Jepang dikenal akan teknologi dan perindustriannya yang maju. Namun selain itu, Jepang juga dikenal kaya akan budaya dan karya seninya yang khas dan unik. Tidak terkecuali dalam aspek seni drama. Jepang memiliki Kabuki, sebuah terater tradisional yang bukan hanya memiliki pertunjukkan yang unik dan bagus, tapi juga memiliki sejarah yang menarik untuk diulas.

Kabuki adalah teater tradisional jepang yang terkenal akan pertunjukkannya yang dipenuhi dengan nyanyian dan tarian yang indah dan memukau. Alam bahasa Jepang modern, kata “Kabuki” ditulis dengan karakter “Ka” yang mengartikan lagu, “bu” yaitu tarian, dan “ki” yang mengartikan tarian. Biasanya pemain Kabuki akan mementaskan drama dengan bernyanyi dan menari, juga memakai make-up yang tebal dan para pemain akan memakai tepung beras di wajah agar mendapatkan warna putih yang nyata dan mendapatkan kesan “porselen”.

p9-date-kabuki-a-20150115

Pada tahun 1572, lahirlah seorang anak perempuan yang kemudian menjadi miko di Izumo Taisha. Anak perempuan itu bernama Izumo-no-Okuni. Sebagai miko di kuil Izumo, Okuni melakukan tarian – tarian khusus untuk upacara yang berbeda. Saat kuil Izumo membutuhkan dana untuk memperbaiki kuil, Okuni berkeliling ke seluruh penjuru negeri mementaskan tarian untuk mendapatkan dana tersebut. Okuni mementaskannya dengan sangat baik karena tarian yang dipentaskan adalah tarian – tarian berdasarkan ritual upacara yang dulu dilakukannya di kuil Izumo. Pada pertunjukkannya, Okuni memerankan karakter pria. Pada saat itu, pementasannya dikenal sebagai kabuki dan orang yang melakukannya disebut “Kabukimono”.

Baca juga: trik cepat memahami kabuki bagi penonton pemula

Pertunjukkan Kabuki biasanya lebih dikenal di kalangan masyarakat menengah. Pada awalnya, pertunjukan ini diperankan baik oleh laki – laki maupun perempuan. Akan tetapi, para pemain kabuki perempuan banyak yang mengalami pelecehan dan menjadi lebih populer dengan prostitusi dan tarian – tarian yang sensual. Hal ini lah yang pada akhirnya menyebabkan adanya larangan bagi perempuan untuk bermain seni peran tersebut. Peran perempuan dalam Kabuki diperankan oleh laki – laki yang disebut “onnagata”. Setelah perempuan dilarang untuk bermain lakon di teater ini oleh pemerintah, Izumo-no-Okuni kembali ke Izumo dan tinggal di kuil kecil dengan Izumo Taisha.

Sejarah Kabuki

Seiring dengan waktu, pertunjukan teater kabuki semakin berkualitas. Apresiasi dari pemerintah dan kalangan kelas atas yang semakin meningkat, tetater ini menjadi semakin populer di Jepang. Selama Perang Dunia II, teater ini mengalami kerugian yang luar biasa besar dan kehilangan banyak pemainnya. Butuh waktu beberapa dekade untuk memulihkan dan melatih jumlah aktor yang memadai untuk menggantikan mereka yang menjadi korban perang.

Pada saat ini, seni teater Kabuki masih cukup terkenal dan cukup sering dipentaskan di Jepang. Para aktor – aktor Kabuki masih terus memainkan dan mementaskan seni drama ini untuk menjaga kelestarian budaya mereka.