Dengan besarnya industri manga di Jepang, tetap saja ada orang-orang yang mau memasuki dunia itu. Dan telah ada beberapa tempat yang mengajarkan dasarnya, bahkan kepada para narapidana, seperti yang dilakukan oleh mangaka Sakaba Ryou. Kali ini ada kabar seseorang yang berkecimpung dalam industri manga yang membagikan ajaran kepada mereka yang mau jadi mangaka. Dengan komikus Hokuto no Ken membuka sekolah les manga.

Dan komikus Hokuto no Ken tersebut adalah Buronson. Walau ia bukan yang menggambar manga tersebut, dengan Hara Tetsuo yang membuat ilustrasinya, Buronson yang menulis ceritanya. Tapi tentu bukan itu saja karya yang ditulisnya.

hokuto no ken

Dengan umurnya yang telah mencapai 70 tahun, Buronson adalah seorang veteran yang telah banyak menulis kisah manga lain. Seperti Lord, Heat, dan Strain bersama mangaka Ikegami Ryouichi, Ourou bersama mangaka Berserk Miura Kentaro, dan juga Souten no Ken yang merupakan prequel dari Hokuto no Ken.

Dan pertengahan April kemarin ia membuka sekolah les manga di kampung halamannya di Saku, Prefektur Nagano. Tempat les manga tersebut bernama Buronson 100 jikan Manga Juku, yang dibukanya di Pusat Komunitas Sakudaira.

Nama tersebut berarti Les Manga 100 Jam Buronson, dan mengikuti nama tersebut, jumlah total waktu pengajarannya adalah sebanyak 100 jam, yang dibagi lagi dalam 20 sesi pengajaran yang masing-masing selama lima jam dalam satu tahun.

Yang keren lagi adalah sekolah ini gratis! Akan tetapi juga berkualitas, dengan adanya kesempatan diajar oleh profesional dalam dunia manga, seperti Adachi Mitsuru, mangaka seri sport klasik Touch, yang mengajar bagian pembuka sekolah tersebut.

Dalam pembukaan sekolah itu, terkumpul 31 murid yang terdiri dari 17 perempuan dan 14 laki-laki, dengan umur dan skill yang beragam, ada yang masih pemula dan ada juga yang telah berpengalaman menggambar manga, dari remaja sampai orang dewasa. Bahkan ada juga yang datang dari luar prefektur Nagano seperti dari Saitama dan Kanagawa.

Buronson sendiri agak terkejut sampai ada sebanyak itu murid yang datang. Ia ingin sekolah itu beroperasi selama setidaknya 10 tahun, agak dunia manga tahu kalau kampung halamannya juga bisa berperan dalam dunia manga.

Sesuatu yang sepertinya didukung juga oleh Walikota Saku, yang memberikan selamat sambil mengatakan “Aku ingin kalian benar-benar memakai 100 jam tersebut, agar nantinya kalian dapat berkata [Tak Ada Yang Kusesali]” kata-kata terakhir yang diucapkan oleh karakter Raoh sebelum kematiannya.