Siapa dari kalian yang memiliki ponsel dengan fasilitas autentikasi sidik jari atau yang lebih terkenal dengan sebutan ‘fingerprint’? Ya, memang sudah sangat banyak ponsel pintar sekarang yang menggunakan pengaman satu ini untuk melindungi data pribadi dari tangan-tangan jahil. Namun, apakah fingerprint merupakan satu-satunya pengaman terbaik? Bagi Jepang, itu ketinggalan zaman. Sekarang telah dirilis earprint untuk smartphone.

Menurut pakar-pakar teknologi dari Negeri Bunga Sakura, fasilitas autentikasi fingerprint sudah tidak lagi aman dan memiliki banyak kekurangan. Ini dikarenakan sensor sidik jari yang dipasang pada smartphone mudah rusak akibat terlalu sering ditekan, sehingga kunci akan terbuka dengan sidik jari milik orang lain atau malah kunci ponsel pintar tidak bisa terbuka sama sekali walaupun dengan sidik jari pemilik. Ini tentunya mengancam keamanan data pengguna.

Apalagi, banyak penelitian terbaru membuktikan bahwa terdapat celah besar untuk membobol fingerprint. Seperti yang disebutkan di situs Mashable, satu dari beberapa aplikasi pembobol keamanan pemindai sidik jari yang terkenal adalah Masterprint. Aplikasi tersebut mampu merekam riwayat aktivitas fingerprint pada sebuah smartphone dan mengubahnya menjadi data. Setelah berhasil direkam, maka data aktivitas fingerprint tersebut dikumpulkan untuk memalsukan sidik jari pengguna.

Baca juga: 5 Golongan Pengguna Smartphone di Indonesia. Kira-Kira, Kamu Termasuk yang Mana?

Apakah aplikasi pembobol sidik jari sejenis Masterprint memiliki persentase kemungkinan berhasil yang tinggi? Jawabannya: 70 persen berhasil. Bahaya, bukan? Oleh karena itu, Jepang mempunyai ide demi menggantikan fasilitas autentikasi fingerprint yang sudah ‘menua’, yakni earprint untuk smartphone! Mengikuti namanya, pengaman terbaru ini menggunakan telinga manusia sebagai modal utama melakukan penguncian smartphone. Hmm… cukup menarik. Tapi mengapa harus telinga?

Situs Wired menyebutkan bahwa bidang kedokteran dan medis dunia, termasuk Jepang, mengklaim bahwa telinga adalah organ paling unik selain sidik jari. Setiap individu memiliki karakteristik telinga yang berbeda-beda. Mulai dari bentuk, ukuran, posisi, terutama model saluran lubang telinga. Dikatakan pula bahwa telinga manusia mengalami perubahan yang relatif lebih kecil ketimbang bagian tubuh manusia lainnya. Lantas, mengapa tidak dicoba untuk dijadikan fasilitas autentikasi pada ponsel?

Proses earprint untuk smartphone sendiri menggunakan sinyal pantulan suara. Fasilitas autentikasi termutakhir itu mengirimkan sinyal suara dengan tingkatan gelombang yang diatur sedemikian rupa ke dalam lubang telinga. Setelah sinyal suara diterima gendang telinga, maka sinyal suara akan dipantulkan lagi ke ponsel. Setiap pantulan sinyal suara yang tercipta dari telinga akan berbeda-beda pada setiap orang mengikuti karakteristik telinga dan rongganya. Earprint kemudian merekam aktivitas pantulan-pantulan suara dari telinga itu untuk menjadi tolak ukur penguncian ponsel.

Lebih kerennya lagi, fasilitas autentikasi earprint untuk smartphone dinilai oleh para pakar teknologi dunia sebagai terobosan paling cerdas dari Jepang. Tak ayal inovasi tersebut mendapat banyak pujian sebab tingkat keberhasilan yang menyaingi fingerprint, namun lebih aman dari fingerprint. Ini dikarenakan sinyal suara yang dipantulkan dari organ telinga sangatlah rumit sehingga tidak mudah dipalsukan. Pengaman termuktahir tersebut rencananya akan ditanamkan pada smartphone besutan terbaru yang segera meramaikan pasar teknologi mancanegara.