Akiba–chan dan Akiba–kei pernah dengar nama Oda Nobunaga? Sepertinya nama itu terkenal sekali ya, di Jepang. Apalagi kalau yang suka main game Touken Ranbu, pasti sering dengar istilah Odagumi atau “Pedang – pedang Oda Nobunaga”. Sebenarnya, siapa sih beliau itu? Dan impact apa saja yang sudah beliau berikan kepada Jepang?

“Nobunaga membuat mochi, Hideyoshi menguleninya, dan pada akhirnya, Ieyasu duduk dan memakannya.”

Oda Nobunaga

Oda Nobunaga merupakan sosok besar dalam sejarah Era Shogunate di Jepang. Beliau lahir pada tanggal 23 Juni 1534 di daerah Owari. Lahir sebagai anak dari istri sah Oda Nobuhide, seorang tuan tanah di Owari, Nobunaga ditetapkan sebagai penerus sah Nobuhide. Banyak yang mengatakan Nobunaga lahir di Kastil Nagoya, tetapi hal ini masih menjadi perdebatan.

Pada awal masa remajanya, beliau dikenal dengan nama Owari no Ōutsuke. Hal ini dikarenakan sikapnya yang kasar dan sembrono. Padahal, beliau sengaja melakukan itu agar masyarakat dan musuh – musuh nya tidak mengetahui sifat dan kecerdasan aslinya.

Setelah wafatnya Nobuhide, Nobunaga mengajak Oda Nobumitsu, adik paling muda dari Nobuhide untuk menjadi sekutunya. Dengan bantuan Nobumitsu, Nobunaga berhasil membunuh Nobutomo di Kastil Kiyosu. Nobunaga kemudian membuat aliansi dengan Klan Imagawa dari Provinsi Suruga dan Klan Kira dari Provinsi Mikawa. Nobunaga lalu memimpin pasukannya untuk berperang melawan klan Saito dari Mino yang dipimpin oleh Saito Dozan pada tahun 1548.

Beberapa bulan kemudian, Nobuyuki, saudara dari Nobunaga, memberontak Nobunaga dengan bantuan dari Shibata Katsuie dan Hayashi Hidesada. Pemberontakan itu berhasil dikalahkan oleh pasukan Nobunaga pada Battle of Ino. Tetapi, Nobuyuki dimaafkan oleh Nobunaga atas campur tangan Tsuchida Gozen, ibu sah dari kedua orang tersebut.

Tetapi, satu tahun kemudian Nobuyuki kembali melakukan pemberontakan terhadap Nobunaga. Rencana ini sampai ke telingan Nobunaga dari mulut Shibata Katsuie. Nobunaga lalu berpura – pura sakit untuk kemudian membunuh Nobuyuki di Kastil Kiyosu.

Baca Juga: Onryou, Roh yang “Menularkan” Kematian

Ashikaga Yoshiaki datang ke Gifu untuk meminta Nobunaga memulai kampanyenya di Kyoto pada tahun 1568. Yoshiaki adalah saudara Shogun ke – 13 dari keshogunan Ashikaga, Yoshiteru. Yoshiaki ingin membalaskan dendam kepada sang pembunuh yang telah menetapkan shogun baru, yaitu Ashikaga Yoshihide.

Untuk mencapai keuntungan dari memasuki wilayah Kyoto, Nobunaga setuju untuk menjadikan Yoshiaki sebagai Shogun Ashikaga yang baru dan memulai kampanyenya. Akan tetapi, Klan Rokkaku dari provinsi Oumi paling selatan, menolak gagasan tersebut dan menyatakan perang.

Sesuai dugaan, Nobunaga dan pasukannya berhasil menang mudah dan mengusir Klan Rokkaku keluar dari kastilnya.

Dalam waktu singkan, Nobunaga dan pasukannya sampai dan berhasil mengusir Klan Miyoshi keluar dari Kyoto. Yoshiaki berhasil diangkan menjadi Shogun ke – 15 dalam keshogunan Ashikaga. Ternyata, Nobunaga memiliki maksud untuk menanamkan cakarnya di keshogunan tersebut. Yoshiaki yang tidak terima, berdiskusi secara rahasia dengan para tuan tanah setempat dan membuat aliansi anti – Nobunaga.

Semenjak itu, banyak terjadi penolakan terhadap Klan Oda yang kekuatannya semakin bertambah. Salah satunya adalah Pertempuran Anegawa, bermula dari rasa tidak terima Klan Asakura akan peningkatan kekuasaan Klan Oda.

Saat Nobunaga memulai kampanyenya di kawasan Klan Asakura, Azai Nagamasa, salah satu menantu Oda Nobunaga, memutuskan tali aliansi antara Oda – Azai. Hal ini dilakukan untuk menghormati aliansi Azai – Asakura. Mendapat bantuan dari para pemberontak Ikko, para aliansi anti – Nobunaga menyerang Klan Oda. Pada Pertempuran Anegawa ini, salah satu orang kepercayaan Nobunaga, Tokugawa Ieyasu, turut serta dalam pertempuran dan mengalahkan pasukan Azai – Asakura.

KEHIDUPAN PERNIKAHAN

Oda Nobunaga menikah dengan Nouhime, putri dari Saitou Dousan demi kepentingan politik. Akan tetapi, Nouhime dinyatakan tidak bisa memiliki anak. Nobunaga mengambil Kitsuno dan Lady Saka sebagai selir dan mendapatkan anak dari mereka. Kitsuno melahirkan putra tertua Nobunaga, Nobutada. Nobutada nantinya akan memiliki putra bernama Hidenobu yang menjadi penerus pemimpin Klan Oda setelah Nobunaga dan Nobutada wafat.

Kemudia, Hidenobu mempunyai anak bernama Oda Nobuhide. Nobuhide adalah seorang nasrani yang mengambil nama baptis “Peter”. Selanjutnya, ia diadopsi oleh Totoyomi Hideyoshi.

NOBUNAGA DAN PARA TANGAN KANANNYA

Oda Nobunaga tidak lepas dari dua orang kepercayaannya yaitu Tokugawa Ieyasu dan Hideyoshi.

Hideyoshi dibawa dari petani yang tidak dikenali. Beliau adalah orang yang membuat peraturan bahwa kasta dalam samurai bersifat tetap dan keturunan. Pada tahun 1586, beliau menetapkan bahwa kaum non – samurai dilarang untuk membawa senjata. Peraturan ini berlaku sampai masa keshogunan Edo.

Walau begitu, Hideyoshi berhasil mendapatkan gelar “Pewaris Nobunaga” setelah ia membunuh Akechi Mitsuhide satu bulan setelah wafatnya Oda Nobunaga.

Tokugawa Ieyasu memiliki cerita yang berbeda lagi. Ia dienal sebagai teman masa kecil dari Nobunaga. Ia pernah ditahan saat kecil sebelum dibebaskan kembali oleh Nobunaga. Ieyasu juga pernah bertempur beberapa kali melawan Klan Oda. Pada akhirnya, Ieyasu menyatakan kesetiaannya kepada Nobunaga dan menjadi aliansi yang terkuat.

PERISTIWA HONNOUJI

Pada tahun 1582 terjadi Pertempuran Temmokuzan, di mana Klan Oda berhasil meluluh – lantakan Klan Takeda. Nobunaga yang saat itu sedang berusaha mempersatukan Jepang Tengah, berada dalam puncak kejayaan. Hal ini karena “batu sandungan kuat” yang tersisa hanya tinggal Klan Uesugi, Klan Mori, dan Klan Hojo.

Saat itu Klan Uesugi sedang dalam masa kritis pasca wafatnya Uesugi Kenshin. Pemimpin yang berkuasa akan Klan Hojo saat itu, Hojo Ujimasa, juga tidak secakap Hojo Ujimasu, pemimpin yang terdahulu.

Merasa itu adalah waktu yang tepat, Nobunaga mengirimkan Hideyoshi menyerang Klan Mori, Niwa Nagahide mempersiapkan penyerangan ke Shikoku, Takigawa Kazumasu mengawasi klan Hojo, dan Shibata Katsuie menginvasi Echigo yang dikuasai klan Uesugi.

Saat Nobunaga sedang berkeliling wilayah Kansai dengan Tokugawa Ieyasu, beliau menerima permintaan tolong dari Hideyoshi yang mengalami kesulitan dalam pengepungan Benteng Takamatsu yang dipertahankan oleh seorang Klan Mori.

Nobunaga berpisah dengan Ieyasu untuk membantu Hideyoshi. Beliau memerintahkan salah satu ajudannya, Akechi Mitsuhide, untuk berangkat terlebih dahulu karena Nobunaga akan singgah di Kyoto dan bermalam di Honnouji.

Setelah mendapat perintah tersebut, Akechi Mitsuhide kembali ke Kastil Sakamoto di Provinsi Tamba yang merupakan markas besarnya. Mitsuhide merencanakan pengkhianatan. Ia memimpin pasukan aliansi anti – Nobunaga ke Kyoto dengan dalih “Pameran Militer”. Tetapi saat pasukan itu sudah berada dekat dengan Honnouji, Mitsuhide berseru “Musuh berada di Honnouji!”

Pasukan Nobunaga yang tidak siap berhasil dikalahkan. Mori Ranmaru, salah satu pengawal Nobunaga yang paling setia gugur dalam tragedi itu. Dalam kuil Honnouji yang terbakar, Oda Nobunaga yang terluka paraj melakukan seppuku demi menjaga keselamatannya.

Setelah menghancurkan Honnouji, Mitsuhide menyerang Kastil Nijo tempat Oda Nobutada, putra sulung dan calon penerus Nobunaga, bermalam. Nobutada pun mengikuti jejak ayahnya melakukan seppuku di kastil yang telah terkepung itu.

Walau pun Akechi Mitsuhide berhasil menghancurkan Nobunaga, kepemimpinannya tetap tidak diakui oleh para pengikut Klan Oda, termasuk dari keluarga menantunya sendiri.

Tokugawa Ieyasu yang saat itu sedang berada di Sakai melarikan diri lewat pegunungan di Provinsi Iga sampai wilayah pantai Provinsi Ise. Ia kembali dengan selamat ke wilayah kekuasaannya, Mikawa.

Setelah kejadian ini, Hideyoshi yang saat itu masih bertanggung jawab akan Klan Mori berusaha menutupi fakta bahwa Nobunaga telah tiada. Para pengirim pesan dari Mitsuhide untuk Klan Mori berhasil ditangkap dan ditangani. Ia segera mengadakan negosiasi damai dengan klan Mori dan buru-buru menuju ke Kyoto.

Tanggal 2 Juli 1582, Hideyoshi bersama dengan Niwa Nagahide dan Oda Nobutaka berhasil mengalahkan Akechi Mitsuhide dalam Pertempuran Yamazaki.