Penduduk Jepang tidak akan pernah lupa atas tragedi yang melanda wilayah Fukushima pada tahun 2011 silam. Kegagalan operasional Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) karena diterjang tsunami dan gempa mengakibatkan paparan radiasi yang cukup membahayakan bagi manusia. Warga yang tinggal di sekitar pun diimbau untuk segera meninggalkan rumahnya. Sejak saat itulah, beberapa kota di Jepang diketahui tak berpenduduk dan mulai dihuni hewan liar.

Peringatan bahaya nuklir pertama kali diumumkan pemerintah Negeri Bunga Sakura antara bulan Maret. Ada 140 ribu orang penduduk yang tinggal 20 kilometer dari PLTN terpaksa mengungsi. Meski begitu, Akiba-chan dan Akiba-kei sekalian, sebagian warga sisanya nyatanya tidak memedulikan peringatan bahaya nuklir dari pemerintah. Mereka memilih untuk tetap tinggal di sana.

Hingga pada bulan Mei, Naoto Kan yang menjabat sebagai Perdana Menteri Jepang kala itu memerintahkan untuk menutup PLTN terkait. Mengingat, ada perkiraan bahwa akan ada gempa berkekuatan 8.0 skala richter atau lebih di kawasan itu dalam jangka waktu 30 tahun ke depan.

Hewan Liar

Walaupun sekarang telah lewat beberapa tahun, peristiwa nuklir tersebut masih meninggalkan bekas yang mendalam bagi masyarakat Fukushima. Kenangan pahit itu masih menempel di benak mereka yang terpaksa mengungsi jauh dari tanah kelahirannya. Sesudah ditinggal pergi warganya, kota-kota di wilayah Fukushima pun kini dihuni hewan liar. Kawanan babi hutan sering kali terlihat menempati pemukiman penduduk.

Baca Juga: Wajib Tahu, 3 Patung Hewan Bersejarah Dan Takan Terlupakan Di jepang

Dilansir dari The Sun dan beberapa situs berita lainnya, baru-baru ini pemerintah Jepang mengajak warga Fukushima yang mengungsi untuk kembali ke kampung halaman mereka masing-masing. Namun dari 160 ribu orang yang diketahui mengungsi, terdapat setengahnya yang belum kembali.

Meski diimbau untuk segera pulang kampung, ternyata keadaan kota-kota di Fukushima sebelumnya begitu mengkhawatirkan, Minasan. Pasalnya, kawasan tersebut dihuni hewan liar yang telah terkontaminasi radiasi nuklir. Mereka menguasai pedesaan dengan berusaha merangsek ke rumah-rumah warga yang telah ditinggalkan untuk mencari makanan.

Baca Juga: Wani, Naga Laut yang Terlupakan

Selama enam tahun terakhir, jumlah kawanan babi hutan dan binatang lainnya itu terus bertambah. Sekitar ada ratusan ekor yang terlihat melintas di jalan-jalan dan sekitaran rumah penduduk. Titik yang paling banyak dihuni hewan liar adalah kawasan PLTN yang kini sudah tak beroperasi lagi. Selain itu, dua kota di Jepang, yaitu Namie dan Tomioka, juga bisa dibilang sebagai kota yang paling banyak populasi hewan liarnya.

Pemerintah Jepang kemudian mengutus kelompok pemburu untuk mengendalikan populasi mereka yang terus bertambah. Sejauh ini cara tersebut lumayan efektif untuk meminimalisir jumlah hewan liar dan mengambil alih kota-kota di Fukushima dari kekuasaan para binatang. Pada bulan April tahun lalu, ada sekitar 300 hewan liar yang berhasil dibasmi.

Babi hutan yg menguasai kota Tamie & Tomioka.

Data terbaru kami memperlihatkan perkembangan perburuan babi hutan yang cukup pesat dan patut diacungi jempol. Dari 300 ekor menjadi 3000 ekor, kemudian bertambah lagi mencapai 13 ribu ekor yang terbunuh.

Sementara itu, pemerintah kota Nihonmatsu menyiapkan kuburan massal untuk menguburkan ribuan mayat babi hutan dan hewan liar yang terkontaminasi radiasi nuklir tersebut.

Weleh-weleh, ternyata lumayan banyak juga ya hewan liar yang menghuni kota-kota di wilayah Fukushima. Nah, bagaimana kiranya tanggapan Minasan terhadap hal ini? 😀

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here