Sebuah film tidak akan menjadi karya yang spektakuler tanpa orang-orang dibaliknya. Hal ini juga berlaku pada salah satu film box office di Jepang Chihayafuru. Berkat olahan tangan sang sutradara, Norihiro Koizumi, komik Chihayafuru dapat dihidupkan olehnya dalam bentuk Live Action.

chihayafuru

Film Live Action Chihayafuru dirilis pertama kali pada tanggal 19 Maret 2016 dan ditayangkan dalam 2 bagian. Chihayafuru sendiri merupakan karya yang diangkat dari komik berjudul sama karangan Yuki Suetsugu. Cast yang terlibat dalam film ini diantaranya adalah Suzu Hirose sebagai Chihaya, Mackenyu sebagai Arata Wataya, dan Shuhei Nomura sebagai Taichi Mashima.

Chihayafuru menceritakan perjalanan seorang gadis bernama Chihaya yang terobsesi dengan permainan tradisional Karuta dan mendirikan klub untuk bisa memenangkan pertandingan Karuta nasional.
2

Sutradara Koizumi saat ditemui pada acara Press Confrence JFF 2016 (baca juga https://www.akibanation.com/opening-ceremony-jff-2016-shuhei-rayakan-ultah-bersama-fans/ ) menyatakan bahwa Chihayafuru tidak hanya berfokus pada permainan Karuta namun jua banyak unsur kehidupan di dalamnya. Tidak hanya berpusat pada 3 karakter utama di dalamnya, namun juga keseluruhan karakter pemain Karuta. Film ini tidak hanya mengangkat tentang Karuta, tapi juga sastra puisi Jepang di dalamnya yang memang mempunya permainan kata tersendiri dalam menyiratkan sebuah pesan.

img_4171

 

Berdasarkan penglihatan Koizumi sendiri di Jepang permainan Karuta memang sudah tidak populer dimainkan, apalagi oleh kalangan anak muda di Jepang. Namun masih ada beberapa kelompok yang memainkannya. Bahkan masih banyak orang Jepang yang tidak tahu mengenai permainan Karuta. Setelah film ini ditayangkan, banyak masyarakat Jepang yang semakin tahu mengenai permainan Karuta. Namun hal yang mengejutkan adalah puisi pada Karuta memiliki banyak persamaan dengan perasaan orang-orang masa kini. Meskipun puisi tersebut sudah dibuat bertahun-tahun yang lalu. Menurut Koizumi ini adalah sebuah penemuan baru dan ia merasa bahwa film ini akan mudah diterima oleh masyarakat jaman sekarang.

Koizumi mengakui bahwa proses syutingnya sendiri memakan 2 bulan. Pemilihan casting dilakukan dengan melihat kemiripan karakter esensial para talenta dengan karakter yang ada pada kisah Chihayafuru. Tantangan terbesar yang dialaminya dalam pembuatan film ini adalah bagaimana ia dapat mentrasfer visual yang ada di komik ke dunia nyata. Ia tidak ingin hanya menampilkan adegan-adegan terbaik pada komi, namun bagaimana agar semua penonton bahkan yang belum membaca komiknya sama sekali dapat menikmati ceritanya seperti saat membaca komiknya. Hal ini pun terlihat pada permainan motion yang ada pada film Chihayafuru dan Koizumi berhasil membawakan suasana yang kita rasa saat membaca sebuah komik.

Ternyata Koizumi sudah pernah menonton beberapa film Indonesia, salah satunya adalah The Raid. Jikapun ia bisa berkolaborasi membuat film dengan sineas Indonesia ia ingin mendalami genre cerita bertema keluarga, karena dari situ ia bisa mempelajari perilaku keserahian orang Indonesia.

Kedua film Chihayafuru sendiri sudah bisa Akiba-chan dan Akiba-Kei tonton langsung di JFF 2016, Cinemaxx FX Sudirman. Kalian bisa cek jam tayang di page Facebook JFF 2016 : https://www.facebook.com/JFFJakarta/