Mungkin Akiba – chan dan Akiba – kei sudah sering mendengar tentang keberadaan youkai dan yuurei di Jepang. Tetapi, yang ini adalah salah satu dari yang tertua. Namanya adalah Nue. Kemunculan pertamanya ada di Kojiki (712), lalu muncul lagi di ensiklopedia pada Periode Heian ; Wamyo Ruijusho (938), dan terakhir diulas di Heike Monogatari (1371).

Dalam Heike Monogatari, diceritakan makhluk ini memiliki wajah monyet, kaki macan, tubuh tanuki, dan ekor ular. Berdasarkan wujudnya, ada teori yang mengatakan bahwa makhluk ini adalah kombinasi binatang dari siklus sexagenary. Macan untuk timur laut, ular untuk tenggara, monyet untuk barat daya, serta anjing dan babi hutan untuk barat laut Qian.

Nue_Utagawa_Kuniyoshi

Penyebab Mimpi Buruk Kaisar Konoe

Berdasarkan Heike Monogatari, ada satu cerita mengenai pemusnahan Nue. Ada salah satu Kaisar Jepang yang mengalami sakit berkepanjangan karena makhluk ini. Kaisar Konoe mengalami mimpi buruk terus – menerus sebelum sakit. Selain itu, terlihat pula sekumpulan asap yang membentuk awan hitam yang muncul di atas tempat Kaisar tinggal, Seiryō-den, dengan suara tangisan burung mengerikan yang bergema pada saat yang bersamaan. Pada saat itu, tidak ada satu pun obat dan pemberkatan yang bisa menyembuhkan Kaisar Konoe dari penyakitnya.

Akhirnya, diumumkan bahwa untuk menghentikannya akan digunakan panah. Perintah untuk membunuh Nue pun dijatuhkan kepada Minamoto no Yorimasa, sang ahli panahan.

Pada suatu malam, Minamoto no Yorimasa pergi untuk memusnahkan Nue dengan membawa serta Ino Hayata dan anak panah peninggalan dari Minamoto to Yorimitsu. Yorimasa menunggu sampai awan hitam kembali menyelubungi Seiryō-den, sebelum akhirnya menembakkan anak panahnya ke atas, tepat di tengah – tegah awan hitam tersebut.

Tidak lama kemudian terdengarlah bunyi pekikan dan sesosok makhluk meluncur jatuh ke bawah. Tanpa membuang waktu, Ino Hayata langsung menangkap dan menghabisi sosok tersebut. Setelah itu, tepat di atas pengadilan kerajaan terdengar dua sampai tiga suara burung tekukur, yang menandakan bahwa kedamaian telah tercapai kembali. Atas jasanya, Minamoto no Yorimasa diberikan sebuah tachi bernama Shishio.

Cerita tidak berakhir di situ saja. Orang – orang Kyoto yang takut akan nasib buruk akhirnya meletakkan jasad Nue ke dalam suatu perahu dan menghanyutkannya di sungai Kamo. Perahu tersebut akhirnya terdampar di antara sungai Ashiya dan sungai Sumiyoshi.

Diceritakan bahwa penduduk Ashiya menguburkan Nue dengan layak dan membuat gundukan tanah sebagai penanda makamnya, yang bernama Nuezuka. Sampai saat ini, orang – orang masih bisa mengunjungi Nuezuka untuk melihat salah satu bukti kehebatan Yorimasa.