Sorotan cahaya menyinari sebuah miniature kursi sekolah dasar. Bingkai bajanya kusut seperti tubuh anak yang meringkuk ketakutan. Terlihat juga kursi-kursi lain dengan ukuran yang berbeda, diterangi oleh seorang wanita, yang merangkak di antara mereka dengan obor. Dialah Naoko Tanaka, sang seniman jepang yang menciptakan pertunjukan tidak biasa.

“Setiap kali saya kembali ke Jepang, saya merasakan tekanan yang sangat besar untuk masuk ke dalam benda” kata Naoko Tanaka. Seniman visual dan pertunjukan Jepang berumur 42 tahun ini berbasis di Berlin. Nnamun sebuah perunjukan yang berjudul “Uninternalized (light)” digelar di Teater Rohm Kyoto sebagai bagian dari Kyoto International Arts Festival pada bulan Oktober 2017 silam.

 

Ini adalah pertunjukan terakhirnya dalam sebuah pertunjukan trilogi, yang dimulai pada tahun 2011. Yang menggunakan benda, cahaya dan ruang untuk mengeksplorasi apa yang oleh Tanaka dilihat sebagai “dunia diluar kesadaran yang tidak dapat diketahui” dari kesadaran manusia. Dia menemukan gambar kursi saat mengambil bagian dalam program residensi di sebuah sekolah dasar di Nagi-Boso International Art Festival Ichihara Art x Mix pada tahun 2014. Seperti banyak murid Jepang dari generasinya, ia pertama kali bertemu dengan kursi sekolah berbahan kayu yang ringan ini serta kursi sekolah yang terbuat dari baja berwarna abu – abu di sekolah dasar di kota Kodaira di pinggiran kota Tokyo.

 

Naoko Tanaka tumbuh di lingkungan keluarga jepang yang dibilang masih sangat kolot dengan budayanya. Dia dulunya adalah seorang gadis pemalu dan introvert yang lebih memilih untuk menghabiskan waktu dengan menggambar di rumah daripada pergi keluar untuk bermain dengan teman – teman seusianya. Jiwa seni mengalir dari ibunya. Ibunya yang berjiwa seni tersebut ingin putrinya mewujudkan impian masa lalunya yang belum direalisasikan untuk menjadi seorang musisi.

Sang ibu mendorongnya untuk mengikuti les piano secara privat dan rutin. Naoko Tanaka menikmati lesnya pada awalnya, tapi, lama – kelamaan, tutor les pianonya yang merupakan seorang pria mengungkapkan sisi manipulatif dan kasar. Sehingga ia dengan sangat terpaksa mengikuti les. Bahkan sampai membayangkan dirinya seperti boneka. Gambar seperti boneka ini kembali muncul di kemudian hari sebagai sosok dalam pertunjukan “Die Scheinwerferin”, bagian pertama dari trilogi-nya.

Pada usia 13, Naoko Tanaka mengatakan kepada orang tuanya bahwa dia ingin berhenti les piano dan menggantinya dengan les menggambar. Dia tidak bisa memberi tahu ibunya alasan sebenarnya untuk mendadak berhenti les piano saat ini. Sebagai gantinya, dia memutuskan untuk mencoba dan menyalurkan pengalaman traumatis itu ke dalam bentuk yang lebih kreatif.

Ternyata ia sangat menekuni hobi menggambarnya. Hal ini akhirnya membawanya untuk memasuki Universitas Seni bergengsi Tokyo setelah lulus dari sekolah menengah atas. Ia sangat mengingat masa – masa ini selama hidupnya, hingga terjadi konflik batin dalam dirinya.

Di universitas, Tanaka belajar di bawah bimbingan Yoshiaki Watanabe (1955-2009). Seorang profesor seniman berpengaruh yang terkenal karena karya pemasangannya dengan lilin. Pertemuan ini sangat berperan dalam sepak terjang karyanya kelak. Mengikuti nasehat Watanabe dan juga artis Ceko Magdalena Jetelovadari Jerman, Naoko Tanaka memutuskan untuk belajar di akademi setelah menyelesaikan gelar masternya di Universitas Seni Tokyo 1999.

Keinginan Tanaka untuk meninggalkan Jepang tidak hanya untuk menghindari tekanan orang tua dan kekuatan negatif di masa lalu. Tapi dia juga ingin mengeksplorasi gaya hidup alternatif di luar budaya konsumen Jepang yang meluas.

Dalam kursus Jetelova, yang secara signifikan dipengaruhi oleh Musim Semi Praha, selalu ada diskusi hangat dan aktif mengenai seni dan masyarakat di antara siswa yang berasal dari berbagai negara, termasuk banyak dari Eropa Timur. Ini adalah pengalaman yang membuka mata bagi Naoko Tanaka yang terbiasa dengan akademisi seni yang lebih mono-rasial, berpusat pada laki-laki, otoriter dan hampir tak tersentuh di Jepang.

Dalam konteks multikultural liberal ini, dia menghindari eksploitasi eksotisme Jepang dan memilih untuk mengeksplorasi persimpangan antara psikologi, ingatan dan representasi artistik. Tanaka mendirikan sebuah unit seni bernama Ludica pada tahun 2001 dengan koreografer Morgan Nardi dan menciptakan karya seni visual dan pertunjukan yang menyatu. Setelah mencapai kesuksesan dalam kolaborasi ini, ia memutuskan untuk mengejar pekerjaan sebagai seniman solo pada tahun 2010. Ini berarti mengambil tanggung jawab penuh atas semua aspek hasil kreatif dari konsep ke kinerja dirinya sendiri.

Sejak saat itu, hasil karyanya dalam pertunjukan yang unik telah menarik perhatian dunia dan telah dilakukan di 15 negara dan lebih dari 30 kota. Ketika ditanya bagaimana dia membayangkan jalannya kehidupan pribadi dan artistiknya mungkin telah berubah seandainya dia tinggal di Jepang. Naoko Tanaka menjawab, “Saya mungkin akan berakhir di rumah sakit.” Hal ini sebagian disebabkan oleh masa lalu yang traumatis, namun juga akibat tidak sesuai dengan peran sosial dan gender Jepang.

Dalam satu hal, adalah mungkin untuk membaca karya Tanaka sebagai bentuk seni terapan, media untuk menyalurkan antagonisme masa lalu dan masa kini. Namun juga merupakan ruang untuk melatih masa depan baru yang mungkin. Bayang-bayang belitan dan berkerut yang mengisi panggung trilogi pemasangan kinerjanya merupakan simbol proses sublimasi ini.

Kalau akiba-chan dan akiba-kei punya banyak waktu. Coba deh untuk menyaksikan pertunjukan mbak keren ini. Dijamin kalau kalian punya darah seni tinggi bakal langsung terpesona. Mimin awalnya juga nggak pegitu paham sih. Tapi setelah banyak menonton akhirnya tau bahwa teatrikal Naoko Tanaka bisa dibilang masuk pertunjukan jempolan yang tak boleh kalian lewatkan. 🙂