Haiku adalah puisi pendek kuno yang sangat populer di zamannya hingga sekarang. Itu dikarenakan orang Jepang, terutama generasi mudanya, sangat melestarikan budaya yang ada. Oleh sebabnya Haiku masih dikenal baik oleh penduduk lokal Jepang maupun mancanegara.

Haiku sendiri muncul di akhir era Muromachi, namun berkembang saat memasuki zaman Kinsei (disebut juga sebagai zaman Pra Modern). Periode ini dimulai pada tahun 1602, yakni sejak Shogun Tokugawa Ieyasu yang berdiri sebagai pemegang kepemerintahan Jepang memindahkan pusatnya ke Edo. Haiku bermula dari rongga sebuah puisi berpola 5-7-5 silabel (suku kata) yang diciptakan untuk berbalas-balas bersama lawan main seperti pantun. Bagian pertama haiku yang terdiri dari 5 suku kata disebut dengan ‘shougo’ atau ‘kamigo’ (上五). Nakashichi adalah bagian tengah yang berjumlah tujuh suku kata (中七) dan ‘shimogo’ (下五) merupakan bagian akhir yang terdiri dari lima suku kata. Pola 5-7-5 ini merupakan bentuk dasar haiku. Namun, ada juga haiku yang tidak mengikuti pola tersebut.

Capt. Salah satu puisi ternama dari penyair jepang

Kemunculan media massa cetak pun ikut andil dalam mempengaruhi perkembangan dan penyebarluasan Haiku. Haiku-haiku yang berhasil diciptakan mulai dibukukan, diperbanyak dan disebarluaskan. Pola haiku yang khas, singkat serta padat namun penuh makna, membuat haiku populer di lokal bahkan hingga ke mancanegara.

Banyak penyair yang bukan berasal dari negara asalnya sendiri turut membuat puisi pendek ini dalam bahasa negaranya. Seperti di Indonesia. Ada komunitas Haiku yang menamai dirinya dengan nama “Danau Angsa”, sudah membukukan 500 puisi Haiku karya penyair Indonesia dalam buku antologi “500 Haiku Kumpulan Danau Angsa”. Para penggemar Haiku ini membuat karya dalam warna yang lebih sedikit kekinian.

Berikut adalah beberapa contoh Haiku dari pujangga atau penyair Jepang ternama.

 

Kyoshi

 

Shizukasa ya, hanasaki niwa no, haru no ame.

 

Betapa sunyinya, halaman berbunga, hujan musim semi.

 

Masaoka Shiki

 

Furusato ha, itoko no Ooshi, momo no hana.

 

Pada kotaku, anak-anak gembira, bunga pun mekar.

 

Basho

 

Furuike ya, kawazu tobikomu, mizu no oto.

 

Di kolam tua, seekor katak melompat, air pun pecah.

 

Kobayashi Issa

 

Yuki to kete, mura ippai no, kodo mo kana.

Salju mencair, desa pun penuh dengan, anak-anak.

 

Dan selanjutnya adalah beberapa karya haiku oleh saya sendiri. Hehehe… numpang narsis.

 

Hujan senjata

Tangis darah mengental

Di batas Gaza

 

Senandung bunda

Berdongeng dalam malam

Berbalut doa

 

Karena kayu

Manula terpenjara

Pantas? Adilkah?

 

Sebelum Maret

Hujan guyur Karawang

Di senja hari

 

Nah, kalau kita perhatikan lebih lanjut. Semua dari baris pada puisi-puisi tersebut seluruhnya berjumlah 5-7-5 silabel atau suku kata.

Sebagai contoh perhitungan, mari kita ambil puisi haiku karyaku yang pertama biar mudah.

 

Hu-jan sen-ja-ta (5 silabel)

Ta-ngis da-rah me-ngen-tal (7 silabel)

Di ba-tas Ga-za (5 silabel)

 

Benar bukan? Kalau kalian ‘kekeuh’ juga mau ambil puisi haiku dari penyair terkenal Basho buat dihitung silabelnya bisa kok, bisa. Tenang saja.

 

Fu-ru-i-ke-ya (5 silabel), ka-wa-zu to-bi-ko-mu (7 silabel), mi-zu no o-to (5 silabel)

 

Sama bukan dengan puisi haiku punyaku? Yaiyalah, orang aku ngikuti aturan jamak dari haiku kok, jadi wes pasti sama silabelnya. Gitu aja kok repot. *ditabok*

Akan tetapi, Minna-san. Yang menjadi khas dari puisi kuno Haiku bukan hanya aturan bentuknya saja yang 5-7-5 silabel dan berbalas-balasan dari satu sama lain seperti pantun, melainkan adanya juga ‘Kigo’ atau bahasa alam.

Keyboard berhuruf alfabet dan jepang

Kigo sendiri merupakan kata-kata yang berhubungan erat dengan empat musim yang ada di Jepang. Jadi, kigo bisa dibilang adalah perasaan penyair atas keempat musim yang ada atau sifat dari keempat musim tersebut. Seperti awal musim semi yang digambarkan dengan “Hanasaki Niwa No” (Halaman Berbunga) oleh penyair Kyoshi atau musim hujan yang diilustrasikan oleh penulis semilikiti weleh-weleh Winata SilenceAngelo dengan kalimat “Hujan guyur Karawang”.

Oh, iya, keberadaan Kigo juga sangat berarti dalam Haiku. Seperti pacaran, jika tidak ada Kigo maka Haiku tidak menjadi indah dan kehilangan rasa esensialnya. Jadi, jangan pisahkan mereka berdua ya, Kawan. Jahat amat kalian kalau begitu. Tega-teganya sih misahin dua orang yanh saling mencintai? Hikss… Oke, abaikan. Kuakui artikel ini memang tambah gaje (gak jelas) saja lama-lama.

Sebenarnya masih banyak yang saya ingin sampaikan tentang sastra dari Negeri Matahari Terbit ini, seperti Kireji, pemotongan frase sebagai penunjang puisi Haiku. Begitu pula dengan jenis sastra kuno lain seperti Tanka, Renga, Senryu, Gehu, dan Bala-bala. *Eh?

Sebagai informasi tambahan, haiku modern yang banyak kita temui sekarang ini di Jepang dikembangkan dan dipopulerkan oleh Masaoka Shiki. Shiki adalah seorang kritikus sastra yang terkenal di zaman Meiji. Dan ada satu hal yang kawan harus tahu, Masaoka Shiki itu dilahirkan di Matsuyama, Ehime. Ehime memang tidak semegapolitan Tokyo atau Osaka, tapi Ehime itu kaya akan peninggalan budaya, sejarah, dan sastra Jepang. Bisa dibilang saudaranya Kyoto. Lain waktu, semoga saya berkesempatan mengulasnya.

Sampai jumpa! Selalu pantengin Akiba Nation ya, kami ada untuk menginformasikan hal menarik lainnya pada Anda. Always love yours.

SHARE
Previous articleKimahri Sunkiss, Cosplayer yang Tak Takut Trial and Error
Next articleSudah Lihat Kostum Baru SAO Ordinal Scale? Anjir Keren!
Winata SilenceAngelo merupakan seorang penulis remaja yang lahir pada 3 September 1997 di kota Karawang. Kecintaannya terhadap diksi yang melankolis serta menyentuh mengantarkannya ke dunia kepenulisan. Pada umurnya yang masih sangat muda ini, ia berhasil meraih beberapa penghargaan sastra serta menjadi kontributor dari buku-buku puisi. Menurut Winata, dalam sebuah naskah, entah itu novel, cerpen, esai, puisi, atau sekadar kata-kata, yang terpenting adalah unsur amanat. Seperti ketajaman pada ujung mata pedang, amanat merupakan apa yang menjadi tolak ukur suatu seni. Di sanalah segala dari pemikiran sang penulis bermuara, hingga kemudian menunjukan keindahannya dengan sangat artistik.