yang merupakan faktor utama terjangkitnya malaria memang mempunyai habitat alami di hutan dan rawa-rawa. Untuk mengantisipasi permasalahan ini, penyaluran obat malaria dan tenaga medis masih terus diberlangsungkan ke pedalaman Papua. Masyarakat pedalaman seperti suku Korowai ini juga ikut andil dalam pencegahannya dengan membuat tempat tinggal rumah panggung dan rumah pohon.

payudara wanita jepangNTV juga menjelaskan bahwa penyebaran listrik ke pedalaman Papua belum merata. Di desa Korowai tidak ada gas, dan air berasal dari sungai yang ada di sana, dipakai untuk minum, memasak dan untuk mandi. Sedangkan makanan mengandalkan sumber daya alam seadanya seperti binatang hutan, baik babi, kelelawar, tikus, ikan, dan lain-lain. Sagu adalah makanan pokok suku Korowai sebagai pengganti nasi. Sekali tebang bisa membuat sagu yang cukup untuk persediaan dari hari ke hari.

Pakaian suku Korowai juga seadanya. Para wanita di desa terpencil tersebut memakai kain gendongan untuk anak mereka yang dibuat dari bahan baku alami. Dedaunan pertama-pertama dijadikan benang, kemudian dirajut secara manual menyerupai kain gendongan. Selain itu, ada satu hal yang unik. Marko, salah seorang warga suku Korowai mengatakan dengan nada diplomatis bahwa penghijauan pohon sagu harus dilakukan demi tersedia bahan pangan untuk generasi mendatang.

Itulah kisah tentang sebuah suku pedalaman di Papua yang penasaran dengan payudara wanita Jepang hingga meremasnya. Bagaimana tanggapan Akiba-chan dan Akiba-kei mengenai hal ini? 😀

Comments

SOURCEVideo by Kawasaki-San DM
SHARE
Previous article20 Year Harvest Moon! Umumkan Light of Hope tuk PS, PC, Switch!
Next articleSetlist Terbaru Tim J JKT48 ‘Sekarang Sedang Jatuh Cinta’ Kini Dimulai
Winata SilenceAngelo merupakan seorang penulis remaja yang lahir pada 3 September 1997 di kota Karawang. Kecintaannya terhadap diksi yang melankolis serta menyentuh mengantarkannya ke dunia kepenulisan. Pada umurnya yang masih sangat muda ini, ia berhasil meraih beberapa penghargaan sastra serta menjadi kontributor dari buku-buku puisi. Menurut Winata, dalam sebuah naskah, entah itu novel, cerpen, esai, puisi, atau sekadar kata-kata, yang terpenting adalah unsur amanat. Seperti ketajaman pada ujung mata pedang, amanat merupakan apa yang menjadi tolak ukur suatu seni. Di sanalah segala dari pemikiran sang penulis bermuara, hingga kemudian menunjukan keindahannya dengan sangat artistik.