Banyak mitos beredar di kalangan masyarakat, terutama pada orang dahulu yang sangat percaya terhadap hal-hal tahayul dan dianggap sebagai sebuah peraturan tidak tertulis yang mana tidak boleh dilanggar. Termasuk mitos angka.

Jika dilanggar, maka orang dahulu mengatakan akan terjadi sesuatu yang tidak baik, seperti tidak ubahnya hukuman atau teguran. Contohnya di tanah air nusantara kita, lumrah sudah para orang tua melarang-larang anaknya terhadap sesuatu yang tidak masuk akal, tidak logis. Semisal tidak boleh makan jantung pisang nanti mengakibatkan ‘jantungan’, makan di ambang palang pintu bisa membuat seseorang menjadi bujang / perawan tua, pun kala memakan pantat ayam itu sangat tidak diperbolehkan, makan pantat ayam hanya untuk orang-orang yang sudah berumur.

Namun, tidak Indonesia saja yang mempunyai mitos-mitos aneh nan tidak masuk logika, tetapi di Jepang juga sama, Negeri Bunga Sakura tersebut memiliki hal-hal seputar. Yaitu tentang mitos angka 4 dan 9 yang dipercaya sebagai angka keramat yang membawa petaka.

Di Jepang, masyarakat luasnya sangat yakin bahwa apa saja yang tercantum nomor 4 dan 9 di dalamnya akan membawa hal yang tidak baik. Maka untuk menghindari bencana yang mereka percayai akan datang dari kedua nomor tersebut, banyak lift yang tidak mengadakan lantai nomor 4 dan 9 di tombolnya. Begitu pula dengan kamar dari hotel dan penginapan, sering kali ditemukan tidak memakai kamar nomor 4 dan 9. Pun sama halnya pada kompleks perumahan, sangat lumrah bilamana tidak ada blok atau yang beralamat nomor 4 dan 9.

Vending machine
Tidak ada Vending Machine bernomor urut 4, melainkan 3A.

Sebagian orang-orang Jepang amat percaya akan terjadi sebuah bencana yang besar dan nasib sial jika ada sebuah tempat, benda, atau sesuatu yang terdapat kedua nomor tersebut di atasnya. Mereka sangat percaya dengan mitos angka ini. Untuk mengganti nomor 4 yang dipercaya sebagai angka kesialan, mereka sering menggunakan angka 3A setelah angka 3, pengganti nomor 4. Sedangkan untuk angka 9 juga sama, 8A akan menggantikan posisi angka 9 setelah 8.

Mari jernihkan mata dengan lihat yang bening-bening di: Gila! 5 Cewek Jepang Ini Doyan Makan Tapi Tetap Cantik!!

Namun, di beberapa ihwal kenyataannya, ada yang melompati angka 4 dan 9, kedua angka tersebut tidak ditulis, jadi setelah 3 maka langsung 5, pun sama dengan angaka 9, setelah 8 maka langsung 10. Dan anehnya ini juga terjadi pada semua bilangan belasan, puluhan, ratusan, ribuan, jutaan, bahkan tidak ternilai, yang mana terdapa angka 4 dan 9 di dalamnya. Semisal 14, 19, 24, 29, dan seterusnya. Oleh sebab itu, jika Minna-san sedang berada di Jepang, jangan kaget ya jika tidak menemui angka 4 dan 9 pada sesuatu apa pun jenisnya. 🙂

Lift
Salah satu lift yang tidak mencantumkan lantai 4.

Jika diteliti lebih lanjut soal sejarahnya, sistem Angka dan bilangan dalam Jepang diadopsi secara besar-besaran dari rakyat China. Asimilasi tersebut berlangsung dimana bangsa China yang kebanyakan adalah seorang pedagang, menginvasi wilayah Negeri Bunga Sakura untuk bertransaksi dalam hal barang dan jasa. Maka bahasa dan tulisannya pun terkenal luas di Jepang. Tidak heran, bila seputar mitos angka antara kedua negara besar itu pun tidak jauh berbeda, alias punya banyak persamaan.

Angka 4 dan 9 merupakan angka yang dianggap mistik serta mengakibatkan kemalangan, berasal dari cara baca angka-angka tersebut. Cara baca Kanji di Jepang sendiri ada dua, yaitu cara baca Onyomi (ala China) dan Kunyomi (ala Jepang). Dimana satu huruf bisa memiliki arti.

4 = Shi
Perhatikan nomor 4, kanji dari nomor tersebut adalah Shi yang berarti “Mati”.

Angka 4 ditulis 死 yang dibaca Shi, itu berarti Shinu atau Mati. Sedangkan, angka 9 ditulis 苦 yang dibaca Ku, itu berarti Kurushii atau Sengsara. Tidak heran kalau orang Jepang tidak menyajikan sesuatu dalam jumlah angka tersebut. Banyak apartemen juga menghilangkan nomor kamar dengan angka-angka tersebut. Bahkan yang lebih menarik, lembaga yang mengurus nomor plat kendaraan bermotor juga tidak mengeluarkan deretan angka tertentu kecuali atas permintaan khusus.

Misalnya dua angka belakang yang berakhiran 42 (shi-ni 死に kematian), atau angka komplit 4219 (shi-ni-i-ku 死に行く menuju kematian), 4256 (shi-ni-go-ro 死に頃 waktunya untuk mati). Agak menyeramkan ya? Kumpulan angka saja dapat bermakna sesuatu yang kurang baik. Selain itu, ulang tahun yang ke 42 dan 49 sangat ditakuti. Mereka beranggapan di usia tersebut rawan akan penyakit dan kesialan yang bisa berujung pada kematian. Sehingga banyak yang melakukan ibadah ekstra menjelang usia tersebut.

Jadi diingat-ingat ya, Minna-san. Jangan pernah memberikan sesuatu ke orang Jepang dalam jumlah 4 atau 9, maupun terdapat kedua angka tersebut di atasnya. Hehehe… takut salah paham dalam mengartikannya. 😀

Ada banyak tanggapan dunia mengenai hal ini, terutama dari luar Jepang yang sangat rasional dalam berpikir. Mereka menyebut hal unik ini dengan istilah Tetraphobia, yakni sekumpulan orang yang sangat benci, tidak menyukai, takut, terhadap angka 4. Para Psikolog mengeluarkan pendapatnya bahwa Tetraphobia ialah fobia yang berasal dari mainset pola pikir yang tersusun atas pemikiran orang-orang di sekitarnya, lingkungan yang di tempati, bahkan peristiwa buruk yang pernah ia alami dengan sesuatu berkenaan nomor 4. Oleh sebab itu Tetraphobia sangat menghindari nomor 4 yang mana ia tidak suka bukan tanpa alasan.

Satu lagi tentang mitos angka di Jepang, di sana angka 3, 5, dan 7, dianggap membawa kabar baik. Selain keberuntungan yang berlimpah, hoki, nasib baik, mereka juga konon akan mendapatkan yang diinginkan.

Ya, itulah salah satu dari sekian banyaknya keunikan-keunikan dari masyarakat Jepang. Ada sebagian yang tidak percaya terhadap mitos angka tersebut, ada pula sebagiannya yang memilih menaati, begitu percaya dan tidak melanggar. 🙂 Bagaimana dengan pembaca semua? Apa tanggapan dari Minna-san? Silahkan share dengan pendapat masing-masing.

SHARE
Previous articleTiga Youkai Terburuk di Jepang #2 : Sutoku Tenno
Next articleAJIN Season 2 Mengungkap Jadwal Tayang, Sudah Siap Nonton?
Winata SilenceAngelo merupakan seorang penulis remaja yang lahir pada 3 September 1997 di kota Karawang. Kecintaannya terhadap diksi yang melankolis serta menyentuh mengantarkannya ke dunia kepenulisan. Pada umurnya yang masih sangat muda ini, ia berhasil meraih beberapa penghargaan sastra serta menjadi kontributor dari buku-buku puisi. Menurut Winata, dalam sebuah naskah, entah itu novel, cerpen, esai, puisi, atau sekadar kata-kata, yang terpenting adalah unsur amanat. Seperti ketajaman pada ujung mata pedang, amanat merupakan apa yang menjadi tolak ukur suatu seni. Di sanalah segala dari pemikiran sang penulis bermuara, hingga kemudian menunjukan keindahannya dengan sangat artistik.