Peru kembali dikejutkan oleh Jorge Luis Vásquez Flores karena baru saja mendapat Guinness Book of World Records secara tiba-tiba. Dia menerima penghargaan besar tersebut tanpa tahu-menahu sebelumnya, hanya dengan suka terhadap Saint Seiya, Jorge Luis memperoleh sebuah sertifikat. Dalam sertifikat tersebut bertuliskan ‘pemilik koleksi kenangan Saint Seiya terbanyak’.

Berita ini dilansir dari Anime News Network, pada hari Sabtu tertanggal 13 Februari 2016 lalu. Penghargaan tersebut katanya didapat pada bulan kemarin.

Sebuah bukti foto memperlihatkan Jorge Luis yang tengah berada di antara koleksi-koleksi Saint Seiya miliknya. Mulai dari sekedar banner biasa, action figure, poster, manga, majalah, hingga kaset dvd anime telah dimilikinya.

Saint Seiya-01

Koleksi Saint Seiya Jorge Luis-01

Paman Vásquez sendiri bilang mulai mengoleksi barang-barang terkait anime televisi kesukaannya itu lebih dari 20 tahun yang silam, satu demi satu ia beli sampai menumpuk seperti sekarang. Ia juga mengatakan sudah mengumpulkan sebanyak 6.688 picis barang mulai dari boneka hingga magnet berbentuk karakter Saint Seiya. Jika mesti diujarkan, koleksinya ini nyaris dua kali lipat lebih banyak dari pemegang rekor sebelumnya, Ecatzin Bayardi Rosas dari Meksiko. Namun Rosas mendapat penghargaan dengan gelar yang serupa pada bulan Oktober 2015 dahulu. Jorge Luis pada tahun 2014 sebelumnya setelah Rosas dianugerahi World Record, mengaku baru memiliki koleksi Saint Seiya sebanyak 1.792 picis barang.

Saat ini, pria tersebut bekerja sebagai seorang pengacara di Peru sekaligus menjadi pendiri fans club Saint Seiya terbesar di negaranya, bernama Athena no Seintos. Koleksinya sempat muncul di pameran dan berbagai acara wilayah setempat, lho.

Kepopuleran Saint Seiya di negara-negara Latin memang sangat luar biasa penting bagi franchise tersebut. Perkembangan komunitas di sana berpengaruh besar terhadap pasar penjualan manga, anime, hingga merchandise. Sedikit informasi, Saint Seiya versi asli dikarang oleh Masami Kurumada yang kemudian dirilis pertama kali di majalah Weekly Shonen Jump terbitan Shueisha sejak 1985 hingga 1990. Versi anime mengudara pertama kali di televisi Jepang sejak 1986 dan langsung menjadi hits di Eropa, Amerika Selatan, dan seluruh Asia.

Saint Seiya 2-01

Kisah Saint Seiya awalnya bercerita tentang seorang pemuda yatim piatu bernama Seiya yang dilatih di Yunani. Ia lalu menjadi petarung dan seorang Saint yang mengenakan zirah besi dengan mewakili konstelasi bintang Pegasus.

Cerita pun semakin pelik tatkala teman dekatnya, Saori Kido yang didaulat sebagai dewi Athena, hendak dibunuh oleh para Saint jahat di seluruh antero negeri. Sehingga, Seiya pun membentuk sebuah kelompok bersama teman-temannya, yaitu Shiryu, Hyoga, Shun, dan Ikki untuk melindungi Athena. Kisah berlanjut semakin menegangkan serta penuh kelumit perjuangan, melindungi Athena dari kejaran musuh yang hendak membunuh.

Hebat bukan, apa yang terjadi pada paman Vásquez ini? Tidak perlu repot-repot melakukan sesuatu yang mustahil dilakukan banyak orang, cukup menekuni apa yang menjadi hobi dan tiba-tiba saja World Record mengunjungi kediamannya.

Semoga Akiba-kei dan Akiba-chan sekalian dapat memetik pelajaran dari ini, bahwa apa yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan penuh sukacita dapat menghasilkan sesuatu yang hebat, bahkan untuk hal seperti sekedar hobi ‘mengoleksi’.

Saint Seiya

SHARE
Previous articleBertemu Rila Fukushima: Aktris Jepang Merintis karir ke Hollywood
Next articleSekuel Initial D Usung Tema Balapan Reli
Winata SilenceAngelo merupakan seorang penulis remaja yang lahir pada 3 September 1997 di kota Karawang. Kecintaannya terhadap diksi yang melankolis serta menyentuh mengantarkannya ke dunia kepenulisan. Pada umurnya yang masih sangat muda ini, ia berhasil meraih beberapa penghargaan sastra serta menjadi kontributor dari buku-buku puisi. Menurut Winata, dalam sebuah naskah, entah itu novel, cerpen, esai, puisi, atau sekadar kata-kata, yang terpenting adalah unsur amanat. Seperti ketajaman pada ujung mata pedang, amanat merupakan apa yang menjadi tolak ukur suatu seni. Di sanalah segala dari pemikiran sang penulis bermuara, hingga kemudian menunjukan keindahannya dengan sangat artistik.