Tabu atau pantangan adalah suatu pelarangan sosial yang kuat terhadap kata, benda, tindakan, atau orang yang dianggap tidak diinginkan oleh suatu kelompok, budaya, atau masyarakat. Pelanggaran tabu biasanya tidak dapat diterima dan dapat dianggap menyerang. Beberapa tindakan atau kebiasaan yang bersifat tabu bahkan dapat dilarang secara hukum dan pelanggarannya dapat menyebabkan pemberian sanksi keras. Tabu dapat juga membuat malu, aib, dan perlakuan kasar dari lingkungan sekitar.
Secara umum, tabu dianggap telah ada sebelum munculnya teisme dan dari periode sebelum adanya semua jenis agama. Istilah ini diserap dari bahasa Tonga dan juga ditemukan pada banyak budaya Polinesia.
Walaupun dianggap salah satu negara maju di Asia, masyarakat Jepang pun ternyata masih mempercayai beberapa takhayul yang dianggap tabu atau membawa nasib buruk
Yuk mari kita langsung lihat apa saja hal-hal yang orang Jepang anggap tabu dan patut tidak dilakukan ini!.

1 – Jangan Memakai Angka-Angka yang Dianggap Membawa Kesialan

Angka 4 dalam pengucapan bahasa Jepang dibaca “shi”, yang dapat diartikan “mati/kematian”. Beberapa variasi dengan elemen angka 4 juga dianggap tidak baik, seperti 24 yang dapat dibaca “nishi” yang diartikan “kematian ganda”, 42 yang dibaca “shini” juga berarti “mati”, 43 yang dibaca “shizan” yang berarti bayi yang mati waktu dilahirkan (stillbirth), dan 420 yang dibaca “shinirei” atau “shinrei” yang artinya adalah roh orang mati. Nomor 9 juga dianggap membawa kesialan, karena pengucapannya (“ku”) dapat berarti rasa sakit dan penderitaan. Gedung-gedung dan ruangan dengan nomor-nomor tersebut seringkali tidak ada di Jepang, terutama untuk gedung rumah sakit dan tempat tinggal. Kalian juga tidak dianjurkan untuk memberi hadiah dalam jumlah 4 buah, melainkan 3 atau 5 buah dalam satu set.
079534300_1419665003-28122014-angka

2 – Jangan Bersiul di Malam Hari

Hampir sama dengan beberapa wilayah di Indonesia, di Jepang kalian dianjurkan untuk tidak bersiul di malam hari. Dalam takhayul disebutkan bahwa jika kita bersiul di malam hari maka kita akan didatangi oleh hantu atau ular. Namun, penjelasan logisnya adalah karena bersiul seringkali merupakan isyarat yang digunakan oleh para bandit, pencuri dan perampok ketika mereka hendak beraksi di malam hari.
Bersiul

3 – Jangan Menulis Nama Dengan Tinta Merah

Di Indonesia, selain untuk kalimat atau rambu peringatan bahaya kita tidak dianjurkan menulis menggunakan tinta merah karena bermakna marah atau menantang orang yang membaca. Di Jepang juga dilarang, lho, . Di Jepang setiap keluarga memiliki nisan keluarga di kompleks pemakaman, dan semua nama anggota keluarga baik yang sudah meninggal maupun yang masih hidup ditulis di nisan tersebut. Pembedanya adalah nama anggota keluarga yang masih hidup diukir dan dilapisi dengan tinta/cat berwarna merah, sedangkan untuk anggota keluarga yang telah tiada tinta/cat merahnya dikelupas hingga tinggal ukirannya saja. Pada dasarnya kebiasaan ini dilakukan untuk menekan biaya pengukiran dan pembuatan nisan keluarga. Namun, pada perkembangannya menulis nama orang dengan tinta merah dianggap tidak sopan dan mengundang nasib buruk.
stylograph-pen-with-red-ink-drops-mats-silvan

4 – Pakai Sumpit Dengan Benar

Jangan pernah menancapkan kedua sumpitmu secara tegak lurus di yang mangkuk berisi nasi, ya! Mangkuk berisi nasi dengan sumpit tertancap seperti itu biasanya adalah sajian nasi yang diletakkan di altar ketika sedang ada yang meninggal dunia. Kamu juga tidak boleh berbagi makanan dari sumpit ke sumpit orang lain, karena hal tersebut hanya dilakukan dalam ritual hotokebashi, yakni ritual untuk mengambil tulang belulang jenazah yang telah dikremasi untuk dimasukkan ke dalam wadah keramik.
081649000_1441278810-FT9L716HRWNBBUF.LARGE