Mengurai soal Genpuku terlebih dahulu.

Genpuku atau Genbuku (元服) adalah sebuah ritual khusus untuk para anak laki-laki di Jepang yang dianggap sudah memasuki masa dewasanya atau kalau di Indonesia bisa dibilang masa ‘Balig’. Dengan batas umur menginjak 15 tahun, seseorang keturunan bangsawan istana Negeri Bunga Sakura (Kuge) atau para pengawal tempurnya (Samurai) biasa menggunakan upacara Genpuku sebagai upacara simbolik yang amat sakral.

Upacara yang juga disebut Kakan atau Hatsukan (加冠) karena hiasan kepala atau mahkota khas yang disebut Kanmuri ini, digunakan pertama kalinya oleh anak laki-laki yang akan menjalani inisiasi tersebut. Sejak zaman Heain, Genpuku telah dikenal lama, tapi memasuki era Meiji, Genpuku mulai ditinggalkan dan tidak dipraktikkan lagi. Selain itu, juga ada tradisi Genpuku untuk para anak perempuan yang dikenal dengan nama “Mogi” (裳着).

Prosesi acara Genpuku yang tengah berlangsung
Prosesi acara Genpuku yang tengah berlangsung

Ritus atau upacara keagamaan Genpuku dilakukan tepat di depan kuil Shinto milik keluarga. Dengan pakaian adat Kimono dan Yukatta, orang yang menyaksikan akan duduk bertimpu ala Jepang dan melihat upacara ini sampai selesai. Anak laki-laki yang menjalani Genpuku akan menggunakan pakaian adat orang dewasa, tanda bahwa ia kini sudah layak untuk memakainya juga. Setelah masa kanak-kanaknya yang diisi dengan model rambut Mizura saja (gaya potongan rambut yang dibelah tengah dan sebagian diikat menutupi daun telinga), ia akan ditata dengan model rambut orang dewasa yang dinamai “Muri Shita no Motodori”, istilah untuk gaya rambut yang digelung ke atas. Selanjutnya sosok yang disebut “Eboshi-Oya” yaitu orang tua yang bersedia walinya akan segera memakaikan Kanmuri di atas kepalanya dengan khidmat.

Para anak keturunan bangsawan istana Jepang atau samurai dari klan Taira biasanya akan menggunakan model Hikimayu. Ialah make up putih tebal pada wajah dan alis mata yang digambar di dahi, sedangkan alis aslinya dicukur. Begitu pula Ohaguro, merupakan istilah untuk menghitamkan gigi, akan dijalani juga dalam prosesi tersebut. Namun, anak keturunan dari klan Minamoto, jarang sekali melakukan prosesi satu ini. Tidak Hikimayu, maupun Ohaguro.

Ilustrasi Genbuku bagi wanita
Ilustrasi Genpuku bagi wanita

Setelah prosesi Genpuku atau Genbuku usai, nama kehormatan (Imina) akan dipakai sebagai pengganti nama panggilan sewaktu kecil. Contohnya, Ushiwakamaru atau Shanaō adalah nama panggilan sewaktu kecil untuk Minamoto no Yoshitsune.

Sejak zaman Muromachi, tradisi Genpuku akhirnya meluas hingga ke kalangan rakyat biasa dan sipil. Anak laki-laki dari strata bawah tersebut untuk pertama kalinya dipakaikan cawat (Fundoshi) oleh orang yang disebut Heko-oya (Ayah Fundoshi).

Sejak zaman Edo pula, anak perempuan kemudian dapat mengikuti upacara Genpuku. Usia cukup umur untuk Genpuku bagi wanita adalah 18-20 tahun atau lebih muda bila wanita tersebut sudah menikah. Wanita yang menjalani prosesi Genpuku akan mengenakan kimono bercorak sederhana dengan model rambut yang disebut Marumage. Rias wajah yang digunakan pun lebih tebal dari Hikimayu. Gigi dihitamkan (Ohaguro) dengan bantuan tokoh orang tua yang disebut Kane-Oya. Bila gigi dihitamkan tetapi alis mata tidak dicukur, maka dinamakan Han-Genpuku atau Setengah Genpuku. Tradisi ini masih berlanjut di kalangan Maiko di distrik Gion (Kyoto), kota lama sekaligus sejarah di negera Jepang dan beberapa kawasan hiburan tradisional lainnya.

 

Wah-wah, menarik sekali ya, Minna-san? Adakah yang mau mencoba menghitamkan gigi dan mencukur alisnya? 🙂

Sepertinya ada sayup-sayup suara yang bilang tidak. Hahaha… Tapi, tak apalah. Yang terpenting saat masih balita kecil kita sudah menjalani prosesi tersebut. Walau dalam bentuk yang Indonesia punya dan tidak semuanya melakukan adat tradisi tersebut.

Ilustrasi Seppuku yg dilakukan samurai wanita
Ilustrasi Seppuku yg dilakukan samurai wanita

Baiklah, kali ini beralih ke Seppuku. Apa sih Seppuku itu?

Seppuku (切腹) secara harfiah dapat berarti “Potong Perut”. Yaitu sebuah ritual bunuh diri yang dilakukan dengan cara merobek perut secara zig-zag untuk memulihkan nama baik serta dianggap mati terhormat oleh para samurai Jepang. Weleh, kontras sekali ya, dengan Genpuku? Padahal kalau sekilas agak mirip pelafalannya.

Yok, lanjut. Mereka biasanya melakukan Seppuku setelah kegagalan saat melaksanakan tugas, seperti membunuh target atau dikepung musuh, sehingga daripada nama baiknya rusak dan mati ditangan orang lain, seorang samurai sering kali lebih memilih Seppuku untuk mengakhiri hidupnya. Kadang kala Seppuku juga digunakan sebagai hukuman pemerintah pada samurai yang melanggar aturan.

Pedang pendek yg biasa dipakai untuk Seppuku
Pedang pendek yg biasa dipakai untuk Seppuku

Seppuku sendiri sebenarnya ditulis dengan dua buah huruf kanji, yaitu: 切 (Kiru) dan 腹 (Hara). Aksara kanji pada kata “Kiru” dapat dibaca sebagai “Setsu” (ucapan Tionghoa) yang berarti “Potong”, sedangkan untuk “Hara” bisa dibaca juga sebagai “Fuku” (ucapan Tionghoa) yang berarti “Perut”. Seppuku atau yang bernama lain Harakiri ini adalah kode kehormatan yang dinamai Bushido.

Ritual Potong Perut ini lazim dilakukan di hadapan para saksi mata. Seorang samurai akan menusukkan sebilah pedang pendek bernama Tantō ke perutnya sendiri dan digerakan dari kiri ke kanan atau zig-zag, sehingga usus atau bagian dalam perut lain benar-benar koyak lalu keluar. Hiiih, betapa seramnya. *bergidik*

Mengikut data literatur yang tertulis, ikhtisar tindakan Seppuku pertama kali dilakukan oleh Minamoto no Yorimasa dalam Pertempuran Uji pada abad ke-11 atau tepatnya pada tahun 1180. Karena keberanian Minamoto no Yorimasa yang lebih baik mati di tangan sendiri dibanding tangan musuh, maka tradisi Seppuku dilakukan sebagai tanda kehormatan diri samurai.

Nah, itulah segenap informasi tentang Genpuku dan Seppuku, dua tradisi kuno dari Jepang yang sekilas agak mirip lafal pengucapannya, tapi ternyata sangat jauh berbeda.

Semoga kita semua dapat memetik pelajaran dari ini, bahwa terkadang harga diri seseorang lebih berharga dibanding kematian itu sendiri. 🙂 Sampai jumpa di artikel selanjutnya! Stay tune Akiba Nation!

SHARE
Previous articleGashadokuro : Kerangka Raksasa Pemakan Manusia
Next articleBukan HOAX Lagi, Akhirnya Film Trilogi “Kizumonogatari” Akan Dilanjutkan
Winata SilenceAngelo merupakan seorang penulis remaja yang lahir pada 3 September 1997 di kota Karawang. Kecintaannya terhadap diksi yang melankolis serta menyentuh mengantarkannya ke dunia kepenulisan. Pada umurnya yang masih sangat muda ini, ia berhasil meraih beberapa penghargaan sastra serta menjadi kontributor dari buku-buku puisi. Menurut Winata, dalam sebuah naskah, entah itu novel, cerpen, esai, puisi, atau sekadar kata-kata, yang terpenting adalah unsur amanat. Seperti ketajaman pada ujung mata pedang, amanat merupakan apa yang menjadi tolak ukur suatu seni. Di sanalah segala dari pemikiran sang penulis bermuara, hingga kemudian menunjukan keindahannya dengan sangat artistik.