Jepang adalah gudangnya hal yang unik dan nyeleneh. Entah itu tempatnya, negaranya, budaya, atau bahkan penduduknya, pasti akan membuat siapa saja terpegun sejenak serta berpikir, jika mengetahui atas apa yang terkait tentang Jepang. Karenanya, Jepang merupakan salah satu negara maju yang masuk dalam daftar negara eksis dalam bidang pers dan berita. Tak jarang kita orang Indonesia menemui ihwal-ihwal gila yang Negeri Bunga Sakura punya ini pada pemberitaan lokal, situs media massa, koran atau majalah, artikel internet, atau bahkan televisi sekalipun. Ramai sekali penduduk bumi pertiwi yang melongo dan berseru “Itu tidak masuk akal!”. Tapi nyatanya memang begitulah, Jepang selalu punya cerita menarik tentang dirinya. Ada banyak kebiasaan dan perilaku yang alami bagi orang Jepang, baik karena diterima secara historis, ditanamkan oleh masyarakat atau karena mereka adalah bagian dari jiwa Jepang. Untuk orang asing dari luar Jepang, termasuk kita yang ada di Indonesia, beberapa dari kebiasaan ini mungkin akan sedikit membingungkan serta aneh. Dan itu sangat membuat para wisatawan dunia memilih Jepang sebagai destinasi tujuan wisata.

Kini, tidak usah basa-basi lagi. Terkait hal tersebut, pada kesempatan ini Penulis akan wacanakan perihal 4 Fakta Unik Tentang Orang-orang Jepang. Apa saja kira-kira? Yuk, langsung menuju ke daftarnya. Diintip ya, Minna-san!

Capt. Seorg remaja gadis Jepang berselfie

  1. Membuat Tanda “Peace” Ketika Berfoto

Banyak kawula muda Jepang secara naluriah membentuk tanda “Peace” atau “Vee” dengan jari-jari mereka tatkala mereka berpose do depan kamera. Di banyak negara lain, ini adalah tanda perdamaian. Tetapi bagi orang-orang Jepang, gaya selfie satu ini merupakan tanda bahwa mereka senang dan gembira. Karena pada saat berfoto, entah itu bersama teman, rekan kerja, keluarga, atau saudara, orang-orang biasanya akan mengangkat jari mereka membentuk tanda Peace atau Vee tersebut diiringi dengan senyuman, cengiran, tawa, dan body language sebagainya, yang menyimbolkan bahwa mereka sedang dalam keadaan yang amat bahagia.

Sering pula ditemui, para orang-orang Jepang senang sekali memejamkan sebelah matanya saat dipotret. Mereka tidak akan segan menempatkan lengan mereka pada pundak orang yang di sampingnya, merangkul, atau pose ‘kyut-kyutan’ lain yang terkadang menurut kita agak sedikit alay.

Orang-orang Jepang juga sering mengembungkan pipi mereka tepat di hadapan lensa kamera, tentu saja mereka melakukan hal tersebut memiliki tujuan, yaitu untuk hal yang sama. Mencipta foto yang se-kyut mungkin, se-happy mungkin. Sehingga membuat sumringah siapapun yang memandangi fotonya.

Dalam hal ini, merupakan cara yang terbaik untuk menemukan siapa yang merupakan turis Jepang saat berada di kerumunan.

Capt. Kebiasaan makan sambil duduk di lantai

  1. Duduk Di Lantai

Banyak orang asing bertanya-tanya mengapa orang-orang Jepang sangat suka duduk di lantai. Karena sangat jarang melihat orang yang duduk di lantai di negara-negara Barat di mana tikar tatami amat tidak lazim. Banyak wisatawan asing yang datang ke Jepang merasa kesulitan saat duduk di lantai, karena mereka terbiasa duduk di sofa atau kursi yang empuk, bukan ubin datar yang keras. Banyak yang mengeluh setelah makan atau menonton televisi, mereka mendapati rasa nyeri pada persendian kaki mereka dan punggung. Tentu hal tersebut terjadi lantaran tidak terbiasanya duduk pada lantai.

Akan tetapi mungkin penduduk Indonesia bisa sedikit berbaur dengan kebiasaan duduk di lantai satu ini. Karena penjajahan Jepang saat perang dunia kedua selama beberapa tahun lamanya begitu meninggalkan bekas, termasuk budaya orang-orangnya. Sehingga orang-orang di Indonesia pun sering kali makan atau nonton dengan posisi duduk di lantai. Kebanyakan bersila, dibanding yang bertimpu khas Jepang. Yaitu duduk dengan bagian lutut ke bawah ditimpa berat badan, posisi orang-orang mengemis ampunan dalam film atau berdoa.

Maka dari itu, negara kunjungan yang paling tepat bagi orang Indonesia adalah di Jepang! Minna-san sekiranga mau coba makan atau nonton televisi di atas gelaran tikar tatami?

Capt. Para anggota K-On yg sdg minum teh hangat

  1. Minum Teh

Teh, adalah dedaunan yang dapat meninggalkan rasa dan bau yang khas ketika diseduh menggunakan air panas. Dengan sedikit gula, Teh sangat terasa nikmat untuk dipakai bersantai, apalagi ditemani cemilan sejenis roti kering dan keripik. Biasanya Teh yang masyarakat Indonesia konsumsi adalah jenis Teh Hitam yang dicampur bunga melati, dibanding Teh Hijau yang dipetik langsung dari pegunungan. Hal tersebut dikarenakan pegunungan itu jaraknya jauh dari kota, tentu saja seseorang yang hendak ngeteh tidak akan menghabiskan waktunya untuk mengambil sejumput Teh Hijau segar dari pegunungannya langsung. *ditabok*

Namun, ini serius, di Jepang orang-orangnya berbanding balik dengan orang-orang di Indonesia perkara Teh. Karena penghuni Negeri Matahari Terbit tersebut lebih menyukai Teh yang Hijau ketimbang Teh yang Hitam. Dengan kemasan yang praktik serta canggih, daun-daun Teh Hijau yang fresh dijual di supermarket, paling terjaga kualitasnya. Hal tersebut dikarenakan Teh Hijau lebih sedap rasa dan kesegarannya dibanding Teh Hitam yang sudah melalui banyak proses. Jika Minna-san berada di Jepang, cobalah membuka lemari es di rumah-rumah yang pemiliknya orang Jepang asli, bukan kawe super atau kawe-kawean. Minna-san akan menemui paling tidak satu sampai tiga kemasan berisi Teh Hijau. Tapi jangan dicolong ya, ingat itu. Jangan bawa kebiasaanmu ke luar negeri. Jangan malu-maluin. *ditabok lagi*

Juga, diketahui bahwa orang-orang Jepang suka membeli minuman Teh Hijau dalam bentuk botol. Mereka lazimnya membeli itu di mesin penjual otomatis.

Oh, iya, kesukaan mereka terhadap Teh Hijau bisa dilihat pada anime K-ON, di sana digambarkan para remaja siswi Jepang yang sangat suka ngeteh setelah latihan musik.

Capt. Ilustrasi Naruto makan mie atau ramen

  1. Menyeruput Mie Dan Membuat Sendawa

Orang Jepang biasanya menyeruput ketika mereka makan mie seperti ramen, soba dan udon. Mereka senang sekali membuat suara “slurpp” saat makan mie bersama sumpit. Dengan begitu mereka merasa menikmati sekali mie yang mereka makan, itu adalah salah satu cara meresapi makan mie. Dan tak jarang pula, mereka pun kerap bersendawa sengaja setelah selesai memakannya. Kadang itu dilakukan sebagai penghormatan terhadap orang menyajikan mie tersebut, apalagi jika disuguhi ketika mengunjungi rumah teman atau saudara. Karena di sana, kebanyakan orang yang menyuguhi makan seseorang, akan memelototi orang tersebut sampai selesai makannya. Kalau dipikir-pikir agak annoying juga sih, mengingat melihati terus-terusan orang yang sedang makan adalah hal yang membuat orang tersebut risih tidak secara langsung. Tapi di Jepang itu merupakan hal yang lumrah. Si penyuguh ini juga biasanya akan mengajak orang yang disuguhinya makan sambil mengobrol, mereka menyantap hidangan sembari sesekali tertawa. Oleh sebabnya, stan-stan makan di Jepang biasanya ramai dengan seruan dan obrolan. Aneh juga ya, apa tidak tersedak tuh?

Satu lagi, Minna-san dapat melihat kebiasaan satu ini dalam adegan di anime-anime ketika sang tamu disuguhi hidangan oleh tuan rumah. Lihatlah si penyuguh akan bertampu janggut dan memandangi intens tamunya makan sambil tersenyum.

Nah, itulah 4 Fakta Unik Tentang Orang-orang Jepang. Mungkin jika sekilas terlihat membingungkan dan ganjil, tapi fakta berkata serta menunjukkan seperti itu. Dan perihal unik tersebut tidak terjadi pada orang-orang Jepang saja, melainkan bangsa-bangsa yang ada di dunia. Tentu saja semuanya berbeda-beda, bahkan boleh jadi lebih nyeleneh dari ini. 🙂

Sampai jumpa di artikel selanjutnya, mungkin Penulis akan mengulas hal yang unik lain seputar orang-orang Jepang. Stay tune!

SHARE
Previous articleWajib Tahu! 5 Karakter Anime Berkekuatan Petir Yang Mengaggumkan
Next articleEnnichisai : Miracle Power of Love Surganya serba-serbi Jepang
Winata SilenceAngelo merupakan seorang penulis remaja yang lahir pada 3 September 1997 di kota Karawang. Kecintaannya terhadap diksi yang melankolis serta menyentuh mengantarkannya ke dunia kepenulisan. Pada umurnya yang masih sangat muda ini, ia berhasil meraih beberapa penghargaan sastra serta menjadi kontributor dari buku-buku puisi. Menurut Winata, dalam sebuah naskah, entah itu novel, cerpen, esai, puisi, atau sekadar kata-kata, yang terpenting adalah unsur amanat. Seperti ketajaman pada ujung mata pedang, amanat merupakan apa yang menjadi tolak ukur suatu seni. Di sanalah segala dari pemikiran sang penulis bermuara, hingga kemudian menunjukan keindahannya dengan sangat artistik.