Negara Jepang memang selalu mencengangkan, selalu saja ada hal-hal hebat yang diberitakan oleh media Indonesia tentang Negari Matahari Terbit tersebut. Dan salah satunya adalah tentang gadis cantik ini. Dilansir Citizen6 pada 16 Februari 2016 lalu. Reikko Hori, seorang mahasiswi umur 22 tahun dari Jepang, telah bertahan hidup selama 19 hari di pulau tak berpenghuni di Indonesia. Berada sekitar 4.200 mil dari barat laut Australia, Reikko-san hanya berbekal kaca pembesar untuk membuat api, sebilah tombak untuk menangkap ikan, dan sebuah kamera demi bisa merekam seluruh aktivitas yang ia lakukan.

Sebenarnya, Reikko sedang berlibur di sana, Kawan-kawan, bukan tersesat atau terdampar. Dengan jasa travelling unik yang pernah ada, selalu menawarkan pada para konsumennya untuk tinggal di pulau, gurun, atau tempat yang paling terpencil dunia. Docastaway, itulah namanya, Reikko-san lebih memilih paket yang paling ekstrem dari seluruh paket dengan berbagai tingkat kenyamanan yang ada, kategori ‘petualangan’.

Sebelumnya kukira itu adalah sebuah pulau yang kecil. Eh, ternyata justru sebaliknya. Aku lumayan takut walau hanya tinggal di sana selama 19 hari saja,” ujar gadis manis tersebut seperti yang diulas oleh Travel MailOnline, pada Selasa tertanggal 16 Februari 2016.

lichnaya-stranica-reikko-hori-v-facebook-73730327

 

“Ada perasaan kesepian yang begitu besar, seperti menjadi satu-satunya orang yang hidup di laut. Tapi, pada saat yang sama aku tertantang. Lalu tatkala tim Docastaway meninggalkanku, aku sangat senang berada di pulau itu sendirian. Namun ternyata kesenangan itu hanya sesaat. Pada hari kedua, aku mulai merasa kesepian yang menyakitkan.”

Reikko bahkan sempat menggambarkan bagaimana ia membuat api dengan serpihan sabut kelapa serta kaca pembesar. Menurutnya, butuh waktu sekitar satu jam atau lebih sekadar untuk menangkap satu ekor ikan jika memakai sebilah tombak. Ia juga memanjat pohon kelapa untuk diminum airnya.

“Aku ini bukan orang yang terlalu suka bergaul, tapi kini aku rasa bisa lebih paham dan menghargai perasaan orang-orang ketika berada di dekatnya. Biasanya sih aku lebih suka menyendiri, namun setelah menghabiskan 19 hari hidup di pulau terpencil, aku tidak mau lagi kesepian.”

Docastaway

Perempuan manis itu menuturkan kalau sekarang ia lebih bisa merasa bahagia berada di dekat orang lain. Ia jadi seseorang yang lebih dapat memahami teman-temannya dengan baik, tidak hanya penderitaan mereka, tapi juga kebahagiaan yang sedang dirasakan. Walau Reikko sempat mengaku pada media, bahwa dirinya sempat frustasi karena tinggal sendirian di sana, merasa menjadi satu-satunya manusia yang hidup di dunia, tapi pengalaman tersebut tak akan pernah ia lupakan.

“Kini aku ingin memberikan manfaat positif dalam bermasyarakat dan lebih menghormatu hal-hal penting yang aku miliki dalam hidup ini.”
Weh-weh, hidup itu adalah sebuah petualangan ya, Kawan-kawan? Tidak hanya makan, minum, dan bermain, tapi seluruh yang ada dalam hidup harus kita diperjuangkan. Belajar survive, kemudian menjadi orang kuat yang hebat itu harus. 😀

14

SHARE
Previous articleKanojo to Kanojo no Neko: Everything Flows
Next articleSensasi Makan Bersama Ular Eksotis di Jepang
Winata SilenceAngelo merupakan seorang penulis remaja yang lahir pada 3 September 1997 di kota Karawang. Kecintaannya terhadap diksi yang melankolis serta menyentuh mengantarkannya ke dunia kepenulisan. Pada umurnya yang masih sangat muda ini, ia berhasil meraih beberapa penghargaan sastra serta menjadi kontributor dari buku-buku puisi. Menurut Winata, dalam sebuah naskah, entah itu novel, cerpen, esai, puisi, atau sekadar kata-kata, yang terpenting adalah unsur amanat. Seperti ketajaman pada ujung mata pedang, amanat merupakan apa yang menjadi tolak ukur suatu seni. Di sanalah segala dari pemikiran sang penulis bermuara, hingga kemudian menunjukan keindahannya dengan sangat artistik.