Selama ini yang paling dikenal dari pemain lansia Japan Adult Video (JAV) adalah Shigeo Tokuda. Pria tua yang memiliki panggilan lain ‘Kakek Sugiono’ ini memiliki hobi mengoleksi video-video porno yang dibelinya langsung dari rumah produksi. Hobinya itulah yang membuatnya bisa bertemu dengan salah seorang produser JAV dan mengantarkannya ke takdir menjadi bintang emas porno di masa tua. Meski begitu, Minasan harus tahu, tidak hanya kakek-kakek saja yang mampu menjadi pemeran film panas. Ternyata, nenek-nenek juga bisa! Nenek bintang JAV Maori Tezuka membuktikan hal itu!

Seperti Kakek Sugiono yang tadinya hanya seorang pria biasa yang bekerja di instansi biro perjalanan, Maori Tezuka juga awalnya hanya wanita biasa yang bekerja sebagai pelakon seni. Suaranya yang bagus dan merdu menjadikannya pemain opera. Bertahun-tahun menekuni bidang kesenian, tak dirasa kini umurnya mencapai 70 tahun. Ia kemudian menemukan passion-nya untuk yang kedua kali lewat seorang teman dari industri porno Jepang. Sama-sama menjadi pelakon seni, hanya saja sekarang bersandiwaranya di atas ranjang.

Nenek bintang JAV, Maori Tezuka.

Sepuluh tahun puas bermain esek-esek dengan daun muda, akhirnya Nek Maori mulai menemui titik jemu. Seperti yang dilansir dari Daily Mail, Maori Tezuka menyatakan pengunduran dirinya dari dunia per-JAV-an. Di usianya yang kini sudah 80 tahun membuatnya dikenang sebagai ‘Nenek Legendaris’ di Jepang. Faktanya, meski telah menua dan kulitnya mengeriput, nenek bintang JAV ini begitu lihai memainkan perannya di atas ranjang. Vitalitas fisiknya masih sangat tinggi melampaui umurnya. Walau bagaimana pun, bercinta dengan orang yang lebih muda bukanlah hal yang mudah. Tapi bagi Nek Maori, umur hanyalah angka semata.

Baca juga: [NSFW] Akhirnya Mashu FGO Versi Jav VR Sudah Rilis, Ini Kodenya…

Jika tidak mendapat hambatan ketika berperang melawan para brondong dikarenakan umurnya, lantas apa yang menjadi alasan Maori Tezuka meninggalkan dunia per-JAV-an? Setelah diwawancara, nenek bintang JAV satu itu rupanya sudah mengalami kesulitan dalam beradu akting dengan lawan mainnya selama tiga tahun belakangan. Meski itu yang dikatakan nenek berumur kepala delapan ini, nyatanya hal tersebut bukan tentang ketidakmampuannya dalam bercinta karena sudah tua. Ia hanya mengaku sedikit sulit jika lawan mainnya bukan tipenya.

“Syuting menjadi sulit ketika lawan main bukan seperti yang kuharapkan,” ungkap Maori Tezuka pada Daily Mail.

Ketika ditanyai apakah ia menyesal menjadi bintang JAV, ia mengatakan tidak pernah menyesal dan tidak akan pernah. Menjadi pemain lansia JAV merupakan pilihannya, dan ia cukup menikmati semua yang terjadi atas pilihannya itu. Nek Maori juga menegaskan ini sama sekali bukan tentang jumlah bayaran yang diberikan. Namun, lebih pada kepuasannya berakting sebagai bintang film porno. Rencananya, Maori Tezuka akan kembali berakting lagi beberapa tahun ke depan menanggapi permintaan banyaknya fans yang menginginkannya bermain lagi.

“Itu tidak pernah tentang uang. Aku lebih memikirkan tentang kembali bermain dalam dua atau tiga tahun ke depan,” kata si nenek bintang JAV.

Nenek bintang JAV, Maori Tezuka.-

Sebagai bintang film porno yang umurnya sudah kepala delapan, Nek Maori juga mengaku sangat menikmati pekerjaannya.

“Terasa sangat hidup dan menyenangkan di lokasi syuting. Kamu hanya perlu melakukan yang terbaik sesuai harapan penonton,” tambahnya.

Comments

Loading...
SHARE
Previous articleKatte Ni Furuetero, Film Love Comedy yg Wajib Kamu Tunggu
Next articleAstaga… Ternyata Anime Figure Juga Bisa Punya Adult Toys
Winata SilenceAngelo merupakan seorang penulis remaja yang lahir pada 3 September 1997 di kota Karawang. Kecintaannya terhadap diksi yang melankolis serta menyentuh mengantarkannya ke dunia kepenulisan. Pada umurnya yang masih sangat muda ini, ia berhasil meraih beberapa penghargaan sastra serta menjadi kontributor dari buku-buku puisi. Menurut Winata, dalam sebuah naskah, entah itu novel, cerpen, esai, puisi, atau sekadar kata-kata, yang terpenting adalah unsur amanat. Seperti ketajaman pada ujung mata pedang, amanat merupakan apa yang menjadi tolak ukur suatu seni. Di sanalah segala dari pemikiran sang penulis bermuara, hingga kemudian menunjukan keindahannya dengan sangat artistik.