Mina-san pasti disini fans atau ada baca Manga. Walau dalam industri anime saat ini Light Novel sedang marak, media Manga adalah pendahulu mereka, dan mungkin salah satu media Jepang pertama yang dilirik oleh mina-san. Mungkin kalau kita ada melihat manga bekas jadi muncul ingatan dan kenangan seru. Jadi bisa berasa sedih juga kalau melihat bagaimana nasib manga tankobon sisa & bekas di Jepang.

Memang ada kabar kalau angka penjualan manga dalam bentuk buku fisik dikatakan mengalami penurunan. Tapi dengan betapa besarnya bisnis industri animanga, sudah pasti akan ada sisa-sisa buku yang tak terjual. Belum lagi pasti ada juga pemilik buku yang membuang bukunya, baik itu terpaksa ataupun tidak.

Dan bicara soal pembuangan, negara Jepang terkenal akan sistem manajemen sampahnya. Pembuangan sampah sangat diseriusi di Jepang, yang menyebabkan negara tersebut terkenal bersih dan rapi. Dan sampah atau barang bekas yang terbuang tersebut, juga bisa ditangani dengan didaur ulang, contohnya menjadi bahan bangunan.

Tapi kadang yang namanya daur ulang tak semuanya bisa memiliki hasil yang keren, yang ditemukan oleh Oshikiri Rensuke. Ia adalah seorang mangaka yang telah membuat berbagai manga. Dua manga buatannya, Pupipo dan High Score Girl, telah diadaptasi menjadi anime. Selain itu, ia membuat manga horor berjudul Misu Misou, yang diadaptasi menjadi liveaction.

Tapi horor juga mungkin hal yang dilihat oleh Oshikiri sensei bagi fans manga atau mangaka yang membuat manga. Baru-baru ini Oshikiri pergi mengunjungi sebuah pabrik yang dimanajemen oleh penerbit manga terkenal Jepang, Kodansha. Dan pabrik itu menangani buku manga tankobon bekas atau yang tak terjual.

Ratusan buku, bertumpuk-tumpuk, ada dalam pabrik itu. Oshikiri juga mengatakan ia melihat ada manga karyanya dalam tumpukan tersebut. Ia juga mengatakan, kalau semua buku-buku tersebut, buku yang bagaikan bagian dari jiwa mangaka, semua ada disitu untuk dihancurkan, dicabik-cabik tanpa ampun, didaur ulang… menjadi tisu toilet.

Sedih juga ya mina-san melihatnya. Memang sih niatnya bagus, yaitu mendaur ulang sampah jadi berguna lagi. Tapi tetap tak begitu enak juga melihat buku-buku yang penuh imajinasi seperti itu, yang bisa memindahkan pikiran pembaca pada dunia lain yang penuh petualangan dan beragam emosi, diubah menjadi tisu toilet.