Pelacur adalah gambaran yang buruk bagi masyarakat luas, terutama di tempat yang sangat menjunjung nilai-nilai adab perilaku dan ketuhanan. Tetapi terlepas dari itu semua, pernahkah akiba-chan dan akiba-kei mendengar cerita tentang seorang pelacur Yokohama bernama Mary?

Ya, tidak salah lagi, yang dimaksud adalah kisah pelacur tua yang bisa bikin nangis seharian. Ada sebuah film yang menceritakan tentang kisah kehidupan pahit wanita ini. Ia menjadi pelacur lebih dari setengah abad. Itu semata-mata dilakukan demi sebuah alasan yang menambah kesedihan jalan cerita. Siapa pun bisa dibuat menitikkan air mata.

Yang kalian harus ketahui, film Yokohama Mary diambil dari kisah nyata. Cerita ini bukan karangan sutradara atau pun penulis, melainkan benar-benar terjadi. Seorang nenek tua yang disebut-sebut bernama Mary ini merupakan sumber utama kisah film tersebut. Sang sutradara mengambil kisah hidupnya untuk difilmkan. Tidak disangka, nenek tua yang selalu merias wajahnya dan sering terlihat berjalan menarik koper besar di jalan Yokohama punya kisah hidup sangat getir. Dalam cover film dokumenternya itu tertulis “50 tahun terakhir ini, dia adalah seorang pelacur, tapi sekarang, dia menuliskan sejarah di Yokohama”.

Yokohama Mary
film ini memang sangat terkenal

Mary berbeda dengan pelacur lainnya. Ia sudah menjadi pelacur sejak muda, hingga usianya mencapai 80-an lebih ia tetap menjadi seorang pelacur. Di saat kebanyakan orang tua lebih sering berada di rumah, menghabiskan masa tuanya menimang cucu, tapi nenek satu ini terus mengitari jalanan Yokohama dan berharap mendapat pelanggan. Dengan make-up ala Geisha dan kulit keriput, Mary banyak mendapat tatapan tidak menyenangkan dari orang-orang sekitar. Mereka tidak suka dan jijik kepada Mary.

Awal cerita menyedihkannya adalah ketika perang dunia kedua mencapai puncak. Pada saat itu tahun 1945, Mary baru berusia 20 tahun dan berparas sangat cantik. Dia bahkan bisa berbahasa inggris, bermain musik, dan tulisan tangannya sangat indah. Namun saat Jepang dikalahkan oleh pihak sekutu dan terjadi kerusuhan besar, ayah Mary meninggal dalam kerusuhan. Adiknya menerima seluruh kekayaan keluarga, Mary dengan sedih hati memutuskan kabur dari rumah.

salah-satu-scene-di-film-yokohama-mary

Pada saat itu usianya 24, dia seorang diri mencari pekerjaan tapi tidak pernah mendapatkannya. Kerusuhan besar masih terjadi, perang masih berlanjut, keadaan negara-negara di dunia (termasuk Jepang) sangat tidak stabil. Banyak orang yang tidak jelas nasibnya dan kelaparan. Hingga suatu kali di koran dia melihat iklan pekerjaan. Di sana dijelaskan bahwa ada sebuah klub asing uang sedang mencari pegawai wanita berumur 18-25 tahun. Mereka akan diberi tempat tinggal, makanan, pakaian, serta gaji yang tinggi.

Mary yang hidup jalanan punangsung pergi mendaftar dan berhasil mengalahkan ribuan pesaing. Ia memanfaatkan kecantikan dan kemampuan bahasanya dengan baik. Tapi dirin7a tidak pernah tahu, bahwa sebenarnya yang dimaksud “klub asing” tersebut merupakan para tentara sekutu yang ada di Jepang, sedangkan “pegawai wanita” berumur 18-25 tahun sebagai pemuas nafsu mereka belaka. Akiba-chan pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi pelacur karena ditipu? Mungkin tidak, tapi nenek satu ini pernah di masa mudanya.

Lebih mengenaskan lagi nasib Mary, pada tahun 1946 ketika klub asing tersebut akhirnya bubar, para “pegawai wanita” ini dibuang ke jalanan tanpa mendapat bayaran sepeser pun. Tapi karena Mary berbakat, ia terlibat cinta dengan salah satu tentara sekutu. Tidak lama setelahnya perang Korea dimulai, kekasihnya kini harus dikirim ke tempat lain. Mary berjanji untuk terus menunggu kedatangannya di jalanan Yokohama. Ia bilang, “Ini adalah satu-satunya tempat di Jepang dimana mereka bisa bertemu lagi.”

adegan-mary-yg-sedang-duduk-beristirahat

Yang menarik dari Mary adalah, meski semua pelanggan telah dipuaskan olehnya, apa pun keinginan pelanggan itu, tapi ada satu syarat yang tidak boleh dilakukan para tamu atas kendali diri Mary: tidak boleh menciumnya. Dia bulang, “Aku memang menjual diri, tapi tidak dengan hati.” Sampai saat ini, Mary yang menua dan renta terus berada di jalanan Yokohama.

Karena dia adalah seorang pelacur, Mary dikucilkan di tengah masyarakat. Banyak toko-toko yang tidak mengizinkannya masuk. Dia bahkan sempat ditangkap oleh polisi, alasannya karena menganggu kenyamanan kota. Dia pula sering diusir kasar dari kafe, restoran, swalayan, sampai salon rambut. Lagi-lagi karena alasan yang sama, menganggu kenyamanan, meski Mary bisa membayar semua yang dipesannya. Hebatnya, Mary tidak marah, ia menjawab usiran dengan tenang dan ikhlas.

Baca Juga: Yamato Nadeshiko: Konsep ‘Wanita ideal’ Di Mata Masyarakat Jepang

Pernah suatu kali, Mary ditraktir minum teh oleh seorang nyonya kaya. Tapi Mary malah membentak wanita itu, ia berkata, “Kamu siapa?! Aku tidak kenal kamu! Pergilah!” Hingga membuat wanita tersebut bergegas pulang sambil menangis, dia melaporkan hal tersebut kepada suaminya. Alih-alih mendukung niat baik, sang suami malah marah karena istrinya mengajak seorang pelacur minum dan itu menjadi prasangka buruk oleh orang sekitar. Mary melakukan hal yang benar, ia menjaga kehormatan wanita baik hati tersebut.

Waktu terus berjalan, Mary bertemu dengan seorang pelacur pria. Pria ini adalah seorang gay yang melayani tamu-tamu gay lainnya, sekaligus penyanyi di sebuah bar miliknya bernama ‘Blackcat’. Karena ibu dari pria ini juga adalah seorang pelacur dan seluruh anggota keluarganya dahulu cuman hidup dari penghasilan sang ibu, maka ia menyayangi Mary. Melihat Mary, ia selalu teringat akan ibunya. Merasa harus menolong Mary supaya bisa membalas jasa sang ibu.

Mary diundang seminggu sekali ke Blackcat untuk makan dan mengobrol, bahkan naik pentas bersama, menghibur para tamu yang datang. Ia sudah menganggap Mary sebagai ibunya sendiri. Hingga pasa tahun 1995, Mary mendadak hilang dengan meninggalkan sepucuk surat.

riasan-wajah-dan-baju-yg-menjadi-ciri-khas-mary

Belakangan ini pria tersebut terkena kanker, ia juga takut kucing kesayangannya tidak ada yang merawat, saat itulah ia menerima surat kalau Mary ingin kembali ke Yokohama. Ternyata selama ini Mary ada di rumah jompo di kampungnya. Pria ini langsung pergi bertemu dengannya, kini Mary sudah menghapus riasannya yang menemaninya puluhan tahun. Pria ini bahkan sempat menyanyikan lagu di rumah jompo tersebut, tapi Mary sudah sama seperti nenek biasa yang duduk di bawah pentas menonton pertunjukkan.

Setelah pria ini selesai pertunjukan, Mary menyalaminya dan berkata akan bersama terus sampai 100 tahun. Namun, sayang, tidak lama kemudian pria ini meninggal. Tahun 2005, Mary yang berusia 83 tahun juga meninggal dunia. Sampai napas terakhirnya, ia tidak juga bertemu dengan tentara Amerika itu.

Hingga film dokumenter ini mencuat ke permukaan Jepang, orang-orang di Yokohama mulai menyesal. Mary adalah contoh titik lemah paling nyata untuk kota Yokohama. Penolakan, menjadi pelacur untuk memenuhi kebutuhan hidup, penuh jiwa sosial yang tinggi, adalah hal yang tidak terlupakan dari kota tua itu. Kini Mary telah pergi, meninggalkan jalanan Yokohama tempatnya menunggu sang kekasih untuk selama-lamanya. Tapi namanya tidak, puisi dan drama tentangnya bahkan selalu dipentaskan di berbagai belahan dunia.

SHARE
Previous articleSudah Siap Nonton Video Kedua Kuroshitsuji Book of Atlantic?
Next articleBuka Pre-register Server Indonesia, Otoge YUME 100 Siapkan Banyak Surprise
Winata SilenceAngelo merupakan seorang penulis remaja yang lahir pada 3 September 1997 di kota Karawang. Kecintaannya terhadap diksi yang melankolis serta menyentuh mengantarkannya ke dunia kepenulisan. Pada umurnya yang masih sangat muda ini, ia berhasil meraih beberapa penghargaan sastra serta menjadi kontributor dari buku-buku puisi. Menurut Winata, dalam sebuah naskah, entah itu novel, cerpen, esai, puisi, atau sekadar kata-kata, yang terpenting adalah unsur amanat. Seperti ketajaman pada ujung mata pedang, amanat merupakan apa yang menjadi tolak ukur suatu seni. Di sanalah segala dari pemikiran sang penulis bermuara, hingga kemudian menunjukan keindahannya dengan sangat artistik.