Soal kisah dari sosok yang tak kasat mata, Jepang memang tidak pernah kehabisan cerita. Kembali lagi dengan kisah youkai khas yang hanya bisa ditemukan di Jepang. Hantu, roh, dan siluman di Negeri Bunga Sakura ini bisa memiliki berbagai bentuk dan beragam jenisnya. Legenda dan mitos yang beredar pun tidak pernah habis.

Akiba – chan dapat melakukan suatu ritual untuk kemudia melihat jodoh di masa depan. Akiba – kei bisa sedang berjalan seorang diri ketika tiba – tiba muncul sosok mirip manusia yang lehernya terus memanjang sampai menggigit leher korbannya. Ada sosok – sosok binatang yang dianggap suci. Ada pula siluman berbentuk binatang sampai kerangka yang lahir karena dendam dengan kehidupan. Salah satu kisah yang akan dibahas kali ini adalah tentang Gagoze, sosok reiki yang telah sukses menghantui Kuil Gangou – ji sebelum akhirnya berhasil diatasi.

Tidak seperti makhluk – makhluk gaib Jepang pada umumnya yang tersebar ke berbagai penjuru daerah atau negara, Gagoze hanya ditemukan menghantui kuil Gangou – Ji. Ceritanya ditemukan pada saat Periode Asuka (sekitar 550 – 710 CE). Ilustrasi pertamanya muncul di dalam Toriyama Sekien’s Gazu Hyakki Yakko. Sosok ini digambarkan mengenakan pakaian jubah biarawan dan merangkak dengan tangan dan kakinya.

Legendanya, kisah Gagoze ini bermula saat seorang anak ajaib lahir. Pada sekitar tahun 550an, di Provinsi Owari lama (saat ini bernama Nagoya), sebuah petir menyambar dekat dengan rumah seorang petani. Ternyata, dari bekas sambaran petir tersebut ada seorang anak laki – laki. Anak lelaki tersebut merupakan jelmaan Dewa Petir yang entah kenapa bisa jatuh ke bumi dalam wujud manusia. Sang petani yang mengetahui hal itu merasa panik dan mulai mengangkat tongkatnya untuk memukuli sang Dewa sampai mati.

Dewa Petir yang melihat ancang – ancang si petani memohon agar petani tersebut tidak membunuhnya. Ia mengatakan bahwa jika sang petani dan istri membiarkannya hidup serta membantunya untuk kembali ke langit, ia akan menganugrahi mereka dengan seorang putra yang memiliki kekuatan sama dengan Dewa Petir. Akhirnya petani itu pun setuju dan menurunkan tongkatnya. Ia bahkan juga membantu Sang Dewa untuk membuat perahu yang akan membawanya kembali ke langit atau surga.

Tidak lama kemudian, Sang Dewa telah kembali ke tempatnya berkat bantuan Pak Tani yang baik hati. Beberapa waktu setelah kepergiannya, istri petani tersebut hamil dan sembilan bulan kemudian melahirkan seorang anak laki – laki. Uniknya, anak itu lahir dengan ular yang melilit kepalanya. Ternyata Dewa tersebut telah menepati janjinya. Anak laki – laki petani itu memiliki kekuatan yang sama seperti Dewa Petir.

Anak itu terus menjadi kuat seiring dengan berjalannya waktu. Pada saat usinya menginjak 10 tahun, ia menantang seseorang dari kalangan atas untuk adu kekuatan dan berhasil memenangkan pertandingan. Penampilan akan kekuatannya dalam kontes tersebut ternyata telah berhasil merebut perhatian dari orang – orang kalangan atas. Akhirnya anak laki – laki itu ditarik untu “magang” di Gangou – ji.

Tidak lama setelah si anak petani magang di sana, anak – anak magang lainnya mulai ditemukan tewas satu – persatu. Setiap pagi, selalu ditemukan mayat baru dari para anak magang yang tewas mengenaskan di bawah menara kuil. Berita itu pun sampai ke telinga masyarakat dan meluas. Rumor dan desas – desus tentang keamanan kuil serta adanya campur tangan setan mulai merebak. Pihak kuil menyatakan bahwa ada kekuatan jahat yang menyusup masuk ke dalam kuil setiap malam untuk melakukan pembunuhan tersebut. Sebuah rencana untuk menghentikan semua kekacauan itu dan menagkap makhluk yang tidak bertanggung jawab tersebut pun akhirnya terucap.

Seperti yang dapat ditebak, anak laki – laki petani yang dianugrahi kekuatan oleh Sang Dewa Petir itu sendirilah yang menawarkan ketersediaannya untuk mengemban tugas mengembalikan kemaslahatan kuil dan masyarakatnya. Rencana disusun, formasi dibagi, dan doa dipanjatkan untuk melakukan operasi tersebut. Sang anak laki – laki yang kelewat pemberani itu pun menunggu malam tiba, siap untuk menangkan apa saja yang telah membunuh teman – teman seperjuangannya di Gingou – ji.

Sang anak laki – laki meletakkan empat buah lentera di masing – masih sudut menara lonceng tempat mayat – mayat biasanya ditemukan setiap pagi. Di sana, ia meminta tolong kepada biarawan yang lebih tua untuk menunggu di masing – masing sudut bersama dengan lentera, untuk kemudia membuka lentera tersebut ketika ia sudah berhasil menangkan makhluk jahat yang menjadi ancaman kuil selama ini.

Ketika semua siap, mereka sama – sama menunggu kemunculan makhluk itu. Saat tengah malam tiba, munculah sosok bungkuk yang masuk ke dalam menara. Sayangnya, makhluk tersebut melihat kehadiran si anak laki – laki dan langsung buru – buru keluar dari ruangan itu.

Selang beberapa jam kemudian, Gagoze yang merasa lapar pun kembali masuk ke ruangan. Kali ini si anak laki – laki tidak mensia – siakan kesempatan yang ada. Ia langsung menyerang dan menahan reiki itu dengan kekuatan pemberian dewanya. Sayangnya, para biarawan yang sudah diberi tugas untuk membuka tutup lentera saat pembuat onarnya tertangkap, terlalu ketakutan untuk bergerak.

Akhirnya si anak berjalan sendiri sambil menyeret Gagoze. Ia membuka sendiri satu persatu penutup lentera dengan Gagoze yang terus memberontak. Cahaya lampu menampilkan bahwa sosok yang sedang ditahannya adalah sesosok reiki. Melihat cahaya, Gagoze semakin memberontak dan berhasil melepaskan diri, dengan meninggalkan rambut beserta kulit kepala yang menempel di tangan si anak petani.

Keesokan harinya, para biarawan mengikuti jejak darah yang ditinggalkan makhluk tersebut. Jejak darah itu mengarah ke makam mantan pelayan di kuil itu. Pelayan itu semasa hidupnya dikenal sebagai orang yang malas dan licik. Ruh pelayan itu bertransformasi menjadi sosok jahat setelah kematiannya. Setelah kejadian itu, Gagoze tidak pernah kembali lagi ke Gangou – ji.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here