Sebuah cerita unik kemarin dimuat dalam Asahi Shinbun. Kali ini mimin nggak akan membahas tentang nama bayi populer atau cerita mengharukan ibu guru kok. Tapi mimin akan membagikan cerita mengenai seorang ibu yang gregetan sama pekerjaan sampingan anaknya yang berhubungan dengan ero game.

Baca Juga: Ditanya Tentang Jodoh, Jawaban Anak SD Jepang Ini Bikin Tercengang!

Di jepang, bila orang tua membiayai kuliah anak adalah sebuah hal wajar. Selama mereka mampu mereka akan mengusahakan apapun agar anaknya sekolah. Bila mereka nggak sanggup pun mereka akan berusaha cari jalan keluar, bukan serta merta langsung pasrah sih. Apasih tujuannya? Ya tentu saja sama kayak orang tua lainnya, biar anaknya dapat kerja yang layak dan memiliki kehidupan lebih baik.

Tak heran bila anaknya sudah dilirik perusahaan besar sebelum lulus bisa menjadi kebanggan tersendiri. Nah, ini cerita tentang seorang ibu di jepang dan anak lelakinya, sebut saja namanya Mama-san.

 

Mama-san punya anak lelaki yang saat ini sedang kuliah di universitas cukup ternama. Ia menuturkan bahwa tidak terlalu menuntut anaknya untuk segera bekerja setelah lulus kuliah. Mama-san lebih suka mensupport keinginan anaknya, termasuk cita-cita sang anak untuk mendirikan sebuah perusahaan game sendiri.

Baca Juga: Arogan dan Marah Kepada Karyawan, Manager Jepang Ini Malah Dipecat

Anak Mama-san ini sudah sejak SMA menjadi seorang otaku. Dengan tekad yang tinggi itulah ia berjuang keras berkuliah di bidang favoritnya. Sampai saat ini, Mama-san bercerita bahwa sebenarnya si anak sudah bekerja di perusahaan video meskipun belum menjadi pegawai tetap (full-time). Namun Mama-san malah sebal dan khawatir karena anaknya sudah bekerja.

Bukan karena ia tidak lagi mendukung cita-cita sang anak tetapi karena anaknya bekerja di perusahaan game yang menurutnya “salah”. Yaitu pembuatan Ero Game.

ero game

“Aku tau anak ku bekerja untuk membuat game golongan dewasa (ero game). Di game itu tokoh utamanya seorang perawat. Itu salah…. menurutku. Bayangkan bila seorang perawat melihat game itu pasti dia akan merasa sedih dan tersakiti.” Mama-san merasa pembuatan ero game tersebut dapat menyakiti perasaan perawat asli yang seolah pekerjaannya dilecehkan didalam game.

“Aku juga sudah bilang kepada anakku untuk berhenti membuat game semacam itu. Tapi dia tidak mau mendengarkan.” tambahnya lagi

Sementara itu, diwawancarai terpisah, sang anak menegaskan bahwa ia tidak mungkin memiliki karier di industri anime game tanpa pernah mengerjakan konten pornografi.

“Game seperti ini memiliki efek sosial dapat mencegah kejahatan, dan itu bukan untuk konsumsi anak-anak, jadi aku rasa tidak ada salahnya membuat ero game. Lagian rekan kerjaku disini semuanya baik. Tidak ada yang jahat.” tukas sang anak

Perselihihan ibu-anak ini masih terjadi dan yang lebih mengagetkan, Mama-san berkata akan berhenti memberikan biaya untuk study sang anak. Bahkan juga mengancam akan mencoret nama anaknya dari kartu keluarga bila tetap nekat membuat ero game.

 

Untunglah, Toshio Okada, founder Gainax akhirnya ikut memberikan solusi. Menurut Okada-San memang tidak sepenuhnya salah membuat ero game. Karena industri animanga selalu mengalami pasang surut. Saat sedang surut dan mengalami keuangan yang tidak stabil banyak perusahaan jepang menyelamatkan gaji pegawainya dari hasil penjualan ero game. Jadi bila Mama-san ingin cita-cita anaknya tercapai tidak apa-apa bila saat ini tetap mensupportnya.

Namun bila memang tidak dapat ditoleransi lagi Okada-san meminta agar masalah itu dibicarakan dulu dengan kepala dingin. Tidak serta merta memutus biaya sekolah apalagi mencoret nama anak dari keluarga. 😀 Waduh… lumayan ruwet juga ya minna… ternyata di jepang pun ada masalah keluarga yang sangat kompleks seperti ini. Sampai dibawah ke ranah publik lagi.

Comments

Loading...