Mungkin sudah banyak yang tahu kalau warga Jepang sangat serius dalam bekerja. Tapi keseriusan yang patut dicontoh itu juga membuat masalah, dengan yang sering terjadi adalah masalah stress dan depresi, seperti yang terlihat dengan para guru di Jepang yang makin stress mentalnya. Dan itu juga bisa terjadi pada idol, karena menurut kata seorang mantan AKB, ada banyak gadis yang tak sehat mentalnya disitu.

Mantan member 48 tersebut, adalah Nishino Miki. Ia mulai bergabung dalam bagian grup AKB sebagai AKB48 Kenkyuusei dari bulan Juli 2012. Setelah itu ia naik pangkat dan menjadi bagian dari AKB48 Team 4 pada tanggal 24 Agustus 2013.

Dan pada akhirnya Nishino lulus dari situ pada tanggal 27 Maret 2017. Setelah lulus, kini ia masih bekerja dalam dunia entertainment, sebagai TV dan Media Personality dan menjadi bagian dari Twin Planet Entertainment.

Dan pada hari Senin kemarin, ia tampil dalam acara talk show dari jasa streaming Abema TV yang berjudul Ogiya Hagi no Busu. Dan dalam acara itulah, dijelaskan sisi yang gelap dalam bekerja sebagai idol, termasuk apa yang dikatakan diawal. Mengatakan kalau karena jadwal yang sangat sangat sibuk, ada banyak anak muda yang tak sehat.

Ia juga mengatakan ada banyak gadis dalam grup AKB48 yang kesehatan mentalnya tidak bagus. Dan lanjut mengatakan kalau suka ada member AKB48 yang mengeset kata-kata yang tak begitu ceria pada status LINE mereka. Seperti mengatakan “jika aku tetap melihat kedepan, aku akan bisa melihat hal yang lebih baik” atau “kupikir suatu hari nanti keadaanku akan membaik”

Atau selain kata-kata, bisa juga mereka mengubah profilpic mereka jadi hitam gelap gulita. Semua hal-hal tersebut terlihat seperti mencari perhatian. Nishino kemudian mengatakan melihat hal-hal itu, jelas kalau mereka ingin ada seseorang yang menolong mereka.

Dan melihat berbagai aktivitas yang perlu mereka lakukan, itu memang bisa terjadi. Belum lagi adanya aturan seperti bagaimana idol harus single, dan mereka juga perlu menjaga image “karakter yang imut” dan masing-masing member sendiri juga perlu mempertahankan popularitas mereka. Belum lagi budaya Jepang yang mementingkan grup, membuat orang Jepang lebih pasif dan tertutup.