Sebelumnya kita sudah membahas tentang gua peninggalan Jepang di Indonesia. Di antaranya ada Gua Klungkung, Bali; Gua Jepang Bukittinggi, Sumatera Barat; Gua Jepang Pangandaran, Jawa Barat; Gua Jepang Taman Hutan Raya, Bandung; dan Gua Jepang Kaliurang, Yogyakarta. Nah, pada kesempatan kali ini akan diluas beberapa gua Jepang selanjutnya yang menarik perhatian publik dan sarat akan informasi sejarah. Tak lupa dengan berbagai peristiwa menyeramkan yang pernah terjadi di masa lalu.

Di bawah ini merupakan daftar gua peninggalan Jepang di Indonesia yang melukiskan riwayat kelam penjajahan. Baca sampai habis, siapa tahu muncul soalannya di ujian sekolah. 😀

Gua Jepang Biak – Papua

Gua-gua yang dibangun oleh Jepang merupakan markas berlindung pasukan tentara Dai Nippon dan menjadi tempat utama berbagai macam kegiatan kemiliteran. Tempat yang dipilih selalu saja strategis dan tidak mudah ditemukan, salah satu contohnya adalah gua peninggalan Jepang di Biak, Papua. Lokasi gua satu ini terbilang cukup strategis dalam kondisi berperang. Besarnya ukuran menyebabkan cahaya matahari sulit menerobos masuk ke mulut gua, sehingga detail ruangan di dalam tidak tampak dari luar. Dari kawasan gua pengunjung dapat menembus ke wilayah pantai.

Meski seperti gua yang lain, tapi ada satu hal yang unik dari Gua Jepang Biak. Gua tersebut tidak dibangun oleh tentara Dai Nippon dengan sengaja, melainkan gua yang tercipta secata alami. Stalagtit yang menggantung di atap gua menandakan tidak ada campur tangan manusia dalam pembuatannya. Selain itu, peristiwa kelam di masa Perang Dunia Kedua juga menyelimuti Gua Jepang Biak. Puluhan hingga ratusan tentara Jepang diduga tewas di dalam gua karena bom yang dijatuhkan oleh Pasukan Sekutu. Ada banyak penduduk keturunan Jepang yang berziarah ke sini.

Gua Jepang Berbah – Yogyakarta

Gua peninggalan Jepang di Indonesia.

Yogyakarta merupakan kota yang cukup besar untuk diinvasi tentara Dai Nippon. Penguasa bumiputera seperti kesultanan dan kerajaan setempat juga cukup berpengaruh memberikan perlawanan. Oleh karenanya, Jepang harus hati-hati dalam melaksanakan mandat menguasai wilayah kota dengan tatar Jawa, seperti salah satunya yang sekarang terkenal dengan DIY atau Daerah Istimewa Yogyakarta itu. Taktik yang dipakai Jepang untuk menginvasi DIY adalah dengan membuat barak militer sebanyak-banyaknya untuk memenangkan pertempuran bila perlawanan bumiputera terjadi.

Sebabnya, tidak hanya satu gua yang dibangun. Selain Gua Jepang Kaliurang, ternyata ada gua peninggalan Jepang lainnya di Yogyakarta, yaitu Gua Jepang Berbah. Lokasinya terletak di Dusun Sentonorejo, Desa Jogotirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, DIY. Gua Jepang Berbah juga sering disebut Gua Jepang Sentonorejo, Jogotirto, atau Sleman. Tidak banyak orang yang membicarakan gua Jepang satu ini karena tidak menarik perhatian dan tidak cocok digunakan untuk berwisata. Tapi masih ada banyak orang yang menyambangi Gua Jepang Berbah sebagai tempat pembelajaran dan penelitian sejarah.

Gua Jepang Bandealit – Jawa Timur

Akiba-chan dan Akiba-kei sekali mesti tahu, Gua Jepang Bandealit terletak di ketinggian cukup tinggi, yakni 200 meter. Bagi yang punya fobia ketinggian, sebaiknya siapkan mental terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk naik. Di depan Gua Jepang Bandealit terdapat tumpukan batu yang dipakai tentara Dai Nippon untuk berlindung dari penyerangan musuh apabila musuh telah mengepung Teluk Bandealit. Keadaannya masih tersusun rapi hingga sekarang dan lumayan baik untuk dijadikan latar berfoto. Sejarah yang tersimpan juga terbilang menyita perhatian.

Baca juga: Kreatif! Orang Jepang Ini Menyulap Kereta Menjadi Sebuah Ruangan Yang Nyaman

Jika Minasan mengunjungi gua peninggalan Jepang yang berada di daerah Jawa Timur ini, maka keseluruhan Teluk Bandealit dapat terlihat secara jelas dari tempat tersebut. Pemandangan yang disuguhkan cukup indah, panorama pantai berpasir putih sepanjang kurang-lebih 3 kilometer dan ombak yang tidak terlalu besar bakal memanjakan mata. Setelah mengunjungi Gua Jepang Bandealit, Minna boleh menyempatkan diri mengunjungi pantai yang hanya bisa dipandangi dari gua tersebut. Di sana akan ada banyak hiburan, mulai dari berenang, naik perahu kano, hingga memancing.

Gua Jepang Liliba – Nusa Tenggara Timur

Objek wisata edukasi yang cukup diminati penduduk NTT adalah Gua Jepang Liliba. Lokasinya terletak di Kampung Nunleu, Kelurahan Liliba, Kecamatan Oebobo, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Terdapat enam lubang masuk rahasia yang terletak di tebing. Semak dan rerumputan menyapa pengunjung sebelum sampai di hadapan mulut gua. Meski pamornya kalah dengan Pantai Lasiana yang merupakan tujuan utama masyarakat Kupang ketika berlibur, namun banyak para pelajar menyambangi Gua Jepang Liliba untuk mengetahui sejarah di kota kelahirannya.

Sebelum rezim Belanda benar-benar angkat kaki dari Tanah Air, Jepang sempat berseteru dengan penguasa ‘mata biru’ tersebut di NTT. Untuk mempertahankan diri dari serangan Belanda dan tekanan Pasukan Sekutu, seperti biasa, tentara Dai Nippon membangun gua sebagai bentuk perlindungan. Gua Jepang Liliba pun terbentuk sekitar tahun 1942. Ada 4 mulut gua yang di dalamnya terdapat lorong yang menghubungkan satu gua dengan gua lainnya. Keempatnya menghadap ke arah barat. Gua Jepang Liliba lebih banyak digunakan untuk kepentingan berlindung ketimbang eksekusi.

Gua Jepang Kawangkoan – Sulawesi Utara

Ada banyak gua dan lorong bawah tanah yang dibangun pada masa kolonial terdahulu di Sulawesi Utara. Salah satu gua peninggalan Jepang yang terkenal di sini adalah Gua Jepang Kawangkoan. Gua ini cukup sederhana jika terlihat dari luar, akan tetapi ketika masuk ke dalam maka akan ada banyak cabang yang mungkin membuat bingung para pengunjung. Kondisi gua yang lembap dan dingin membuat Gua Jepang Kawangkoan menguarkan aura mistis yang begitu dahsyat. Orang-orang dengan klaustrofobia akut atau tidal suka tempat horor dianjurkan untuk tidak ikut masuk ke dalam gua bagian dari Minahasa ini.

Konon, pembantaian warga sipil, eksekusi mati tahanan perang, dan penyiksaan pekerja paksa Romusha paling banyak terjadi di Manado. Oleh sebab itu, ada banyak gua dan lorong tersembunyi di berbagai belahan kota besar ini. Banyak para ahli berpendapat jika selama perang, banyak penduduk setempat yang diculik, diperkosa, dan dibunuh satu per satu di tempat tersembunyi tersebut. Beberapa orang yang diketahui berpengaruh besar dalam tatanan masyarakat Sulawesi tidak segan untuk dieksekusi mati secara diam-diam. Jika saja satu per satu lorong dan gua bawah tanah itu bisa ditemukan serta diperbaiki, tentu akan menjadi objek wisata sejarah yang sangat menarik bagi para wisatawan.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here