Sekarang, film live-action Ghost in the Shell adaptasi karya animanga Masamune Shirow yang dahulu sempat populer di era tahun 1990-an sedang ramai-ramainya dibahas. Bioskop-bioskop dunia tengah menayangkan movie spektakuler satu ini. Dengan menggaet bintang utama Scarlett Johansson sebagai tokoh utama dan rekan mainnya, Chin Han, membuat franchise tersebut menarik perhatian publik yang penasaran. Namun tentu saja, menyusul ketenarannya kontroversi Ghost in the Shell muncul di permukaan.

Berbagai situs berita seperti The Guardian, The Hollywood Reporter, IGN, Entertainment Weekly, AV Club, hingga Los Angeles Times mulai melansir apa yang mereka dapatkan dari publik dunia. Ada berjibun reaksi serta pendapat yang dikeluarkan oleh para penggemar. Perbedaan inilah yang akhirnya menuai kontroversi. Terpilihnya Scarlett Johansson sebagai Motoko Kusanagi bahkan memicu pro dan kontra. Di luar Jepang, banyak yang berharap agar tokoh utamanya diperankan oleh aktris dari Negeri Bunga Sakura. Mereka setuju bahwa karakter Motoko akan sangat melekat jika yang memerankannya merupakan ras dari Asia.

Namun, tanggapan tersebut ditentang oleh kalangan yang kontra. Mereka menyebutkan bahwa sudah seharusnya pemain utama diperankan oleh aktris dari Barat, yang mana merupakan ras Kulit Putih. Respon ini disampaikan oleh publik Jepang sendiri. Mereka juga menambahkan, warna pucat pada kulit Scarlett Johansson bakal menyatu dengan perannya sebagai cyborg atau manusia setengah robot. Aktris Hollywood dikatakan lebih bisa diandalkan dalam film laga yang membutuhkan kekuatan fisik besar.

kontroversi ghost in the shell

Sebagian orang yang memiliki bidang di industri film juga turut memberikan komentarnya. Mereka mengklaim bahwa para sineas waralaba film live-action Ghost in the Shell takut aktris dari Asia hanya membawa keuntungan yang sedikit ketimbang dipilihnya aktris kulit putih. Marc Bernardin bahkan mengatakan, “Satu-satunya ras di Hollywood yang dipedulikan adalah ras box office.” Hal ini tentunya menambah rentetan panjang dalam daftar kontroversi Ghost in the Shell di mata dunia.

Baca juga: List 10 Pengumuman April Mop Anime & Game Kocak & Keren 2017

Situasi semakin panas setelah pihak Paramount Pictures merilis video khusus berisi pendapat Mamoru Oshii, yang mana merupakan sutradara film anime pertama di tahun 1995 lalu. Tokoh Jepang terkenal tersebut diketahui sedang mengunjungi studio. Ia menyatakan, “The Major adalah cyborg dan bentuk fisiknya secara keseluruhan itu menyatu. Nama ‘Motoko Kusanagi’ juga tubuhnya saat ini bukanlah nama serta tubuh aslinya.”

kontroversi ghost in the shell

Oshii melanjutkan pendapatnya, “Jadi, tidak ada dasar yang jelas untuk mengatakan jika aktris Asia harus memerankan dirinya. Bahkan, andai tubuh aslinya adalah orang Jepang, itu masih bisa dimaklumi. Tapi saya merasakan hawa-hawa politik dari orang-orang yang menentang hal ini, dan saya percaya bahwa ekspresi seni semestinya bebas dari politik.”

Sam Yoshiba, direktur divisi bisnis internasional dari Kodansha Tokyo dimana hak cipta Ghost in the Shell dipegang olehnya, bahkan mendukung upaya Hollywood dalam memilih Scarlett Johansson. Ia berpendapat, “Melihat kariernya sejauh ini, saya pikir Scarlett Johansson adalah pilihan yang terbaik. Dia memiliki rasa terhadap ‘cyberpunk’. Dan kami tidak pernah bisa membayangkan jika pilihan pertamanya adalah aktris Jepang. Ini adalah kesempatan emas bagi aset negara kami untuk dilihat dunia.”

Scarlett Johansson sendiri sadar akan kontroversi Ghost in the Shell di kalangan publik dunia yang menyerangnya akhir-akhir ini. Ia kemudian menjelaskan perasaannya, “Saya sebelumnya tidak pernah menduga akan memainkan peran sebagai ras lain dari seorang tokoh. Namun, keanekaragaman penting di Hollywood, dan saya merasa tidak sedang memainkan karakter yang menyinggung perasaan orang lain. Tentu saja, saya merasakan tekanan besar akan hal ini.”

Comments

SHARE
Previous articleList 10 Pengumuman April Mop Anime & Game Kocak & Keren 2017
Next articleGantengnya Ikuta Toma dalam Trailer Live Action SENSEI
Winata SilenceAngelo merupakan seorang penulis remaja yang lahir pada 3 September 1997 di kota Karawang. Kecintaannya terhadap diksi yang melankolis serta menyentuh mengantarkannya ke dunia kepenulisan. Pada umurnya yang masih sangat muda ini, ia berhasil meraih beberapa penghargaan sastra serta menjadi kontributor dari buku-buku puisi. Menurut Winata, dalam sebuah naskah, entah itu novel, cerpen, esai, puisi, atau sekadar kata-kata, yang terpenting adalah unsur amanat. Seperti ketajaman pada ujung mata pedang, amanat merupakan apa yang menjadi tolak ukur suatu seni. Di sanalah segala dari pemikiran sang penulis bermuara, hingga kemudian menunjukan keindahannya dengan sangat artistik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here