Minna-san, o genki desuka? ๐Ÿ™‚ Berikut ini ada artikel kebudayaan yang akan Penulis sajikan untuk para pembaca. Artikel tersebut adalah tentang Ikebana (็”Ÿ่Šฑ), sebuah budaya merangkai bunga dari Negeri Bunga Sakura. Yuk, mari dibicarakan lebih lanjut.ย Ikebana terdiri dari dua huruf kanji, yaitu ็”Ÿ dan ่Šฑ. Adalah suatu kebudayaan tradisional dari orang-orang Jepang dengan kegiatan merangkai bunga satu sama lain hingga membentuk karangan bunga yang indah. Biasanya, kebudayaan satu ini memanfaatkan rerumputan, tumbuhan bersulur atau rambat, dan kelopak bunga bertangkai sebagai bahan utama dari pembuatannya.

Digunakan sebagai pajangan, Ikebana dapat membuat dekorasi sebuah tempat menjadi begitu artistik. Keelokan dari bahan-bahannya yang alami, membuat benda apa saja menjelma sebagai benda yang sangat anggun serta indah dipandang lama-lama. Oleh karena itu, para pengrajin Ikebana dapat ditemui dengan mudah di Jepang. Banyak sekali perangkai bunga di sana yang melengkapi acara-acara besar dan pesta. Seperti penyambutan pejabat, datangnya wakil pemerintah, dan sebagainya. Pula pada resepsi pernikahan yang menginginkan sebuah pagelaran nan bahari.

Ikebana berasal dari Jepang, tapi telah meluas ke seluruh dunia. Dalam bahasa Jepang sendiri, Ikebana juga mempunyai nama lain dengan istilah Kadล (่ฏ้“). Ka (่ฏ) yang dapat berarti Bunga dalam bahasa Indonesia, dan Do (้“) merupakan Jalan Kehidupan, lebih menekankan pada aspek seni untuk mencapai kesempurnaan dalam ‘Merangkai Bunga’.

Capt. Ikebana dg gabungan bunga besar dan kecil

Di dalam kebudayaan Ikebana, terdapat berbagai macam aliran yang masing-masing mempunyai cara tersendiri dalam merangkai berbagai jenis bunga. Aliran tertentu mengharuskan seseorang melihat rangkaian bunga tepat dari bagian depan, sedangkan aliran lain mengharuskan seseorang melihat rangkaian bunga yang berbentuk tiga dimensi sebagai benda dua dimensi saja, Minna-san. Agar kelak lebih mudah dalam proses menganyam satu sama lain bunga tersebut.

Pada umumnya, bunga yang dirangkai dengan teknik merangkai dari Barat (Flower Arrangement) terlihat sama indahnya dari berbagai sudut pandang secara tiga dimensi dan tidak perlu wajib dilihat dari bagian depan saja. Berbeda dengan seni merangkai bunga dari Barat yang bersifat dekoratif, Ikebana berusaha menciptakan harmoni dalam bentuk linier, ritme serta warna. Ikebana tidak mementingkan keindahan bunga tapi pada aspek pengaturannya menurut garis linier. Bentuk-bentuk dalam Ikebana didasarkan tiga titik yang mewakili langit, bumi, dan manusia. Wah, betapa uniknya kebudayaan satu ini ya, Minna-san?

Capt. Ikebana sering memakai akar atau batang

Oh, iya, asal-usul Ikebana yang jika ditulis dalam Hiragana yakni ใ„ใ‘ใฐใช, berasal dari tradisi mempersembahkan bunga di kuil Buddha di Jepang. Ikebana berkembang bersamaan dengan perkembangan agama Buddha di Jepang pada abad ke-6 yang dimana lebih besar kontribusi rakyat China dalam hal tersebut.

Ada penelitian yang mengatakan pula bahwa Ikebana berasal dari tradisi Animisme orang zaman kuno lho, yaitu menyusun kembali tanaman yang sudah dipetik dari alam sesuai dengan keinginannya. Animisme sendiri ialah kepercayaan yang mempercayai bahwa semua benda mempunyai roh halus penunggunya, entah itu batu, kayu dari pohon keramat, sungai, bahkan hewan sekali pun. Kepercayaan ini juga pernah melingkupi banyak masyarakat Indonesia pada zaman dahulu, tepatnya sebelum era revolusi dimulai.

Perlu Minna-san ketahui, di zaman kuno manusia yang peka dan merasakan keanehan yang terdapat pada suatu benda, akan mengganggapnya sebagai sebuah misteri yang amat mistis tak terjelaskan. Hal itu dipengaruhi karena pada zaman kuno, manusia belum mengenal teknologi modern yang mana bisa menjelaskan dengan terperinci apa saja sebab musabab peristiwa alam yang terjadi. Maka dengan bergantinya era serta zaman, kepercayaan tahayul Animisme telah mulai ditinggalkan.

Ikebana

Sekarang mari beralih ke sejarah Ikebana, Minna-san. Menurut literatur klasik seperti Makura no Sลshi yang bercerita tentang adat istiadat Jepang, tradisi mengagumi bunga dengan cara memotong tangkainya dari sekuntum bunga, sudah dimulai sejak zaman Heian dahulu. Pada mulanya, bunga diletakkan ke dalam wadah yang sudah disiapkan sebelumnya dan kemudian baru dibuatkan wadah khusus seperti vas bunga. Ikebana dalam bentuk seperti sekarang ini, baru dimulai para biksu di kuil Chohoji Kyoto pada pertengahan zaman Muromachi. Parabiksu kuil Chohoji secara turun temurun tinggal di kamar (Bo) di pinggir kolam (Ike), sehingga tercetus aliran baru Ikebana yang disebut aliran Ikenobo.

Pada pertengahan zaman Edo, berbagai kepala aliran (Lemoto) dan guru besar kepala (Soke) menciptakan seni merangkai bunga dengan gaya

Tachibana atau Rikka yang menjadi mapan pada masa itu. Di pertengahan zaman Edo hingga akhir zaman Edo pula, Ikebana yang dulunya hanya bisa dinikmati kalangan bangsawan kerhaan atau kaum Samurai saja, secara berangsur-angsur mulai disenangi rakyat kecil. Ikebana gaya Shoka atau Seika lebih menjadi populer di kalangan penduduk sipil karena dirasa lebih unik dari aliran Ikebana yang lain. Jadi, Minna-san salah jika menyangka bahwa merangkai bunga tidak mempunyai aliran. Ikebana atau kebudayaan merangkai bunga sama halnya dengan lukisan, banyak sekali gaya yang digunakan para Maestro lukis, seperti contoh aliran Realisme dari Fransisco de Goya, Ekspresionisme dari Vincent van Gogh, atau Romantisme dari Raden Saleh.

Ikebana kemudian menyeluruh dan mulai terkenal ke Eropa lho, Minna-san. Yaitu sekitaran akhir zaman Edo hingga awal era Meiji. Ketika minat orang Eropa terhadap kebudayaan Jepang sedang tinggi-tingginya, Ikebana dikatakan menjadi pengaruh dari seni merangkai bunga di Eropa bahkan dunia. Hebat sekali ya? Sejak zaman Edo pula lahir banyak sekali aliran yang merupakan pecahan dari aliran Ikenobo.

Itulah artikel tentang Ikebana, kebudayaan Jepang yang mana masih sangat terkenal sampai sekarang ini. ๐Ÿ™‚ Adakah dari Minna-san yang bersedia mencoba merangkai bunga sendiri?

SHARE
Previous articleSeminggu Menjelang Bunkasai 9 – Festival Paling Ditunggu Untuk Otaku Riau
Next articleANIME REVIEW: Koutetsujou no Kabaneri – Ksatria Moe Diantara Lautan Darah
Winata SilenceAngelo merupakan seorang penulis remaja yang lahir pada 3 September 1997 di kota Karawang. Kecintaannya terhadap diksi yang melankolis serta menyentuh mengantarkannya ke dunia kepenulisan. Pada umurnya yang masih sangat muda ini, ia berhasil meraih beberapa penghargaan sastra serta menjadi kontributor dari buku-buku puisi. Menurut Winata, dalam sebuah naskah, entah itu novel, cerpen, esai, puisi, atau sekadar kata-kata, yang terpenting adalah unsur amanat. Seperti ketajaman pada ujung mata pedang, amanat merupakan apa yang menjadi tolak ukur suatu seni. Di sanalah segala dari pemikiran sang penulis bermuara, hingga kemudian menunjukan keindahannya dengan sangat artistik.